Headline
Faktor penyebab anak mengakhiri hidup bukan tunggal.
Kumpulan Berita DPR RI
SELAMA ini, pigmen oranye pada bulu burung atau rambut merah pada manusia sering dianggap sebagai risiko evolusi. Pigmen bernama pheomelanin ini kerap dikaitkan dengan peningkatan stres seluler dan risiko kanker kulit (melanoma) yang lebih tinggi. Namun, sebuah penelitian terbaru menunjukkan sudut pandang yang mengejutkan, dalam kondisi tertentu, pigmen ini justru berfungsi melindungi sel tubuh.
Penelitian yang dipimpin Dr. Ismael Galvan dari Dewan Riset Nasional Spanyol (CSIC) mencoba memecahkan teka-teki evolusi ini. Mengapa pigmen yang dianggap berbahaya ini tetap bertahan luas di alam? Melalui studi terhadap 65 burung zebra finch, tim ilmuwan menemukan pewarnaan oranye bukan sekadar sinyal visual, melainkan strategi seluler untuk mengelola asupan nutrisi tertentu.
Kunci dari temuan ini terletak pada asam amino bernama sistein. Tubuh menggunakan sistein untuk membangun protein. Namun jika jumlahnya berlebih, zat ini bisa menjadi racun dan memicu kerusakan kimiawi yang disebut disulfidptosis, sejenis kematian sel akibat stres disulfida.
Karena pheomelanin (pigmen oranye) berbahan dasar sistein, memproduksi lebih banyak pigmen ini ternyata dapat "mengunci" kelebihan sistein ke dalam bentuk yang stabil dan tidak berbahaya.
Untuk membuktikan hipotesis ini, tim Dr. Galvan memberikan suplemen sistein dalam air minum burung finch selama satu bulan. Sebagian burung jantan juga diberikan obat bernama ML349 untuk memblokir sintesis pigmen oranye mereka.
"Hasil ini menunjukkan bahwa sintesis pheomelanin menghindari kerusakan sel dengan membuang kelebihan sistein ke struktur keratin lembam seperti bulu," papar Dr. Galvan.
Temuan ini memberikan perspektif baru bagi manusia berambut merah. Meski penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa jalur pheomelanin dapat meningkatkan risiko melanoma bahkan tanpa paparan sinar UV, studi pada burung ini menunjukkan bahwa diet dan metabolisme dapat memengaruhi risiko tersebut.
Pigmen oranye tampaknya bertahan dalam proses seleksi alam karena fungsinya sebagai pengelola stres seluler harian, tergantung pada diet dan kondisi lingkungan. Ini menjelaskan mengapa pola warna merah dan oranye sering muncul kembali pada berbagai spesies burung, mamalia, hingga reptil.
Langkah selanjutnya, para peneliti akan mengeksplorasi apakah kulit manusia juga mengandalkan jalur penyimpanan berbasis pigmen yang serupa. Studi ini telah dipublikasikan dalam jurnal PNAS Nexus. (Earth/Z-2)
Studi menemukan variasi gen MC1R memengaruhi kecepatan penyembuhan luka, dengan potensi pengembangan terapi topikal untuk mempercepat perbaikan jaringan.
Kombinasi bodi ramping dan otot yang kuat memungkinkan walet melakukan penerbangan jarak jauh tanpa kelelahan yang berarti.
Tahukah Anda jika jutaan tahun lalu, nenek moyang manusia memiliki ekor seperti monyet? Namun, kenapa manusia modern sekarang tidak memilikinya?
Bagaimana nasib Bumi jika manusia punah? Profesor Tim Coulson dari Universitas Oxford menjelaskan kemungkinan munculnya spesies baru.
Asal-usul ular telah lama menjadi misteri besar dalam dunia sains. Bagaimana makhluk tanpa kaki ini berevolusi dari nenek moyang kadal berkaki empat masih menjadi perdebatan panjang.
Para ilmuwan berhasil menyusun kembali bentuk asli tengkorak manusia berusia sekitar satu juta tahun yang ditemukan di Tiongkok.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved