Sabtu 24 April 2021, 05:30 WIB

Revolusi Setengah Hati itu pun Mati

Suryopratomo, Dewan Redaksi Media Group | Sepak Bola
Revolusi Setengah Hati itu pun Mati

MI/Seno
Suryopratomo, Dewan Redaksi Media Group.

 

PRESIDEN Real Madrid Florentino Perez Minggu Lalu membuat pernyataan yang mengejutkan. Bersama 15 klub sepak bola superkaya, ia mengumumkan untuk meninggalkan ajang Liga Champions pada musim depan. Sebagai gantinya, mereka menggelar sebuah kompetisi yang dinamakan Liga Super atau Super League.

Kompetisi mereka kelak akan diikuti oleh 20 klub pilihan. Lima peserta tambahan diberikan kepada mereka yang ingin bergabung, tapi harus melewati penyaringan. Pertandingan kompetisi akan dilakukan di tengah pekan—diputuskan setiap Rabu—agar tidak bertabrakan dengan kompetisi lokal yang ada.

Apa motif dari ide untuk menggelar Liga Super ini? Alasannya, format Liga Champions membosankan. Pertandingan yang ada tidak menunjukkan kompetisi yang sesungguhnya. “Kami berupaya menyelamatkan sepak bola. Sekarang ini jumlah penonton dan pemirsa terus menurun. Sepak bola sedang terjun bebas,” kata Perez.

Namun, alasan sebenarnya ialah keserakahan. Liga Champions dinilai hanya memperkaya Asosiasi Sepak Bola Eropa (UEFA), tetapi tidak memberi manfaat bisnis maksimal kepada klub-klub. Padahal mereka sudah mengeluarkan investasi yang begitu besar dan tidak seimbang dengan imbalan yang didapatkan.

Perez dan pemilik Juventus Andrea Agnelli bersekongkol dengan JP Morgan. Perusahaan keuangan itu akan menyuntikkan pinjaman sebesar US$6 miliar bagi bergulirnya kompetisi Liga Super. JP Morgan kemudian akan melakukan kontrak bisnis dengan sponsor dan juga stasiun televisi.

Liga Super akan dikelola seperti umumnya kompetisi olahraga di Amerika Serikat. Dengan pemasukan yang lebih besar, maka klub-klub peserta akan mendapatkan bagi hasil yang lebih besar. JP Morgan menjanjikan pemasukan sekitar 350 juta euro setiap tahun atau lima kali lipat dari yang diterima dari Liga Champions.

Mengapa bisa seperti itu? Karena jumlah pertandingan yang akan dimainkan klub lebih banyak. Sebanyak 20 klub peserta akan dibagi dua grup untuk memainkan pertandingan home and away. Tiga klub terbaik dari setiap grup maju ke perempat final.

Satu yang dilupakan oleh JP Morgan, sepak bola di Eropa bukan hanya milik para investor. Pendukung klub juga menjadi pemilik. Klub-klub Eropa bisa hidup karena dukungan suporter fanatik mereka.

Bahkan di Jerman, klubklub dimiliki koperasi. Bayern Muenchen memilih tidak bergabung dengan Liga Super karena mereka harus mendapat persetujuan dari anggota koperasi yang menjadi pemilik klub besar itu.

Pemberontakan besar memang kemudian terjadi di Inggris. Para pendukung Liverpool marah kepada keputusan John William Henry yang memutuskan ‘Tim Merah’ keluar dari Liga Champions. Mereka bahkan mengancam menyegel Anfield karena bukan lagi menjadi milik The Kop.

Beberapa pemain dan pelatih dari enam klub Inggris yang bergabung dengan Liga Super—Arsenal, Chelsea, Li verpool, Manchester City, Manchester United, dan Tottenham Hotspur—menyatakan kegundahan dengan keputusan pemilik klub keluar dari Liga Champions. “Kalau ada klub yang bisa tetap bertahan di kompetisi, meski prestasinya buruk, itu namanya bukan olahraga,” kritik pelatih Manchester City, Josep Guardiola.

Para pemimpin politik Inggris juga langsung bereaksi keras atas rencana revolusi yang dilakukan enam klub Liga Premier. Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengancam akan membuat peraturan yang membuat klub-klub itu tidak lagi akan bisa bermain di Inggris.

Pertama, Johnson mengancam tidak akan memberikan izin kerja kepada pemain dan pelatih asing di Inggris. Kedua, Johnson memerintahkan Football Association untuk mencoret para pemain di enam klub itu untuk tidak boleh bermain di tim nasional.

Selasa, FA pun segera melakukan sidang darurat menghadapi pemberontakan enam klub ini. Ke-14 klub Liga Premier yang lain meminta FA melarang keenam klub untuk bermain di semua kompetisi yang ada di Inggris.

Karuan saja enam klub pemberontak itu ketakutan. Dimulai dari Arsenal, keenam klub Liga Premier itu langsung balik badan dan membatalkan niatannya bergabung dengan Liga Super. Mereka bahkan meminta maaf atas tindakan yang membuat guncang sepak bola Inggris.

Klub-klub Italia dan Spanyol juga memutuskan untuk membatalkan bergabung dengan Liga Super. Praktis kini tinggal Juventus, Barcelona, dan Real Madrid yang masih belum memutuskan untuk keluar dari Liga Super. Namun, dengan mayoritas klub peserta yang sudah mundur, Liga Super sudah layu sebelum berkembang.

 

Penuh kejutan

Salah satu yang membuat sepak bola menjadi olahraga yang paling digandrungi di dunia ialah tingginya tingkat kejutan. Tidak ada yang bisa secara pasti memprediksi hasil sebuah pertandingan. Baru setelah wasit meniupkan peluit panjang, kita tahu siapa yang menjadi pemenangnya.

Pengalaman meliput Piala Dunia 1990 ketika mewawancarai pelatih Brasil di Piala Dunia 1970, Mario Zagallo, semakin memperkuat pandangan itu. Ketika ditanyakan siapa yang akan menjadi juara dunia, Zagallo langsung menjawab: “Sepak bola bukanlah matematika. Kita tidak pernah bisa menebak hasil pertandingan, apalagi hasil kejuaraan. Itulah bagian dari indahnya sepak bola.”

Siapa yang pernah menduga Leicester City bisa menjadi juara Liga Premier 2015/2016? Itu ibarat sebuah dongeng ketika sebuah klub kecil bisa menerobos jajaran klub-klub bergelimang bintang. Demikian pula ketika dua pekan lalu Leeds United bisa mengandaskan Manchester City 2-1.

Sepak bola menjadi menarik juga karena tidak boleh ada klub yang taken for granted akan bisa terus bercokol di Liga Utama. Schalke yang selalu menjadi langganan Bundesliga terancam degradasi karena prestasi yang melorot di musim kali ini.

JP Morgan ingin menjadikan kompetisi sepak bola di Eropa seperti pengelolaan olahraga di AS. Baik Liga Bisbol Utama (MBL), American Football, maupun Liga NBA tidak mengenal adanya degradasi. Semua klub baik yang menang maupun yang kalah bisa ikut dalam kompetisi yang sama tahun berikutnya.

Padahal, promosi dan degradasi merupakan pemacu setiap klub untuk mempertahankan prestasinya. Liga Super ingin mengubah tradisi ini. Lima belas klub yang disebut pendiri akan terus ikut dalam kompetisi Liga Super.

Anehnya, klub-klub itu tidak mau keluar dari kompetisi di negaranya. Enam klub Inggris ingin tetap bisa tampil di Liga Premier dan Piala FA. Padahal, keikutsertaan mereka akan merusak kompetisi itu. Ketika mereka menjadi juara di negaranya, mereka tidak mau berlaga di Liga Champions, tetapi memilih tampil di Liga Super karena bayaran yang lebih besar.

UEFA merasa keberatan karena Liga Champions akan kehilangan pamor. Mereka yang tampil di sana bukanlah klubklub juara. Liga Champions akan menjadi kompetisi kelas dua karena diisi klub-klub pengganti, sedangkan juaranya berlaga di Liga Super.

Kini revolusi itu sudah mati. Namun, UEFA pun belajar dari kekurangan kompetisi yang ada. Mulai musim kompetisi 2024/2025 jumlah peserta Liga Champions akan ditambah dari 32 tim menjadi 36 tim.

Setiap klub tidak hanya akan bertanding melawan tiga klub di dalam satu grup seperti selama ini, tetapi akan berhadapan dengan 10 tim yang berbeda. Ini bukan hanya akan menambah jumlah pertandingan yang harus dimainkan, melainkan juga para pendukung setiap klub akan bisa menyaksikan penampilan dari klub lawan yang lebih banyak

 

Baca Juga

AFP

Tim Promosi Cambuur Babak Belur Dihajar Ajax Tanpa Balas

👤mediaindonesia.com 🕔Minggu 19 September 2021, 06:46 WIB
AJAX membuat tim promosi Liga Belanda Cambuur Leeuwarden, babak belur dengan sembilan gol tanpa...
Twitter Watford

Dua Gol Sarr Benamkan Norwich ke Dasar Klasmen

👤Ant 🕔Minggu 19 September 2021, 01:18 WIB
Watford sementara naik menduduki peringkat ke-10 klasemen dengan raihan enam...
Twitter Arsenal

Odegaard Antar Arsenal Raih Kemenangan Beruntun

👤Ant 🕔Minggu 19 September 2021, 00:16 WIB
Arsenal yang dua pekan lalu berada di dasar klasemen kini merangsek naik ke urutan ke-12 dengan koleksi enam...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

AS, Inggris, dan Australia Umumkan Pakta Pertahanan Baru

 Aliansi baru dari tiga kekuatan tersebut tampaknya berusaha untuk melawan Tiongkok dan melawan kekuatan militernya di Indo-Pasifik.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya