Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
PEKAN lalu saya mendapat undangan untuk berdiskusi dalam dialog meja bundar yang diselenggarakan Televisi Republik Indonesia (TVRI). Temanya mengenai bagaimana memanfaatkan momentum penunjukan kembali TVRI sebagai stasiun resmi penyiaran pertandingan Piala Dunia 2026 untuk tujuan edukasi, literasi, dan membangun peradaban.
Saya berpandangan, tema diskusi itu sangatlah tepat untuk tidak menjadikan siaran Piala Dunia hanya sebagai sebuah tontonan, tetapi lebih dari itu, bagaimana membangun ekosistem sepak bola yang sehat agar suatu saat kelak kita bisa tampil sebagai negara peserta putaran final Piala Dunia.
Istilah membangun ekosistem menjadi sesuatu yang perlu digarisbawahi karena kita tidak pernah serius melakukan itu. Sepak bola hanya ingar-bingar dijadikan tontonan, menjadi industri untuk kepentingan ekonomi, dan dijadikan alat kepentingan meraih tujuan politik.
Pelatih sepak bola Indra Sjafri yang menjadi salah satu pembicara memperkuat sinyalemen itu. Ia menyampaikan infrastruktur sepak bola yang Indonesia miliki sangatlah memprihatinkan. Bukan hanya infrastruktur fisik seperti lapangan yang terbatas, melainkan juga soft power yang sangat diperlukan, yaitu jumlah pelatih.
Indonesia, negara dengan 280 juta penduduk, menurut Indra Sjafri, hanya memiliki sekitar 13 ribu pelatih besertifikat. Artinya satu pelatih harus menangani lebih dari 20 ribu penduduk.
Bandingkan dengan Jepang. Negara berpenduduk 124 juta, memiliki 80 ribu pelatih. Tidak usah heran apabila lebih banyak pemain berkualitas yang dihasilkan 'Negara Matahari Terbit' itu.
BENCHMARK
Jepang merupakan salah satu contoh negara dengan perencanaan sepak bola jangka panjang yang matang. Negeri yang baru membangun sepak bola pada 1990-an kini menjadi salah satu kekuatan sepak bola yang patut diperhitungkan.
'Negeri Matahari Terbit' itu mulai fokus membina persepakbolaan ketika berupaya untuk menjadi negara Asia pertama yang menjadi tuan rumah Piala Dunia. FIFA mensyaratkan tuan rumah Piala Dunia harus memiliki kompetisi sepak bola profesional yang berputar dengan baik, lebih baik lagi jika pernah lolos ke putaran final Piala Dunia.
Kini Jepang menjadi salah satu model negara yang sukses membangun kompetisi sepak bola mereka. Hasilnya tecermin pada kesuksesan tim ‘Samurai’ yang selalu bisa lolos ke putaran final Piala Dunia sejak 1998 di Prancis. Tidak hanya itu, Jepang empat kali mampu melaju ke babak 16 besar Piala Dunia, yaitu pada 2002, 2010, 2018, dan 2022.
Di Asia, Jepang boleh dikatakan menjadi raksasa. Setelah sukses menjadi juara Asia pada 1992, mereka tercatat empat kali menjadi juara dalam tiga dekade terakhir.
Jepang kini tidak bisa lagi dipandang sebagai kesebelasan anak bawang. Pada ajang Piala Dunia 2022 di Qatar, dari 26 pemain yang dibawa pelatih Hajime Moriyasu, hanya enam yang berlaga di J-League. Selebihnya bermain di liga Eropa, dengan delapan di antaranya berlaga di Bundesliga.
Pada awalnya Jepang sempat berpikir untuk menggunakan jalan pintas. Mereka tarik pemain-pemain asal Amerika Latin yang memiliki darah Jepang. Pemain blasteran asal Brasil yang diberi kewarganegaraan dan ditarik masuk tim nasional.
Namun, akhirnya Asosiasi Sepak Bola Jepang menyadari bahwa tidak pernah ada jalan pintas untuk menjadi juara. Mereka pun membina para pemain Jepang sejak usia dini. Bahkan secara sengaja Jepang mengirimkan pemain berbakat mereka untuk berguru di negara yang lebih maju sepak bolanya.
Dimulai dari seorang Kazuyoshi Miura yang pada 1982 dikirim ke Brasil di usia 15 tahun untuk mematangkan sepak bolanya. Miura menjadi model bagi anak-anak muda Jepang ketika bisa menembus Seri A Italia untuk menggunakan kostum Genoa. Sekarang tidak terbilang banyaknya pemain Jepang yang bermain di berbagai kompetisi sepak bola dunia.
Bahkan di jajaran kepelatihan pun, seorang Hajime Moriyasu tidak kalah jika dibandingkan dengan pelatih sekaliber Hans-Dieter 'Hansi' Flick. Jepang pun percaya bahwa pelatih dalam negeri pun tidak kalah kualitasnya ketimbang pelatih asing.
Dengan sistem pembinaan yang begitu tertata, Jepang tidak mau terburu-buru menetapkan target untuk menjadi juara dunia. Mereka berharap bisa mengangkat piala pada 2050 yang akan datang. Sebuah target yang realistis setelah serangkaian kemajuan sepak bola yang mereka raih.
MAU APA?
Atas dasar itulah, ketika diminta untuk menyampaikan pandangan, saya berharap TVRI hadir untuk ikut mencerdaskan dan mencerahkan bangsa ini. Itu dimulai dengan menayangkan film-film dokumenter tentang bagaimana perjuangan bintang-bintang besar seperti Diego Armando Maradona, Lionel Messi, dan Cristiano Ronaldo mencapai puncak kejayaan mereka.
Film layar lebar Pele, misalnya, bisa membangun kesadaran anak-anak muda Indonesia bahwa harus ada kemauan yang kuat dan kerja keras untuk menjadi bintang. Pele sempat hampir frustrasi dan meninggalkan klub Santos karena tidak pernah mendapat kesempatan bermain.
TVRI harus mampu membangunkan kesadaran bahwa ada sebuah proses panjang sebelum bisa berhasil. Proses itu tidak hanya melelahkan, tetapi kadang juga menyakitkan. Hanya mereka yang tangguh baik fisik maupun mental yang bisa melewati rintangan berat itu.
Di sanalah olahraga termasuk sepak bola memainkan perannya. Sepak bola bukan hanya sebuah permainan, melainkan juga alat untuk membangun karakter. Mulai pemahaman tentang arti pentingnya kerja keras, disiplin, kerja sama, sikap pantang menyerah, hingga penghormatan kepada yang namanya pelatih dan aturan permainan.
Bahkan, hal itu tidak hanya ditanamkan kepada orang-orang yang terlibat langsung dalam pembinaan sepak bola, tetapi juga kepada masyarakat yang lebih luas. Masyarakat pun harus dididik untuk sabar dalam meraih hasil. Tidak ada yang instan di dalam hidup ini.
Saya mengingatkan, apa yang membedakan Indonesia dan Korea Selatan ketika menjadi tuan rumah Asian Games? Ketika kita menjadi tuan rumah Asian Games 1962, kita puas saat Indonesia menjadi runner-up pengumpul peraih medali terbanyak. Kita tidak menjadikan penyelenggaraan Asian Games IV ketika itu sebagai momentum melakukan transformasi yang lebih besar.
Korea Selatan baru 24 tahun kemudian ditunjuk menjadi tuan rumah Asian Games Seoul. Namun, mereka tidak hanya menjadikan pesta olahraga bangsa-bangsa Asia itu untuk membangkitkan semangat anak-anak muda Korea sebagai pribadi yang panggil unggul di Asia, tetapi juga membangun bangsa mereka.
Setelah Asian Games 1986, Korea Selatan berubah menjadi negara industri baru. Hanya dua tahun kemudian, mereka bisa menunjukkan kepada dunia bahwa mereka sudah berdiri sejajar dengan negara maju lainnya dengan sukses menjadi tuan rumah Olimpiade Seoul.
Sukses Korea Selatan menjadi negara maju menjadi kajian ahli sosiologi, Samuel Huntington. Ia menulis sebuah buku yang diberi judul Culture Matters. Bagaimana perubahan karakter sebuah bangsa bisa membawa kemajuan dan kesejahteraan dari bangsa itu.
Oleh karena itu, tayangan pertandingan Piala Dunia 2026 nanti jangan sekadar dijadikan tontonan yang tidak mendidik. Saatnya untuk dijadikan momentum untuk menayangkan reportase, diskusi yang bisa mengubah peradaban bangsa ini. Bahwa setiap hal harus melalui proses yang benar agar bisa memberikan manfaat optimal bagi kemajuan bangsa.
SEPERTI cuaca, begitulah prestasi klub sepak bola yang begitu cepat berubah sekarang ini.
SAAT wawancara dengan 'dua Yahya', Tantowi Yahya dan Helmy Yahya, saya katakan klub yang paling berpeluang memenangi Liga Primer musim ini ialah Arsenal.
BARU satu kali kemenangan yang dipersembahkan Michael Carrick. Namun, pelatih sementara Manchester United itu dianggap telah mengembalikan kebesaran ‘Setan Merah’.
Tommy Suryopratomo, mengatakan bahwa kehadiran Wellington College di Jakarta memberikan harapan untuk anak Indonesia agar siap menghadapi tantangan berat di masa depan.
RUBEN Amorim, yang disebut-sebut sebagai penyelamat Manchester United, ternyata hanya diberi waktu 18 bulan untuk memimpin.
DALAM sejarah penyiaran internasional, Piala Dunia FIFA telah lama diposisikan sebagai event of major public importance.
Keterlibatan TVRI sebagai pemegang hak siar Piala Dunia 2026 merupakan wujud kepedulian Presiden terhadap kecintaan masyarakat pada sepak bola.
TELEVISI Republik Indonesia (TVRI) resmi sebagai pemegang hak siar Piala Dunia 2026 untuk wilayah Indonesia. Seluruh pertandingan turnamen tersebut bisa ditonton gratis.
Selama Pilkada 2024, TVRI menayangkan sebanyak 439 debat mulai dari tingkat provinsi hingga kabupaten/kota.
Saat ini, jangkauan penyiaran televisi di seluruh wilayah Papua adalah yang terendah di Indonesia, yakni hanya 14% dari jangkauan populasi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved