Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
DIREKTUR Eksekutif Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD) Herman N. Suparman menilai pendekatan pemerintah dalam pembangunan Papua masih keliru karena menggunakan sudut pandang dari luar Papua. Menurutnya, pembangunan seharusnya berangkat dari cara pandang dan definisi masyarakat Papua sendiri, bukan semata dari perspektif pemerintah pusat.
Herman menegaskan, paradigma membangun Papua perlu diubah menjadi Papua yang membangun. Ia menilai selama ini pembangunan kerap dilihat dengan kacamata Jakarta sehingga tidak sejalan dengan kebutuhan dan harapan masyarakat setempat.
"Kita jangan melihat pembangunan di Papua itu dengan kacamata kita yang dari luar Papua, apalagi dengan kacamata Jakarta atau pemerintah pusat, tetapi bagaimana masyarakat Papua itu sendiri mendefinisikan pembangunan itu seperti apa," ujarnya saat dihubungi, Jumat (16/1).
Ketidaksesuaian perspektif tersebut, lanjut Herman, menjadi salah satu penyebab munculnya resistensi masyarakat Papua terhadap berbagai proyek pembangunan. Ia menilai tidak adanya kecocokan antara kebijakan pusat dan aspirasi lokal membuat masyarakat merasa diabaikan.
Karena itu, ia mendorong adanya dialog yang sistematis dan inklusif. "Sering kali resistensi yang dilakukan saudara-saudara kita di Papua itu karena tidak ada kecocokan antara perspektif pembangunan pemerintah pusat dengan apa yang diinginkan oleh masyarakat Papua," kata dia.
Herman menekankan, pembangunan Papua harus dilihat melalui empat dimensi utama, yakni tata kelola, ekonomi, sosial, dan lingkungan. Dari keempatnya, tata kelola dinilai sebagai fondasi paling krusial. Ia menjelaskan tata kelola mencakup perencanaan, penganggaran, kebijakan, pelayanan publik, hingga pembinaan dan pengawasan.
Dalam konteks perencanaan, Herman menilai masyarakat Papua belum dilibatkan secara memadai. Ia menyinggung aspirasi terkait deforestasi, perluasan sawit, dan persoalan lingkungan yang sempat disuarakan perwakilan Papua di DPD.
Menurutnya, masalah itu muncul karena masyarakat tidak dilibatkan dalam perencanaan pembangunan, baik jangka menengah maupun jangka panjang. "Kami melihat tidak melibatkan mereka dalam kerangka perencanaan pembangunan Papua, baik dalam konteks jangka menengah RPJMD maupun jangka panjang," ujarnya.
Persoalan juga terlihat dalam pengelolaan anggaran, termasuk dana otonomi khusus yang telah berjalan hampir 25 tahun. Herman menilai, meskipun dana otsus terus mengalir, persoalan dasar seperti pendidikan, kesehatan, hingga kasus busung lapar masih ditemukan. Ia mempertanyakan mekanisme evaluasi dan pengawasan pemerintah pusat.
Pada dimensi ekonomi, Herman menilai struktur ekonomi Papua seharusnya bertumpu pada sektor primer seperti pertanian dan kehutanan, bukan pada sektor ekstraktif. Ia menyebut banyak konflik muncul karena pembangunan ekonomi didefinisikan dari sudut pandang luar.
"Ketika ada resistensi terkait pembangunan atau perluasan kebun sawit dan pertambangan, itu karena kita menggunakan kacamata yang berbeda, bahkan menghancurkan pokok hidup orang Papua yang bersandar pada sektor kehutanan," tutur Herman.
Dari sisi sosial, ia menyoroti sektor pendidikan dan kesehatan yang dinilainya masih tertinggal. Ia mengingatkan bahwa Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Papua dari tahun ke tahun tetap berada di posisi bawah dibandingkan provinsi lain. Menurutnya, kondisi ini menunjukkan perlunya perhatian khusus pemerintah pusat terhadap kualitas pendidikan dan layanan kesehatan di Papua.
Sementara pada dimensi lingkungan, Herman menekankan bahwa hutan bagi masyarakat Papua bukan sekadar sumber daya alam, melainkan bagian dari identitas dan kehidupan. "Kalau kita menghancurkan hutan di Papua, itu kita sudah menghilangkan pelan-pelan eksistensi orang Papua," jelas Herman.
Ia juga mengaitkan isu ini dengan bencana ekologis di wilayah lain seperti Sumatra, yang menurutnya harus menjadi pelajaran agar pemerintah menahan ambisi deforestasi di Papua.
Herman menilai berbagai program dan simbol pembangunan di Papua tidak akan berdampak signifikan jika tidak diiringi pembenahan empat pilar tersebut. (Mir/P-3)
PRESIDEN Prabowo Subianto menjanjikan besaran dana otonomi khusus atau dana otsus Papua untuk 2026 sama dengan tahun ini
Dana Otsus memiliki karakteristik yang berbeda dari alokasi anggaran reguler kementerian atau lembaga. Menurutnya, dana ini tidak bisa diperlakukan semata sebagai urusan teknis fiskal.
ANGGOTA Komisi XIII DPR RI, Yan Mandenas mengatakan aspirasi soal pendidikan gratis menjadi masukan bagi pemerintah untuk melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap alokasi dana Otsus.
Kepada masyarakat Aceh, Anies Baswedan menyatakan ingin mengelola dana otonomi khusus (otsus) per pos sesuai kebutuhan pembangunan.
Pemerintah Pusat didorong untuk segera melakukan intervensi dan segera memeriksa para pejabat terkait yang mengurus pembiayaan beasiswa mahasiswa Papua di luar negeri.
Berdasarkan dokumen pembahasan, MoU Helsinki diusulkan masuk dalam konsideran 'Menimbang' poin B
PRESIDEN Prabowo Subianto menegaskan komitmen pemerintah pusat untuk membenahi tata kelola kekayaan negara dan menindak tegas praktik korupsi dalam pengelolaannya.
Pemerintah terus memberi perhatian khusus pada daerah dengan status desentralisasi asimetris sebagaimana diamanatkan dalam konstitusi dan Undang-Undang Pemerintahan Daerah
Pemprov Papua Barat Daya pada 2023 mengalokasikan dana Rp112 miliar untuk penanggulangan stunting.
RAMAINYA bursa calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) di Jakarta, menggema hingga ke pelosok negeri tak terkecuali di Papua
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved