Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Jurnalisme di Era AI: Teknologi Cepat, Verifikasi Manusia Tetap tak Tergantikan

Media Indonesia
07/11/2025 09:40
Jurnalisme di Era AI: Teknologi Cepat, Verifikasi Manusia Tetap tak Tergantikan
Dalam jurnalisme modern, AI hadir sebagai alat bantu efisien, bukan pengganti manusia. Literasi dan etika digital jadi kunci melawan hoaks di era kecerdasan buatan.(Kemkomdigi)

DALAM geliat transformasi digital, kecerdasan artifisial atau AI hadir bukan untuk menggantikan peran sentral manusia. Begitu pula dalam jurnalisme, AI bisa sebagai peranti andal yang mempercepat proses kerja yang mampu menyelesaikan tugas rutin berulang seperti transkripsi wawancara dan riset data dengan efisiensi tinggi. 

Namun, sentuhan manusia tetap menjadi penentu utama untuk memastikan verifikasi, analisis mendalam, dan penerapan etika yang tidak dapat diwakili mesin. Kolaborasi sinergis inilah yang menjadi kunci dalam mencegah penyebaran berita palsu di era digital.

Pandangan itu mengemuka dalam acara Insight Talk  bertema “Literasi Cerdas di Era Kecerdasan Artifisial” yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi), Kamis (6/11/2025) di Banda Aceh. 

Sekretaris Direktorat Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kemkomdigi, Very Radian Wicaksono mengatakan bahwa dunia kini hidup di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan artifisial. 

“Teknologi ini membawa banyak kemudahan, namun juga menghadirkan tantangan besar. Oleh karena itu, literasi cerdas AI menjadi hal yang sangat penting,” ujarnya. 

Selain literasi pemerintah juga berkomitmen membangun ekosistem digital yang beretika dengan menyiapkan dua Perpres AI nasional, yaitu Peta Jalan Nasional Pengembangan AI dan Etika AI.

Sementara Wakil Ketua Dewan Pers Totok Suryanto menegaskan bahwa penerapan AI dalam jurnalisme Indonesia hanya dapat diimplementasikan sebagai alat untuk efisiensi proses kerja, bukan menggantikan fungsi jurnalis. 
“Kerja jurnalistik terikat pada etika dan nilai yang sarat dengan kepentingan publik. Prinsip ini yang membedakan karya jurnalis dengan konten yang sepenuhnya dihasilkan mesin,” kata Totok. 

Acara yang diikuti lebih dari 100 jurnalis, kreator konten, dan pegiat literasi ini juga menghadirkan 
Praktisi media, Asisten Kepala Divisi Publishing Media Indonesia Iis Zatnika, dan Dewan Pembina Relawan TIK Indonesia, Fajar Edi Dianto. Mereka membagikan pengalaman nyata pemanfaatan AI di media dan di lapangan.

Insight Talk ini menjadi bukti bahwa di tengah arus disruptif teknologi, AI jurnalisme Indonesia justru menemukan porsinya: sebagai mitra cerdas yang memperkuat, bukan menggantikan, peran vital manusia dalam membangun ruang informasi yang kredibel dan bertanggung jawab. (*)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik