Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
KETERBUKAAN pemerintah untuk menjelaskan apa yang menyebabkan peretasan Pusat Data Nasional Sementara (PDNS) amat penting. Bagi pengamat kebijakan publik Agus Pambagio, transparansi soal penyebab dan menyelesaikan masalah peretasan jauh lebih penting dari sekadar pengunduran diri Dirjen Aptika Kominfo maupun Menteri Kominfo.
“Soal tanggung jawab, iya, dia tanggung jawab secara teknis. Dia mundur, itu hak dia. Bagus-bagus saja. Tetapi yang penting sekarang apakah itu menyelesaikan masalah tidak?” kata Agus kepada Media Indonesia, Kamis (4/7).
Hal terpenting yang perlu dicari tahu, lanjut Agus, ialah apakah peretasan itu memang murni diretas oleh hacker atau justru ada faktor kesengajaan dari oknum internal pemerintahan. Agus menduga, kesengajaan untuk menghilangkan data penting dan sensitif itu mungkin saja terjadi mengingat ada banyak kasus besar yang terjadi era pemerintahan saat ini.
Baca juga : KPU Masih Telusuri Dugaan Kebocoran Data Pemilih
“Banyak data-data terkait pemerintahan yang sekarang. Data terkait kriminal, terkait dengan berbagai macam, bisa saja. Kita di luar menduga seperti itu. Bukan menuduh. Sehingga itulah yang harus dijelaskan. Ini sibuk (informasi hilir mudik), ini di-hack, di medsos muncul si A mengatakan begini, menuntut, dikasih kuncinya. Apa itu semua? Itu kan bukan resmi dari pemerintah,” tegas Agus.
Soal Menteri Kominfo Budi Arie akan mundur atau tidak, menurut Agus tidak menjadi soal. Sebab yang paling penting saat ini adalah penjelasan yang benar-benar transparan serta memastikan data penting milik seluruh masyarakat Indonesia bisa diamankan dan dilindungi
“Masa pemerintah tidak bisa cari, Pak Semmy itu bisa cari itu, siapa sebetulnya orang itu. Ini tidak ada penjelasannya. Jangan-jangan dugaan kita ini kerjaan orang dalam. Orang dalamnya siapa tidak tahu kita. Di sini ada data sensitif dari kasus-kasus pemerintahan sekarang. Bisa saja kan?Itu yang harus dijelaskan oleh Budi Arie sebagai orang terdekatnya Jokowi,” ucap Agus.
Baca juga : Said Aqil Sindir Kominfo Imbas Peretasan PDNS
Menurut Agus, persoalan mundur dari jabatan itu semua pejabat bisa lakukan. Tetapi bersikap transparan dan bertanggung jawab untuk menyelesaikan masalah itu sampai tuntas yang dinanti oleh masyarakat.
“Yang penting selesaikan masalahnya. Kalau mundur saja semua orang bisa. Tetapi bagaimana menyelesaikan. Kita ini, saya terutama, tidak tahu penyebabnya apa, kenapa bisa begini. Minta Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) memanggil siapa penanggung jawab proyek, itu panggil, cek, dan lihat,” pesan dia.
“Supaya jelas. Semua orang bisa menduga dengan pikiran bebas. Itu hak kita semua. Tetapi penjelasan dari pemerintah yang resmi mengapa bisa begitu. Bikin proyek semahal ini, berapa mahalnya, apa skupnya, kita perlu tahu. Lalu BPK periksa. Sebelum APH masuk, BPK periksa. Kok bisa begitu? Anda mengaudit, kalau Anda tidak benar mengauditnya, berarti Anda juga menikmati misalnya,” tambah Agus. (Dis/Z-7)
Dalam jurnalisme modern, AI hadir sebagai alat bantu efisien, bukan pengganti manusia. Literasi dan etika digital jadi kunci melawan hoaks di era kecerdasan buatan.
PENGACARA Zulkarnaen Apriliantony (ZA), Christian Malonda mengungkapkan kliennya bukan merupakan aktor atau dalang utama dalam jaringan perjudian online (judol).
Budi pun siap untuk membuktikan dirinya sama sekali tidak terlibat di dalam praktik perlindungan situs judol itu di proses hukum.
Ade Ary Syam Indradi mengatakan, pemeriksaan itu dilakukan untuk mengusut empat perkara dugaan korupsi di Kementerian Kominfo yang terjadi pada 2022-2024.
Akan berlaku adilkah Polri dalam memberangus judol? Juga, mampu dan maukah mereka membekuk bandar-bandar besar? Atau, akankah gebrakan kali ini lagi-lagi bak hangat-hangat tahi ayam?
MENTERI Koperasi Budi Arie Setiadi merespons ihwal adanya desakan agar dirinya turut diusut dalam kasus judi online pegawai Kementrian Komunikasi dan Digital (Komdigi).
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengambil langkah tak lazim dengan merekrut peretas dalam negeri untuk memperkuat sistem Coretax.
"Sekarang keamanan Cortex sudah bagus sekali. Dulu saya bilang, cyber security-nya 30 dari 100, sekarang sudah 95+. Kalau nilai sudah A+ security-nya."
Nama “Bjorka” selama dua tahun terakhir identik dengan sosok misterius berkemampuan tinggi di dunia maya. Namun, penangkapan WFT, 22, oleh Polda Metro Jaya justru memperlihatkan kontras: pemuda pengangguran, tidak lulus SMK, dan belajar IT secara otodidak.
Polisi mengusut dugaan WFT, 22 dengan akun X bernama @bjorka dan @bjorkanesia terkait dengan kebocoran data pejabat pemerintah
Polisi menangkap pria WFT, 22, asal Kakas Barat, Minahasa, Sulawesi Utara (Sulut) yang mengaku sebagai hacker ‘Bjorka’
Polisi menangkap seorang pemuda asal Kakas Barat, Minahasa, Sulawesi Utara, berinisial WFT, 22. Ia ditangkap karena melakukan akses ilegal dan mengaku sebagai Bjorka
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved