Headline

Faktor penyebab anak mengakhiri hidup bukan tunggal.

Lebih dari Sekadar Warna, Pigmen Oranye Ternyata Menjadi Perisai Sel Tubuh

Thalatie K Yani
15/1/2026 10:00
Lebih dari Sekadar Warna, Pigmen Oranye Ternyata Menjadi Perisai Sel Tubuh
Ilustrasi(freepik)

SELAMA ini, pigmen oranye pada bulu burung atau rambut merah pada manusia sering dianggap sebagai risiko evolusi. Pigmen bernama pheomelanin ini kerap dikaitkan dengan peningkatan stres seluler dan risiko kanker kulit (melanoma) yang lebih tinggi. Namun, sebuah penelitian terbaru menunjukkan sudut pandang yang mengejutkan, dalam kondisi tertentu, pigmen ini justru berfungsi melindungi sel tubuh.

Penelitian yang dipimpin Dr. Ismael Galvan dari Dewan Riset Nasional Spanyol (CSIC) mencoba memecahkan teka-teki evolusi ini. Mengapa pigmen yang dianggap berbahaya ini tetap bertahan luas di alam? Melalui studi terhadap 65 burung zebra finch, tim ilmuwan menemukan pewarnaan oranye bukan sekadar sinyal visual, melainkan strategi seluler untuk mengelola asupan nutrisi tertentu.

Masalah Kelebihan Sistein

Kunci dari temuan ini terletak pada asam amino bernama sistein. Tubuh menggunakan sistein untuk membangun protein. Namun jika jumlahnya berlebih, zat ini bisa menjadi racun dan memicu kerusakan kimiawi yang disebut disulfidptosis, sejenis kematian sel akibat stres disulfida.

Karena pheomelanin (pigmen oranye) berbahan dasar sistein, memproduksi lebih banyak pigmen ini ternyata dapat "mengunci" kelebihan sistein ke dalam bentuk yang stabil dan tidak berbahaya.

Eksperimen pada Zebra Finch

Untuk membuktikan hipotesis ini, tim Dr. Galvan memberikan suplemen sistein dalam air minum burung finch selama satu bulan. Sebagian burung jantan juga diberikan obat bernama ML349 untuk memblokir sintesis pigmen oranye mereka.

Hasilnya sangat kontras:

  • Burung Jantan: Burung yang memproduksi pigmen oranye mampu menetralisir kelebihan sistein. Sebaliknya, burung yang produksi pigmennya diblokir menunjukkan tingkat kerusakan lemak (oksidasi) yang lebih tinggi dalam darah mereka.
  • Burung Betina: Karena zebra finch betina secara alami tidak memiliki bulu oranye, mereka tidak punya "katup pengaman" ini. Saat diberi asupan sistein berlebih, tingkat kerusakan sel mereka meningkat drastis.

"Hasil ini menunjukkan bahwa sintesis pheomelanin menghindari kerusakan sel dengan membuang kelebihan sistein ke struktur keratin lembam seperti bulu," papar Dr. Galvan.

Implikasi bagi Manusia

Temuan ini memberikan perspektif baru bagi manusia berambut merah. Meski penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa jalur pheomelanin dapat meningkatkan risiko melanoma bahkan tanpa paparan sinar UV, studi pada burung ini menunjukkan bahwa diet dan metabolisme dapat memengaruhi risiko tersebut.

Pigmen oranye tampaknya bertahan dalam proses seleksi alam karena fungsinya sebagai pengelola stres seluler harian, tergantung pada diet dan kondisi lingkungan. Ini menjelaskan mengapa pola warna merah dan oranye sering muncul kembali pada berbagai spesies burung, mamalia, hingga reptil.

Langkah selanjutnya, para peneliti akan mengeksplorasi apakah kulit manusia juga mengandalkan jalur penyimpanan berbasis pigmen yang serupa. Studi ini telah dipublikasikan dalam jurnal PNAS Nexus. (Earth/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya