Headline

“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.

Italia Gagal ke Piala Dunia Lagi, Krisis Talenta Bayangi Masa Depan Azzurri

Khoerun Nadif Rahmat
01/4/2026 16:52
Italia Gagal ke Piala Dunia Lagi, Krisis Talenta Bayangi Masa Depan Azzurri
Timnas Italia(AFP)

TIMNAS Italia kembali absen di Piala Dunia setelah tersingkir di babak play-off, menegaskan krisis mendalam yang tengah melanda regenerasi talenta dan daya saing sepak bola mereka.

Publik sepak bola Italia kembali harus menyaksikan Piala Dunia tanpa kehadiran tim nasional mereka setelah kegagalan di babak play-off memperpanjang tren negatif salah satu kekuatan tradisional sepak bola dunia itu. Kepastian absennya Azzurri terjadi usai kekalahan dramatis melalui adu penalti dari Bosnia dan Herzegovina.

Sebagai pemilik empat gelar juara dunia, Italia kini berada dalam situasi sulit tanpa arah masa depan yang jelas. Kegagalan ini kembali menegaskan kemerosotan performa tim nasional yang belum juga pulih dalam beberapa tahun terakhir.

Pelatih Gennaro Gattuso, yang ditunjuk pada Juni tahun lalu menggantikan Luciano Spalletti, langsung menghadapi tekanan besar. Peluang lolos otomatis sudah tertutup setelah kekalahan telak 0-3 dari Norwegia yang diperkuat Erling Haaland.

Gattuso, yang merupakan bagian dari skuad juara dunia 2006, kini menghadapi ketidakpastian terkait masa depannya. Padahal, Presiden Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) Gabriele Gravina sebelumnya sempat memintanya bertahan melampaui kontraknya yang akan berakhir musim panas ini.

Penunjukan Gattuso sempat menuai keraguan karena rekam jejak kepelatihannya yang tidak stabil. Meski demikian, di bawah arahannya Italia mencatatkan enam kemenangan dari delapan pertandingan dengan torehan 22 gol. Ia juga dinilai mampu membangkitkan semangat tim yang sebelumnya meredup pada era Spalletti.

Namun, kekalahan telak 1-4 dari Norwegia di San Siro pada November lalu memperlihatkan keterbatasan kualitas skuad yang kini minim pemain bintang.

Tekanan terhadap Gattuso semakin meningkat setelah Italia didominasi permainan Bosnia dalam laga penentuan. Di sisi lain, posisi Gravina sebagai pucuk pimpinan FIGC juga ikut dipertanyakan. Rapat dewan yang akan digelar pekan depan disebut akan menentukan kelanjutan jabatannya.

Situasi itu semakin kontras dengan momen 20 tahun gelar juara dunia terakhir Italia yang akan diperingati pada 9 Juli mendatang, bertepatan dengan berlangsungnya putaran final di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Kenangan kemenangan adu penalti atas Prancis pada 2006 kini terasa semakin jauh.

Keberhasilan menjuarai Euro 2020 pun dinilai tidak cukup menutupi kegagalan dalam mencetak talenta kelas dunia. Klub-klub Italia juga dinilai semakin tertinggal dari kompetitor Eropa lain, terutama dari sisi kekuatan finansial Liga Primer Inggris.

Italia sendiri terakhir kali tampil di fase gugur Piala Dunia pada 2006. Sejak saat itu, mereka belum mampu kembali bersaing di level tertinggi turnamen tersebut. Bahkan, di Euro 2024, langkah mereka sudah terhenti di babak 16 besar setelah kalah dari Swiss.

Kepala delegasi Timnas Italia, Gianluigi Buffon menilai akar masalah Italia sudah terjadi sejak lama. "Hasil hari ini adalah konsekuensi dari sikap kita 20 tahun lalu, ketika kita bergantung pada pemain terbaik kita seperti (Fabio) Cannavaro dan (Francesco) Totti, berpikir mereka akan bertahan selamanya," ujarnya dikutip dari AFP.

"Saat itulah seharusnya kita memikirkan kembali model taktis dan teknis kita," imbuhnya.

Sebagai respons terhadap kondisi tersebut, FIGC meluncurkan proyek pengembangan sepak bola usia muda yang dipimpin Maurizio Viscidi. Program yang diluncurkan pada 18 Maret itu difokuskan pada peningkatan kualitas pelatih di berbagai klub usia muda yang menaungi sekitar 700.000 anak.

Saat ini, hanya sekitar 33% pemain di Serie A yang memenuhi syarat untuk memperkuat tim nasional. Angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan Inggris (29,2%), namun tertinggal dari Jerman (41,5%) dan Prancis (37,5%).



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya