Headline
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Kumpulan Berita DPR RI
BAGI sebagian besar orang, bekas luka atau scar dianggap sebagai masalah estetika semata. Di balik permukaan kulit, jaringan parut ternyata menyimpan risiko yang jauh lebih serius. Di Amerika Serikat, diperkirakan sekitar 45% kematian disebabkan fibrosis atau pembentukan jaringan parut pada organ vital seperti paru-paru, hati, dan jantung.
Menariknya, dunia kedokteran telah lama mengamati sebuah fenomena unik. Luka pada wajah cenderung sembuh lebih baik dan jarang meninggalkan bekas dibandingkan luka di bagian tubuh lainnya. Penelitian terbaru dari Stanford Medicine yang diterbitkan dalam jurnal Cell kini berhasil mengungkap alasan mekanis di balik fenomena tersebut.
Perbedaan ini bukan sekadar keberuntungan. Secara perkembangan janin, jaringan dari leher ke atas berasal dari sel yang disebut neural crest. Sel-sel ini ternyata memiliki jalur penyembuhan yang lebih mengarah pada regenerasi daripada pembentukan parut.
"Wajah adalah aset utama tubuh," ujar Dr. Michael Longaker. "Kita perlu melihat, mendengar, bernapas, dan makan. Sebaliknya, luka pada tubuh harus sembuh dengan cepat agar individu tetap bisa bertahan hidup meskipun jaringan parutnya tidak berfungsi seperti jaringan normal."
Melalui studi pada tikus, peneliti mengidentifikasi sel pembentuk parut bernama fibroblas. Pada wajah, terdapat protein bernama ROBO2 yang menjaga sel-sel ini tetap dalam kondisi "awet muda" dan tidak agresif membentuk parut.
Tim peneliti juga menemukan protein lain, EP300, yang justru mendorong ekspresi gen penyebab fibrosis (penebalan jaringan). Dengan memblokir aktivitas EP300 menggunakan molekul kecil, luka pada bagian punggung dapat sembuh dengan halus layaknya luka di wajah.
"Hanya dengan mengubah sedikit sel (sekitar 10% hingga 15%), kita bisa memicu rangkaian peristiwa yang mengubah total pola penyembuhan," kata Dr. Dayan J. Li, ahli dermatologi yang terlibat dalam riset tersebut.
Kabar baiknya, molekul penghambat EP300 saat ini sudah dipelajari dalam penelitian kanker. Hal ini memberikan jalan pintas bagi para peneliti untuk menguji apakah strategi serupa dapat digunakan secara aman untuk memandu penyembuhan luka manusia pascaoperasi atau trauma.
"Sekarang setelah kita memahami jalur ini, kita mungkin dapat meningkatkan kualitas penyembuhan luka setelah pembedahan," ujar Dr. Derrick Wan.
Para ilmuwan meyakini mekanisme ini tidak hanya berlaku untuk kulit, tetapi juga bisa diterapkan untuk mengobati atau mencegah jaringan parut pada organ dalam yang sering kali bersifat mematikan. Penemuan ini menjadi harapan baru bagi dunia medis untuk menciptakan masa depan di mana luka bisa sembuh sempurna tanpa meninggalkan jejak. (Earth/Z-2)
Ikan gabus (channa striata) kaya albumin dan antioksidan alami yang berperan penting dalam proses penyembuhan luka dan regenerasi jaringan
Studi menemukan variasi gen MC1R memengaruhi kecepatan penyembuhan luka, dengan potensi pengembangan terapi topikal untuk mempercepat perbaikan jaringan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved