Headline

Membicarakan seputar Ramadan sampai dinamika geopolitik.

Pressure Football ala Kompany

Suryopratomo
06/3/2026 05:00
Pressure Football ala Kompany
Suryopratomo Pemerhati Sepak Bola(MI/Seno)

KETIKA dua tahun lalu ditunjuk menjadi pelatih Bayern Muenchen, banyak yang meragukan Vincent Kompany akan mampu mengembalikan kebesaran klub raksasa asal Bavaria itu. Apalagi pelatih sekelas Thomas Tuchel saja gagal untuk menjaga superioritas 'Die Roten' merajai Bundesliga melewati satu dekade.

Kompany memang dikenal sebagai kapten kesebelasan yang membawa Manchester City ke puncak kejayaannya. Namun, pria asal Belgia berusia 39 tahun itu belum cukup jam terbang sebagai pelatih yang bisa diandalkan.

Ia memang pernah mengangkat Burnley menembus Liga Primer setelah mengawali karier sebagai pelatih di klub yang pernah membesarkannya, Anderlecht. Sayangnya hanya satu musim Burnley bermain di Liga Primer langsung terdegradasi lagi ke Liga Sepak Bola Inggris (EFL).

Namun, manajemen Muenchen melihat potensi yang ada pada diri Kompany. Delapan musim di Manchester City membuka wawasan sepak bolanya. Ia mengamati dan menyerap konsep melatih yang diterapkan Josep Guardiola.

Pep Guardiola sendiri bukan sosok yang asing bagi 'Die Roten'. Sebelum menangani 'the Citizens', pelatih asal Spanyol itu menjadi pelatih Muenchen. Fondasi yang dibangun Pep Guardiola yang membuat mereka tidak tertahan menguasai Bundesliga sampai satu dekade.

Putusan manajemen itu ternyata tidak keliru. Kompany cepat beradaptasi untuk tampil sebagai orang nomor satu di Muenchen. Bundesliga juga bukan tempat yang asing bagi dirinya karena saat masih menjadi pemain, Kompany pernah tampil untuk Hamburg SV.

Di musim pertamanya di Bundesliga, Kompany bisa membawa klub asuhannya langsung ke tangga juara. Josua Kimmich dan kawan-kawan mampu merebut kembali gelar juara yang sempat direbut Bayer Leverkusen.

 

TAHU YANG PEMAIN MAU 

Para pemain Muenchen merasa puas dengan kepemimpinan Kompany. Pemain muda Alesandar Pavlovic menyebut sang pelatih sebagai orang yang mengerti kemauan pemain. Pavlovic merasa semakin berkembang sebagai pemain belakang karena sentuhan Kompany.

“Dia benar-benar tahu kemampuan saya dan bisa membawa saya ke level lebih tinggi. Namun, satu yang paling penting, ia membuat semua pemain gembira dan menikmati permainan,” kata pemain berusia 21 tahun itu.

Kompany membuat para pemain muda jebolan Akademi Bayern Muenchen mendapat kesempatan untuk bermain bersama para pemain senior sehingga lebih cepat matang. Selain Pavlovic, pemain muda yang mulai menonjol ialah Lennart Karl. Beberapa kali ia tampil sebagai penentu kemenangan 'Die Roten'.

Melihat permainan Muenchen sekarang ini memang menyenangkan karena mereka selalu tampil agresif. Bahkan sejak pertama kali kehilangan bola, semua pemain secara serentak bergerak untuk menjaga setiap pemain lawan yang ada di dekat mereka dan berupaya secepat mungkin untuk merebut kembali bola.

Lawan yang tidak siap menghadapi pressing football Muenchen dipaksa untuk berbuat salah. Akibatnya bola lebih banyak dalam penguasaan Kimmich dan kawan-kawan sehingga tekanan para pemain Muenchen seperti gelombang laut yang tidak habis-habisnya.

Dengan 88 gol yang mereka cetak dari 24 pertandingan, produktivitas Muenchen begitu tinggi. Rata-rata sebanyak tujuh gol bisa diciptakan setiap dua pertandingan.

Pengendalian permainan yang mereka lakukan otomatis membuat gawang Muenchen relatif aman. 'Die Roten' merupakan tim yang paling sedikit kebobolan, yakni 23 bola masuk ke gawang mereka dalam 24 kali pertandingan. Artinya tidak setiap pertandingan mereka bisa kebobolan.

Memang, saat menghadapi tim yang matang dan cerdas dalam bermain, Muenchen bisa juga kerepotan. Seperti dalam Der Klassiker pekan lalu menghadapi Borussia Dortmund, tim kuning tahu bagaimana keluar dari tekanan pressing football tamu mereka.

Dortmund langsung melakukan bola panjang ke pemain yang sudah mengambil posisi di depan. Akibatnya dua center-back Muenchen, Jonathan Tah dan Dayot Upamecano harus cepat turun ke lini pertahanan mengejar penyerang Dormund Fabio Silva atau Karim Adeyemi.

Taktik bola panjang itu beberapa kali membuat tim asuhan Kompany berada dalam tekanan. Bahkan dua kali gawang Jonas Urbig harus kebobolan.

 

TIM SOLID 

Muenchen di tangan Kompany menjadi tim yang solid. Mereka menunjukkan kematangan sebagai tim dan tahu bagaimana keluar dari persoalan.

Semua pemain bisa menjadi satu hati dan tampil sebagai sebuah tim. Semua pemain bahu-membahu untuk saling mendukung dan mengembangkan serangan yang begitu variatif. Hasilnya mereka bisa mengandaskan musuh besar mereka 3-2.

Harry Kane tampil sebagai pemain yang all-round. Ia tidak hanya diam menunggu bola matang di mulut gawang lawan, tetapi aktif untuk menjemput bola dan membangun serangan.

Pemain kawakan Inggris itu bisa berada di sayap, tetapi saat dibutuhkan sudah berada di kotak penalti lawan untuk melakukan eksekusi yang mematikan. Di musim sekarang ini sudah 30 gol yang ia cetak ke gawang lawan.

Dengan 10 pertandingan yang masih akan dimainkan, bukan mustahil Kane akan membuat rekor baru dalam mencetak gol pada satu musim di Bundesliga. Sekarang ini rekor masih dipegang Robert Lewandowski yang mencetak 41 gol untuk Muenchen di musim 2020/2021.

Sepertinya Muenchen tidak akan tertahankan untuk memenangi lagi Bundesliga tahun ini. Perbedaannya dengan Dortmund yang berada di peringkat kedua sudah 11 poin.

Bagi Kane, sekarang ini kesempatan untuk bisa mengangkat Piala Liga Champions. Jika dilihat dari permainan sekarang ini, 'Die Roten' akan bisa melewati Atalanta di babak 16 besar nanti.

Tantangan terberat baru mulai akan dihadapi di perempat final karena akan bertemu pemenang antara Real Madrid dan Manchester City. Kalau bisa lolos dari hadangan dua klub besar itu, tim asuhan Kompany harus menghadapi Paris St Germain atau Liverpool.

Tidak ada yang mudah untuk menjadi yang terbaik. Namun, Muenchen sekarang memiliki semua untuk menghadapi tantangan itu. Sekaligus membawa Kane bisa menutup kariernya dengan baik menjadi yang terbaik di Eropa dan dunia.

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Riky Wismiron
Berita Lainnya