Headline

“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.

Irak Lolos ke Piala Dunia 2026, Graham Arnold Ukir Sejarah Baru Usai Taklukkan Bolivia 2-1

Khoerun Nadif Rahmat
01/4/2026 14:13
Irak Lolos ke Piala Dunia 2026, Graham Arnold Ukir Sejarah Baru Usai Taklukkan Bolivia 2-1
Penyerang tim nasional Irak Ali Alhamadi merayakan golnya ke gawang Bolivia pada final play-off interkonfederasi Piala Dunia 2026 di Stadion Monterrey, Kanada, Selasa (31/3/2026).(FIFA)

IRAK akhirnya mengakhiri dahaga panjang selama empat dekade untuk kembali berlaga di panggung tertinggi sepak bola jagat raya.

Kepastian tiket menuju Piala Dunia 2026 didapat usai Singa Mesopotamia menumbangkan Bolivia dengan skor tipis 2-1 dalam laga playoff antarkonfederasi di Estadio BBVA Bancomer, Guadalupe, Rabu (1/4).

Kemenangan itu tidak hanya menjadi penanda kembalinya Irak ke putaran final sejak 1986, tetapi juga mengukir tinta emas bagi sang nakhoda, Graham Arnold. 

Pelatih asal Australia tersebut berpeluang menjadi pelatih Negeri Kanguru pertama yang sukses membawa dua negara berbeda ke ajang Piala Dunia. Dedikasi Arnold memang tidak main-main dalam membangun skuat itu.

"Dalam 10 bulan sejak saya menangani tim ini, saya kira tujuh bulan di antaranya saya habiskan di Baghdad karena saya ingin mengenal budaya mereka," ungkap Arnold dikutip ESPN.

Laga krusial yang ditentukan oleh gol Ali Ibrahim Al Hamadi dan Aymen Hussein itu memicu ledakan emosi di lapangan.

Penyerang Mohannad Ali Kadhim tampak menengadah ke langit, sementara kiper Ahmed Basil Al Fadhli tak kuasa menahan haru hingga tersungkur di rumput.

Arnold pun menjadi pusat perayaan saat para pemain mengaraknya di hadapan suporter sembari mengibarkan bendera nasional Irak.

Kegembiraan serupa menjalar hingga ke Baghdad, Basra, Mosul, dan Erbil. Jalanan kota dipenuhi lautan manusia yang merayakan keberhasilan tim nasional mereka melewati jalan terjal kualifikasi. Arnold mengakui besarnya tekanan dan harapan rakyat Irak menjadi bahan bakar utama bagi timnya.

"Saya melihat rekaman suasana di Baghdad di mana semua orang turun ke jalan, mengibarkan bendera dan merayakan. Emosi dari kemenangan itu sangat besar dan setelah pertandingan selesai, saya harus mengatakan bahwa kami belum lolos. Para pemain ini sangat bersemangat untuk melakukannya bagi negara mereka," jelasnya.

Langkah Irak menuju Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko tergolong luar biasa mengingat berbagai rintangan non-teknis yang menghadang.

Konflik di Timur Tengah sempat mengganggu persiapan, mulai dari penutupan wilayah udara hingga urusan birokrasi visa yang pelik.

Arnold dan pasukannya bahkan harus menempuh perjalanan melelahkan selama tiga hari melalui Amman sebelum tiba di lokasi laga.

Keterbatasan skuat akibat absennya pemain kunci seperti Jalal Hassan Hachim dan Ahmed Yahya pun nyatanya tak mampu membendung ambisi Irak.

Keberhasilan menaklukkan Bolivia sekaligus menutup kampanye kualifikasi panjang selama 867 hari, menjadikan Irak sebagai tim terakhir yang menyegel tempat di putaran final.

Berdasarkan hasil undian, Irak akan menghuni Grup I bersama raksasa Prancis, Senegal, dan Norwegia. Meski berstatus non-unggulan, ketangguhan yang ditunjukkan Irak sejauh ini menjadi modal berharga untuk bersaing di level dunia. (Ndf/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya