Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Gen Rambut Merah Berpengaruh pada Penyembuhan Luka

Thalatie K Yani
20/11/2025 08:50
Gen Rambut Merah Berpengaruh pada Penyembuhan Luka
Ilustrasi(freepik)

SEBUAH studi terbaru menemukan warna rambut ternyata berkaitan dengan mekanisme penyembuhan luka. Temuan ini menyoroti peran gen MC1R, yang mengatur keseimbangan produksi pigmen eumelanin (cokelat-hitam) dan pheomelanin (merah-kuning) pada folikel rambut sekaligus memengaruhi respons peradangan pada kulit.

Sebagian besar pemilik rambut cokelat atau hitam membawa varian MC1R yang aktif. Sedangkan hampir semua rambut merah memiliki varian yang membuat gen tersebut bekerja sebagian atau bahkan tidak aktif sama sekali. Perbedaan aktivitas ini diyakini turut memengaruhi efisiensi tubuh dalam menangani peradangan awal yang menjadi tahap penting dalam penyembuhan luka.

Perbedaan Penyembuhan Luka Terlihat Jelas pada Percobaan Mencit

Peneliti dari University of Edinburgh menguji hipotesis ini melalui model sederhana. Mereka membuat luka melingkar kecil berdiameter 4 milimeter pada dua kelompok mencit, satu berbulur hitam dengan MC1R aktif dan satu lagi berbulur merah dengan MC1R tidak berfungsi.

Setelah tujuh hari, hasilnya menunjukkan perbedaan signifikan. Luka pada mencit berbulu merah mengecil sekitar 73%, sedangkan pencitraan pada kelompok berbulu hitam menunjukkan penyusutan hingga sekitar 93% dari ukuran awal. Temuan ini sejalan dengan fungsi biologis MC1R sebagai pengendali peradangan, ketika gen tidak aktif, peradangan cenderung bertahan lebih lama dan menghambat tahap pembentukan jaringan baru.

Mengakselerasi Penyembuhan dengan Krim Eksperimental

Tim peneliti kemudian mencoba pendekatan sebaliknya: apakah peningkatan aktivitas MC1R dapat mempercepat penyembuhan luka? Mereka menguji krim eksperimental yang dirancang untuk meningkatkan sinyal pada MC1R yang masih berfungsi. Obat ini tidak bekerja pada varian yang benar-benar tidak aktif.

Dalam percobaan lanjutan, luka pada mencit berbulu hitam diberi perawatan menggunakan krim tersebut di bawah balutan. Setelah seminggu, luka yang diberi krim mengalami penyusutan sekitar 63%, lebih dari dua kali lipat dibandingkan kelompok yang hanya diberi saline. Analisis laboratorium menunjukkan lebih sedikit sel imun proinflamasi pada daerah luka, memberi ruang lebih cepat bagi proses pembentukan jaringan.

Potensi Penerapan pada Kulit Manusia

Meski kulit manusia dan mencit tidak sepenuhnya identik, tahapan penyembuhan luka dinilai cukup serupa. Para peneliti optimistis pendekatan ini dapat diterapkan pada manusia, termasuk banyak individu berambut merah yang umumnya memiliki MC1R dengan sebagian fungsi yang masih bisa diperkuat. Mereka dengan MC1R yang sepenuhnya tidak aktif kemungkinan membutuhkan strategi medis lain.

Para ahli tetap mengingatkan temuan ini masih bersifat preklinis. Diperlukan uji klinis terkontrol untuk memastikan keamanan dan efektivitas, terutama pada luka kronis yang rentan infeksi atau memiliki biofilm. Faktor usia, nutrisi, tekanan pada jaringan, hingga kondisi penyakit seperti diabetes juga berperan besar dalam penyembuhan.

Meskipun demikian, penelitian ini memberikan wawasan penting: waktu peradangan dalam penyembuhan adalah kunci. MC1R tampaknya menjadi salah satu pengatur penting dalam proses tersebut, dan terapi topikal yang mampu mengaktifkannya dapat membuka jalan baru dalam perawatan luka. (Earth/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya