Headline
Gara-gara Yaqut, Noel ikut ajukan jadi tahanan rumah.
Gara-gara Yaqut, Noel ikut ajukan jadi tahanan rumah.
Kumpulan Berita DPR RI
INSTAGRAM, baru-baru ini, meluncurkan inisiatif besar untuk meningkatkan privasi dan kontrol orangtua atas akun remaja. Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya menghadirkan pengalaman daring yang lebih aman bagi anak-anak di bawah 18 tahun, sekaligus memberikan ketenangan pikiran bagi orangtua yang khawatir tentang dampak dunia digital bagi buah hati mereka.
Instagram memperkenalkan perubahan besar yang mengaktifkan pengaturan privasi secara default bagi pengguna di bawah usia 18 tahun.
Pengaturan ini mencakup fitur penting seperti memblokir orang asing melihat konten remaja, serta kewajiban menyetujui pengikut baru.
Baca juga : Ini Dampak Media Sosial bagi Anak dan Remaja
Inovasi ini mulai diluncurkan di beberapa negara, termasuk Inggris, Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Australia, dan diharapkan memberikan perlindungan bawaan bagi pengguna remaja.
Anak-anak berusia 13 hingga 15 tahun hanya dapat menyesuaikan pengaturan ini jika mereka menambahkan orangtua atau wali ke akun mereka. Meta, perusahaan induk Instagram, menekankan pentingnya keterlibatan orangtua dalam menjaga keamanan anak-anak mereka di dunia digital.
Dilansir dari BBC, langkah ini disambut baik oleh berbagai pihak, termasuk lembaga amal anak-anak Inggris, NSPCC, yang menyebutnya sebagai "langkah ke arah yang benar."
Baca juga : Instagram Luncurkan Fitur Pengawasan Orangtua
Namun, lembaga itu juga memperingatkan bahwa pengaturan privasi tersebut hanya satu bagian dari solusi, dan masih diperlukan langkah-langkah proaktif untuk mencegah konten berbahaya menyebar di platform.
Rani Govender, manajer kebijakan keselamatan anak daring di NSPCC, menekankan bahwa kebijakan ini harus disertai dengan tindakan yang lebih konkret.
"Langkah-langkah preventif harus diterapkan agar konten yang membahayakan dan pelecehan seksual tidak menyebar luas di Instagram sejak awal," katanya.
Baca juga : Instagram Siapkan Notifikasi Pengingat Rehat Sosial Media
Meski kebijakan ini dinilai sebagai terobosan, ada kekhawatiran terkait efektivitas implementasinya.
Ian Russell, ayah dari Molly Russell, seorang remaja yang bunuh diri setelah melihat konten berbahaya di Instagram, mengatakan hasil dari kebijakan ini baru bisa dinilai setelah diterapkan secara menyeluruh.
"Meta sangat ahli dalam menggalang perhatian publik dengan pengumuman besar seperti ini, tetapi mereka juga harus transparan tentang seberapa efektif kebijakan mereka," tambahnya.
Baca juga : Dikritik, Instagram Tunda Rilis Versi Anak
Perubahan besar akan terjadi untuk remaja di Instagram, khususnya bagi pengguna berusia 13 hingga 15 tahun. Selain pengaturan privasi, kontrol ketat akan diberlakukan pada konten sensitif untuk meminimalkan rekomendasi yang berpotensi membahayakan.
Notifikasi pun akan dinonaktifkan di malam hari, sebuah langkah yang diharapkan dapat mendukung kesehatan mental dan fisik remaja.
Bagi orangtua yang ingin mengawasi aktivitas anak mereka, Instagram memungkinkan mereka melihat siapa yang mengirim pesan kepada anak mereka dan topik apa yang mereka minati, meskipun mereka tidak dapat mengakses isi pesan.
Meskipun perubahan ini menawarkan lebih banyak kendali bagi orangtua, ada kekhawatiran tentang seberapa aktif orangtua akan terlibat dalam memantau anak mereka.
Pada April lalu, regulator media di Inggris, Ofcom, menyuarakan kekhawatiran bahwa banyak orangtua tidak memanfaatkan alat-alat yang telah disediakan untuk menjaga anak-anak mereka tetap aman di dunia maya.
"Walaupun kami menyediakan kontrol ini, banyak orangtua yang tidak menggunakannya," kata Sir Nick Clegg, eksekutif senior di Meta.
Sistem identifikasi usia di Instagram juga menimbulkan pertanyaan. Sebagian besar sistem ini masih bergantung pada kejujuran pengguna tentang usia mereka, meskipun Instagram telah mulai menggunakan teknologi kecerdasan buatan untuk mendeteksi pengguna yang berbohong tentang umur mereka.
Di AS, mulai Januari, AI akan digunakan untuk mengidentifikasi remaja yang menggunakan akun dewasa dan mengembalikan mereka ke akun remaja.
Dengan undang-undang Keamanan Daring di Inggris yang baru saja disahkan, platform daring harus segera mematuhi aturan yang lebih ketat terkait perlindungan anak-anak. Jika gagal, mereka dapat menghadapi denda besar atau bahkan pelarangan bagi pengguna di bawah usia 18 tahun.
Sementara banyak pihak menyambut baik langkah baru Instagram ini, para ahli media sosial menegaskan bahwa tantangan sebenarnya terletak pada implementasi dan penegakan kebijakan.
Matt Navarra, seorang analis media sosial, berpendapat bahwa remaja akan selalu menemukan cara untuk mengatasi batasan yang diterapkan jika ada celah.
Instagram bukanlah satu-satunya platform yang memperkenalkan alat semacam ini. YouTube, Snapchat, dan aplikasi lain juga terus berinovasi dalam menghadirkan fitur-fitur yang memungkinkan orangtua mengawasi aktivitas anak mereka secara lebih efektif.
Namun, banyak yang mempertanyakan apakah perlindungan ini cukup, terutama mengingat skala dan kecepatan penyebaran konten di platform global seperti Instagram. (Z-1)
Orangtua diimbau untuk tidak membawa anak ke tempat yang terlalu padat guna meminimalisir risiko infeksi.
Saat ini, banyak platform telah menyediakan fitur kendali orangtua (parental control), namun belum semua orangtua memahami cara mengoperasikannya.
Kunci utama keberhasilan aturan pembatasan gawai bukan hanya pada larangan, melainkan pada keteladanan orangtua sebagai role model.
Keistimewaan yang didapat oleh anak sulung perempuan sering kali muncul dalam bentuk pemberian otonomi yang lebih besar.
Pendampingan orangtua selama film berlangsung sangatlah krusial untuk memberikan pemahaman yang tepat kepada anak.
Menyaksikan tontonan yang tidak sesuai klasifikasi usia merupakan ancaman nyata bagi tumbuh kembang anak.
Dalam psikologi perkembangan, remaja sedang berada pada fase meningkatnya kebutuhan otonomi.
Salah satu fenomena yang paling sering muncul dari penggunaan media sosial adalah kecenderungan remaja untuk melakukan perbandingan sosial secara ekstrem.
Psikolog klinis ungkap alasan remaja dan Generasi Alpha sangat terikat dengan media sosial. Ternyata terkait pencarian identitas dan hormon dopamin.
MENGHADAPI dinamika era digital di tahun 2026, kecemasan orang tua terhadap dampak negatif internet sering kali berujung pada kebijakan larangan total media sosial bagi remaja.
Korban diduga hanyut saat hendak menyeberangi sungai untuk pulang ke rumah.
Remaja yang aktif melaporkan kebaikan tercatat lima kali lebih empati, lima kali lebih prososial, dan hampir empat kali lebih tinggi dalam kemampuan memahami sudut pandang orang lain.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved