Headline
Pemerintah tetapkan 1 Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026.
Kumpulan Berita DPR RI
MATAHARI masih menyimpan banyak misteri, termasuk fenomena yang membingungkan ilmuwan: mengapa korona, lapisan atmosfer luar matahari, lebih panas dibandingkan permukaannya. Selain itu, angin matahari, aliran partikel bermuatan yang berasal dari matahari, juga belum sepenuhnya dipahami, terutama mengenai mekanisme akselerasinya.
Untuk menjawab berbagai teka-teki ini, NASA merencanakan misi besar pada 27 Februari 2025, menggunakan roket SpaceX Falcon 9 untuk meluncurkan misi PUNCH (Polarimeter to Unify the Corona and Heliosphere).
Misi PUNCH akan mengorbit Bumi pada ketinggian rendah bersama observatorium SPHEREx milik NASA, yang juga akan diluncurkan dalam rangkaian yang lebih besar. Tujuan dari PUNCH adalah untuk mempelajari matahari dengan fokus pada korona dan angin matahari, dua aspek utama dalam heliofisika.
Craig DeForest, penyelidik utama PUNCH dari Southwest Research Institute, menjelaskan misi ini adalah yang pertama dirancang khusus untuk menyatukan dua bidang penting dalam fisika matahari dan angin matahari.
PUNCH terdiri dari empat satelit kecil yang bekerja sama untuk menciptakan observasi 3D dari heliosfer bagian dalam, wilayah besar yang mengelilingi matahari. Heliopause, batas dari heliosfer, memisahkan pengaruh angin matahari dari ruang angkasa antar bintang.
Joe Westlake, direktur Divisi Heliophysics NASA, menyebut PUNCH sebagai penghubung penting yang akan mengungkap hubungan antara korona dan heliosfer, yang dapat membantu memprediksi cuaca ruang angkasa dan peristiwa aurora yang menakjubkan, namun juga berpotensi berbahaya bagi teknologi dan jaringan listrik di Bumi.
Berbeda dengan misi satelit tunggal, PUNCH terdiri dari konstelasi empat satelit yang akan ditempatkan di berbagai posisi orbit rendah Bumi. Tim ilmuwan memutuskan untuk menggunakan empat satelit untuk mengatasi tantangan dalam mengamati daerah yang berbeda, baik dekat dengan matahari maupun lebih jauh dari matahari.
DeForest menjelaskan, instrumen yang mempelajari area dekat matahari akan terpapar cahaya terang, sedangkan yang lebih jauh akan menghadapi tantangan karena terhalang oleh Bumi. Solusi yang dipilih adalah dengan menyebarkan instrumen di beberapa satelit untuk mendapatkan sudut pandang yang luas.
Satelit ketiga dalam konstelasi PUNCH adalah polarimeter yang memiliki kemampuan mengukur cahaya terpolarisasi, menggunakan teknologi serupa dengan cara Event Horizon Telescope menangkap gambar lubang hitam pertama. Instrumen ini memungkinkan PUNCH untuk memetakan sistem matahari dalam tiga dimensi secara akurat, mempelajari bagaimana angin matahari bergerak dan mempengaruhi heliosfer.
PUNCH bukan hanya sekadar misi untuk memahami matahari, tetapi juga akan merevolusi cara kita memprediksi cuaca ruang angkasa. Seiring dengan data dari Parker Solar Probe, misi ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih baik tentang perilaku angin matahari dan dampaknya terhadap sistem tata surya kita. Ini sangat penting untuk memprediksi badai matahari yang dapat memengaruhi satelit, jaringan listrik, serta astronot di luar angkasa.
DeForest menambahkan PUNCH juga akan menghasilkan peta bintang polarimetri yang sangat rinci, memberikan data baru untuk astronomi dan membuka peluang penelitian lebih lanjut di bidang heliosfer dan ruang angkasa.
Dengan misi PUNCH, NASA berambisi mengungkap lebih banyak tentang matahari dan ruang angkasa yang akan memberikan manfaat penting, tidak hanya untuk ilmu pengetahuan, tetapi juga untuk perlindungan teknologi Bumi dari ancaman cuaca ruang angkasa. (space/Z-3)
Empat satelit PUNCH berhasil menempati posisi orbit yang direncanakan di sekitar bumi untuk mendapatkan pandangan ke arah matahari.
NASA akan meluncurkan dua misi luar angkasa besar pada 2 Maret 2025, yaitu PUNCH dan SPHEREx.
Komet C/2026 A1 (MAPS), anggota Kreutz sungrazer yang langka, diprediksi dapat bersinar terang di langit Bumi pada April 2026, seterang Venus, jika bertahan dari panas Matahari.
Sebuah komet baru yang melesat menuju Matahari disebut berpotensi menjadi “Komet Besar” pada April mendatang. Komet itu bernama C/2026 A1 (MAPS).
Flare Matahari merupakan ledakan besar energi elektromagnetik yang terjadi akibat perubahan mendadak pada medan magnet di atmosfer Matahari.
Gerhana ini tidak aman untuk dilihat tanpa pelindung mata dengan filter matahari.
Perbedaan kecepatan ini menciptakan tegangan magnetik yang luar biasa. Plasma yang bergerak lebih cepat di ekuator "menarik" garis-garis medan magnet.
Fakta mengejutkan datang dari dunia sains, Bumi juga memiliki sesuatu yang menyerupai “ekor” raksasa di luar angkasa.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved