Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
MAHKAMAH Konstitusi (MK) memperkuat perlindungan bagi profesi wartawan dengan mengabulkan sebagian uji materiil Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.
Melalui Putusan Nomor 145/PUU-XXIII/2025, MK menegaskan bahwa kerja jurnalistik tidak boleh dikriminalisasi secara sewenang-wenang dan harus memiliki kepastian hukum.
Gugatan ini diajukan oleh Ikatan Wartawan Hukum (Iwakum) sebagai respons atas maraknya sengketa pemberitaan yang langsung ditarik ke ranah pidana atau perdata tanpa melalui mekanisme UU Pers.
Direktur Eksekutif Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pers, Mustafa Layong, menilai putusan ini mempertegas bahwa penyelesaian perselisihan pers sepenuhnya merupakan kewenangan Dewan Pers.
Menurutnya, upaya hukum lain termasuk pidana tidak dimungkinkan tanpa melalui mekanisme di Dewan Pers yang dilakukan secara bermakna, bukan sekadar formalitas.
"Putusan MK memberikan penambahan makna terhadap frasa perlindungan hukum agar tidak terjadi kriminalisasi," kata Mustafa saat dihubungi.
Lebih dari itu, perlindungan hukum harus dimaknai sebagai amanat bagi pemerintah dan masyarakat untuk menjamin keamanan jurnalis dari segala bentuk serangan.
"Artinya jika jurnalis mengalami serangan, pemerintah juga wajib menjamin pelindungannya dengan mlakukan penegakan hukum,” tegas Mustafa.
Ia menyayangkan data saat ini yang justru menunjukkan tingginya angka serangan terhadap jurnalis tanpa penyelesaian tuntas.
Mustafa berharap, putusan MK ini menjadi titik balik untuk menghentikan impunitas terhadap pelaku kekerasan atau intimidasi kepada insan pers di lapangan.
"Sayangnya data menunjukkan angka sebaliknya, vanyak serangan pada jurnalis tidak pernah dituntaskan, impunitas masih terus terjadi," pungkasnya.(H-2)
Berdasarkan anggaran dasar Yayasan JAKI Kemanusiaan Inisiatif, kewenangan mewakili yayasan tidak dapat dilakukan oleh ketua seorang diri.
Aris bahkan memberikan peringatan keras terkait kesiapan infrastruktur negara dalam menjalankan aturan yang mengatur ratusan pasal tersebut.
Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana digugat ke Mahkamah Konstitusi (MK).
Ketua MK Suhartoyo mengungkapkan bahwa lembaga tersebut telah menangani 366 perkara pengujian undang-undang (PUU) sepanjang tahun 2025.
Mahkamah Konstitusi (MK) langsung dihadapkan pada gelombang uji materiil (judicial review) terhadap KUHP yang baru berlaku.
Aris bahkan memberikan peringatan keras terkait kesiapan infrastruktur negara dalam menjalankan aturan yang mengatur ratusan pasal tersebut.
Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana digugat ke Mahkamah Konstitusi (MK).
Ketua MK Suhartoyo mengungkapkan bahwa lembaga tersebut telah menangani 366 perkara pengujian undang-undang (PUU) sepanjang tahun 2025.
Mahkamah Konstitusi (MK) langsung dihadapkan pada gelombang uji materiil (judicial review) terhadap KUHP yang baru berlaku.
Dalam sidang MK tersebut, para pemohon menilai aturan tersebut berpotensi melanggengkan impunitas prajurit TNI dan melemahkan prinsip persamaan di hadapan hukum.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved