Headline
Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.
Kumpulan Berita DPR RI
TAHUKAH Anda jika jutaan tahun lalu, nenek moyang manusia memiliki ekor seperti monyet? Namun, kenapa manusia modern sekarang tidak memilikinya? Sebuah penelitian yang diterbitkan di jurnal Nature mengungkap bahwa mutasi genetik tertentu menjadi penyebab utama hilangnya ekor pada leluhur manusia sekitar 25 juta tahun lalu.
Para ilmuwan menemukan perubahan khusus pada gen bernama TBXT, yaitu gen yang mengatur panjang ekor pada hewan. Di dalam gen ini, ada dua potongan DNA unik yang disebut elemen Alu. Potongan DNA ini hanya ada pada manusia dan kera besar, tetapi tidak ditemukan pada monyet.
Menariknya, elemen Alu tidak berada di bagian gen yang membuat protein, melainkan di bagian lain yang disebut intron. Dulu, intron dianggap tidak memiliki fungsi penting. Namun, dalam gen TBXT, elemen Alu justru mengubah cara gen tersebut bekerja, sehingga tubuh tidak lagi membentuk ekor.
Elemen Alu dikenal sebagai transposable elements atau “gen melompat”, karena bisa berpindah dan menyisipkan diri ke berbagai bagian DNA. Saat sel menggunakan gen TBXT untuk membentuk RNA, sifat berulang dari elemen Alu membuatnya saling menempel dan membentuk struktur kompleks.
Struktur ini menyebabkan satu bagian penting gen, yaitu ekson, ikut terpotong saat proses pembentukan RNA. Akibatnya, protein yang dihasilkan menjadi berbeda dari seharusnya. Perubahan inilah yang membuat tubuh nenek moyang manusia tidak lagi membentuk ekor seperti sebelumnya.
Untuk memastikan temuan tersebut, para peneliti menyisipkan elemen Alu yang sama ke dalam gen TBXT milik tikus. Hasilnya, tikus-tikus tersebut kehilangan ekornya.
Selain itu, gen TBXT pada manusia dapat menghasilkan lebih dari satu jenis protein melalui proses yang disebut alternative splicing. Tikus hanya memiliki satu versi protein, sedangkan manusia memiliki dua. Kombinasi ini diyakini mencegah pertumbuhan ekor.
Para ahli evolusi meyakini bahwa hilangnya ekor berperan besar dalam kemampuan manusia untuk berjalan dengan dua kaki atau bipedalisme. Tanpa ekor, struktur tulang belakang dan panggul berevolusi sehingga lebih stabil untuk posisi tegak.
“Kita sekarang berjalan dengan dua kaki, memiliki otak besar, dan menggunakan teknologi. Semua itu berawal dari satu elemen genetik yang menyusup ke dalam intron sebuah gen,” ujar salah satu penulis senior dalam penelitian ini, Itai Yanai dilansir dari Live Science.
Meski membawa keuntungan evolusioner, mutasi ini juga memiliki konsekuensi. Tikus tanpa ekor dalam eksperimen menunjukkan tingkat spina bifida yang lebih tinggi, yaitu cacat lahir pada tabung saraf yang membentuk otak dan sumsum tulang belakang.
Pada manusia, spina bifida terjadi pada sekitar 1 dari 1.000 kelahiran. Para peneliti menduga bahwa perubahan pada gen TBXT meningkatkan risiko kegagalan penutupan tabung saraf secara sempurna. (Live Science/Z-10)
Perubahan lahan menjadi permukiman, tempat wisata, dan pembangunan fasilitas lain memaksa monyet ekor panjang mencari lokasi baru yang menyediakan pakan.
Capuchin (Cebus imitator) merupakan hewan omnivora yang sering memangsa vertebrata kecil seperti kadal, tupai, burung, hingga anak coati.
Jaga perlintasan hewan terutama tupai dan tikus karena bisa menginfeksi inang lain yaitu monyet.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved