Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
TIDAK ada jaminan prestasi sepak bola akan bisa terus bertahan. Hanya mereka yang tekun berlatih, tidak pernah berhenti melakukan pembinaan, dan tidak pernah puas atas pencapaian yang sudah diraih yang mampu menjaga konsistensi meraih kejayaan.
Italia yang pernah menjadi kiblat sepak bola Eropa dan dunia sedang menghadapi titik nadir. Kehebatan tim Azzurri semakin hari semakin redup. Tidak terlihat upaya untuk membangun kembali sepak bola mereka.
Tersingkirnya Internazionale Milan dan Juventus dari babak 16 besar ajang Liga Champions merupakan catatan buruk terbaru sepak bola Italia. Perjuangan Juventus harus terhenti di tengah jalan setelah gagal membalikkan kekalahan telak di pertandingan pertama dari Galatasaray. Meski menang 3-2 di Torino, Juve kalah 5-7 secara agregat dari klub Turki itu.
Lebih ironis nasib yang dialami Inter Milan sehari sebelumnya. Di Stadion San Siro, Milan, Federico Dimarco dan kawan-kawan dipaksa menyerah 1-2 oleh klub Norwegia, Bodo/Glimt, sehingga secara agregat kalah 2-5 dan masuk kotak.
Satu-satunya yang menyelamatkan muka Italia ialah Atalanta. Mereka bangkit dari ketertinggalan 0-2 di pertandingan pertama dengan menaklukkan Borussia Dortmund 4-1 Rabu (25/2) lalu.
Tersingkirnya dua klub besar Italia memberi tanda tanya tentang kemampuan tim Azzurri untuk bisa tampil di putaran final Piala Dunia 2026, Juni mendatang. Mereka masih harus memainkan play-off bulan depan menghadapi Irlandia Utara.
Kalaupun bisa melewati rintangan pertama, bukan berarti Italia berhak lolos ke putaran final. Mereka masih harus memainkan satu pertandingan lagi pada 1 April untuk mendapatkan satu dari empat jatah Eropa yang masih tersisa.
MASALAH KOMPETISI
Persoalan terbesar yang dihadapi Italia bukanlah pada materi pemain. Bakat sepak bola dari ‘Negeri Spageti’ ini masih melimpah, dan itu terlihat dari banyaknya pemain yang bersinar di klub-klub Eropa.
Semua bakat yang ada tidak pernah berkembang maksimal karena sistem kompetisi yang tidak sehat di dalam negeri. Skandal demi skandal terus mewarnai sepak bola di sana sehingga orang enggan bermain di Liga Italia.
Pada era akhir 1980-an Liga Italia sejatinya menjadi mimpi bagi semua atlet terbaik sepak bola dunia. Diego Maradona memilih meninggalkan Barcelona dan bermain untuk Napoli karena kiblat sepak bola ada di negara itu.
Semua pemain terbaik dunia berkumpul di Liga Italia. Ruud Gullit, Marco van Basten, Frank Rijkaard, dan Lothar Mattheus adalah beberapa nama besar yang meramaikan kompetisi Seri A Italia.
Setiap minggu, pertandingan Seri A ditunggu pencinta sepak bola. Ibarat setiap pekan kita bisa menyaksikan pertandingan Piala Dunia mini di Liga Italia. Tidak usah heran apabila klub Italia pada masa itu merajai Liga Eropa.
Sekarang ingar bingar Seri A kalah jauh jika dibandingkan dengan Liga Primer Inggris, La Liga Spanyol, bahkan Bundesliga Jerman. Tidak usah heran para pemain Italia lebih banyak yang hijrah ke luar, berbeda dengan zaman dulu yang justru pemain luar datang ke Italia.
Bintang sepak bola Italia, Alessandro del Piero, mengaku sedih melihat keterpurukan sepak bola negerinya. “Kami harus menemukan kembali rasa cinta kepada sepak bola. Tidak hanya di lapangan, tetapi bagaimana lebih bertanggung jawab kepada para penonton. Sekarang ini terlalu banyak kontroversi di sepak bola Italia,” kata Del Piero.
Berbagai skandal sepak bola tidak pernah berhenti. Soal pengaturan skor, judi sepak bola, membuat hasil pertandingan di luar perkiraan. Hukuman yang dijatuhkan, seperti degradasi kepada Juventus, tidak membuat jera para pelaku rekayasa sepak bola.
Ketika pertandingan tidak mencerminkan persaingan yang sesungguhnya, orang akhirnya menjadi tidak percaya kepada kualitas kompetisi. Del Piero menunjuk pemain muda berbakat seperti Samuele Inacio Pia dan Luca Reggiani yang lebih memilih bermain untuk Dortmund daripada bergabung di klub Italia.
“Terlalu banyak potongan yang hilang. Kami harus mengumpulkan kembali semua potongan itu dan membuat menjadi satu. Saya tidak ingin sejarah besar selama 41 tahun itu hancur. Terutama akhir bulan depan ketika tim nasional Italia harus berjuang meraih tiket ke putaran final Piala Dunia,” kata Del Piero, yang pernah menjadi bintang besar Juventus, sedih.
PELAJARAN BERHARGA
Dari kasus Italia kita mendapatkan pelajaran berharga bahwa segala rekayasa pembinaan harus dibayar mahal di kemudian hari. Kebesaran sepak bola akhirnya bisa terpuruk.
Indonesia mengalami perjalanan yang hampir sama. Sepak bola Indonesia yang begitu disegani pada akhir 1960-an hingga 1970-an, kini tinggal kenangan. Berbagai langkah pembenahan yang parsial dan berjangka pendek tidak pernah bisa mengembalikan kebesaran itu.
Orientasi pada hasil tanpa memedulikan proses akhirnya sia-sia. Kita pernah mengambil jalan pintas dengan mengirimkan tim berlatih di Brasil dan Italia. Akan tetapi, karena tidak memedulikan pembinaan usia dini dan kompetisi yang sehat, akhirnya tidak menghasilkan prestasi berjangka panjang.
Tim nasional Indonesia pernah dua kali memenangi SEA Games, yakni pada 1987 dan 1991. Namun, setelah itu tidak pernah bisa beranjak naik seperti halnya Jepang atau Korea Selatan. Padahal tahun 1970-an kedua negara itu dipandang sebelah mata oleh para pemain Indonesia.
Sekarang jalan yang dipilih bukan mengirimkan tim, tetapi menaturalisasi pemain asing yang memiliki darah Indonesia. Semua pihak bergembira melihat prestasi tim nasional yang nyaris lolos ke Piala Dunia. Mulai dari Presiden Joko Widodo sampai Presiden Prabowo Subianto begitu ekstasi terhadap penampilan pemain nasional.
Namun, ketika mimpi besar itu buyar, kita menyadari bahwa sepak bola Indonesia belum ke mana-mana. Ketika Persib Bandung kalah dari Ratchaburi FC, Thailand, penonton mengamuk dan masuk ke lapangan melempari para pemain tamu dan wasit. Memalukan!
Kalau kita mau menuju sepak bola dunia maka infrastrukturnya harus dibenahi dulu. Mulai dari infrastruktur standar seperti lapangan dan panitia penyelenggaraan sampai pelatih, pemain, wasit, dan penonton.
Bahkan dalam lingkup yang lebih besar, budaya bangsa harus dibenahi. Bahwa semua prestasi hanya akan datang dan langgeng kalau melalui proses yang benar. Meritokrasi harus menjadi tabiat hidup bangsa ini. Bukan jalan pintas, apalagi melalui rekayasa. Sebab, sepintas langkah itu bisa dianggap sebuah kesuksesan, tetapi dalam jangka panjang akan merusak kehidupan bangsa karena merasa semua akan mudah direkayasa.
Padahal, dalam kehidupan dunia yang besar, yang terbaik adalah mereka yang lebih cerdas, lebih cermat, lebih mau bekerja keras dan konsisten melakukannya. Di dunia yang besar tidak dikenal rekayasa apalagi beranggapan semua mudah diatur karena semua bisa dibayar. Tidak!
PEKAN lalu saya mendapat undangan untuk berdiskusi dalam dialog meja bundar yang diselenggarakan Televisi Republik Indonesia (TVRI).
SEPERTI cuaca, begitulah prestasi klub sepak bola yang begitu cepat berubah sekarang ini.
SAAT wawancara dengan 'dua Yahya', Tantowi Yahya dan Helmy Yahya, saya katakan klub yang paling berpeluang memenangi Liga Primer musim ini ialah Arsenal.
BARU satu kali kemenangan yang dipersembahkan Michael Carrick. Namun, pelatih sementara Manchester United itu dianggap telah mengembalikan kebesaran ‘Setan Merah’.
Tommy Suryopratomo, mengatakan bahwa kehadiran Wellington College di Jakarta memberikan harapan untuk anak Indonesia agar siap menghadapi tantangan berat di masa depan.
Mbappe harus keluar lapangan akibat masalah pada pergelangan kakinya.
EMPAT tim yang berjuang di fase playoff memastikan tiket ke babak 16 besar Liga Champions . Mereka dinanti lawan-lawan yang sudah lebih dulu lolos langsung dari fase grup Liga Champions.
Gol itu menjadi kunci kemenangan Los Blancos --julukan Madrid atas City. Madrid akhirnya menang 3-2 setelah gol kemenangan tercetak di menit 90+4.
Laga final Liga Champions 2023/2024 pada Minggu menjadi pertandingan terakhir Kroos sebagai punggawa Real Madrid sebelum dia pensiun usai membela timnas Jerman di Euro 2024 nanti.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved