Headline
Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.
Kumpulan Berita DPR RI
PERKEMBANGAN teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Di tengah berbagai diskusi mengenai masa depan sekolah di era kecerdasan artifisial (KA), sebuah pertanyaan mendasar sering muncul: bagaimana sebenarnya teknologi ini berperan dalam ruang kelas yang nyata? Berdasarkan pengalaman di lapangan, KA bukanlah pengganti guru, melainkan mitra kolaboratif yang dapat memperkaya pengalaman belajar ketika dikelola dengan bijak dan beretika.
INTEGRASI ALAMI DALAM PEMBELAJARAN
Di sekolah kami, pendekatan yang digunakan ialah integrasi teknologi secara alami ke dalam proses pembelajaran, bukan sebagai mata pelajaran khusus yang terpisah. Salah satu contohnya ialah penggunaan platform visual seperti Canva for Education dalam pelajaran Pendidikan Pancasila. Ketika membahas tema keberagaman budaya Indonesia, siswa tidak hanya membaca teks, tetapi merancang presentasi digital yang menampilkan kekayaan budaya dari berbagai daerah. Mereka belajar menyeleksi informasi, menyusun narasi, dan menyajikan data secara visual—semua dengan bantuan alat yang memudahkan desain tanpa mengurangi esensi berpikir kreatif.
Tidak hanya untuk presentasi, Canva juga kami manfaatkan untuk proyek kolaboratif antarkelas. Dalam tema ‘Pahlawan Lokal Aceh’, siswa kelas 5 dan 6 bekerja sama membuat majalah digital yang memuat biografi, peta sejarah, dan garis waktu perjuangan. KA membantu dalam saran tata letak dan pencarian gambar yang relevan, tetapi keputusan akhir tentang konten, narasi, dan pesan moral tetap berada di tangan siswa. Proyek seperti ini mengajarkan kerja sama, tanggung jawab individu dalam kelompok, sekaligus kecintaan kepada kearifan lokal.
Untuk mengasah logika dan pemecahan masalah, kami memperkenalkan dasar-dasar pemrograman melalui platform seperti Scratch, bukan sebagai mata pelajaran tersendiri, melainkan sebagai sarana belajar yang diintegrasikan dalam berbagai konteks. Dalam sebuah aktivitas bertema ‘Kucing Mencari Jalan Pulang’, misalnya, siswa belajar menyusun urutan perintah (algoritma) sekaligus melatih penalaran spasial dan matematika.
Prinsip integrasi yang sama juga kami terapkan dalam konteks yang berbeda: pembelajaran matematika. Ketika membahas pecahan, misalnya, siswa tidak hanya menghitung di buku, tetapi membuat animasi sederhana di Scratch yang menunjukkan pemecahan kue menjadi bagian-bagian yang sama. Visualisasi dinamis ini membantu siswa yang kesulitan dengan konsep abstrak matematika untuk memahami makna ¼ dan ⅓ secara konkret. Yang menarik, dalam proses ini, KA berperan ganda: sebagai alat kreasi sekaligus sebagai ‘asisten yang sabar’ yang tidak pernah bosan mengulang penjelasan. Siswa belajar bahwa kesalahan dalam pemrograman bukanlah kegagalan, melainkan bagian dari proses pembelajaran yang wajar.
Di sisi lain, bagi guru, aplikasi seperti Tome AI mengubah persiapan mengajar. Dengan prompt engineering yang tepat, materi ajar yang menarik dapat dibuat dalam waktu singkat. Efisiensi ini memberi guru lebih banyak ruang untuk fokus pada hal yang tak tergantikan: pendampingan personal, pemahaman dinamika kelas, dan perancangan strategi pembelajaran yang sesuai kebutuhan setiap siswa.
MENJAWAB TANTANGAN DENGAN KOLABORASI
Tentu, jalan menuju integrasi teknologi yang mulus tidak selalu mudah. Tantangan seperti kesenjangan kompetensi digital antarguru dan keterbatasan infrastruktur merupakan kenyataan yang dihadapi. Kami menyikapinya dengan membangun komunitas belajar di kalangan pendidik. Dalam forum ini, guru berbagi praktik baik, melakukan simulasi pengelolaan kelas, dan bersama-sama mengeksplorasi alat baru. Pendekatan kolaboratif ini mengurangi rasa khawatir akan teknologi dan menggantinya dengan rasa percaya diri bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi perubahan.
Struktur komunitas kami desain secara berjenjang. Pertemuan bulanan diisi dengan showcase praktik terbaik, di mana guru secara bergiliran mendemonstrasikan penggunaan alat KA dalam skenario pembelajaran nyata. Sesi ‘Tanya Ahli’ mingguan dilakukan secara daring melalui grup Whatsapp, di mana guru yang lebih mahir merespons pertanyaan teknis rekan sejawat. Yang paling efektif ialah sistem ‘buddy teaching’, di mana guru yang sudah percaya diri mendampingi langsung rekan mereka di kelas selama sesi pertama penggunaan alat baru. Pendampingan peer-to-peer ini mengurangi kecemasan dan mempercepat adopsi teknologi.
ETIKA SEBAGAI FONDASI DIGITAL
Aspek yang tidak boleh dilupakan ialah fondasi etika dalam pemanfaatan KA. Guru perlu terus diingatkan bahwa teknologi hanyalah alat bantu, bukan pengganti proses berpikir manusia. Siswa harus tetap diajak terlibat aktif, memahami konsep, dan tidak bergantung pada jawaban instan. Di kelas, kami mengajarkan pentingnya memverifikasi informasi dari KA, menghormati hak cipta, dan menjaga data pribadi. Etika digital ini menjadi bagian tak terpisah dari literasi abad ke-21 yang wajib ditanamkan sejak dini.
Misalnya, ketika siswa menggunakan KA untuk mencari informasi tentang pahlawan nasional, guru tidak hanya menerima hasilnya, tetapi mengajak siswa membandingkan dengan sumber buku teks dan wawancara dengan sesepuh masyarakat. Proses verifikasi ini mengajarkan bahwa teknologi adalah titik awal, bukan titik akhir dalam pencarian kebenaran.
Evaluasi pembelajaran juga mendapat sentuhan teknologi. Dengan menggunakan platform seperti Quizizz yang dapat menyesuaikan tingkat kesulitan soal, guru bisa mendapatkan gambaran lebih akurat tentang pemahaman siswa. Data yang dihasilkan kemudian menjadi bahan refleksi untuk menentukan materi yang perlu diperdalam atau metode yang perlu disesuaikan. KA, dalam hal ini, berperan sebagai asisten analisis yang membantu guru mengambil keputusan pedagogis yang lebih tepat.
TEKNOLOGI DAN NILAI KEMANUSIAAN
Pada akhirnya, pengalaman ini mengajarkan sebuah pelajaran penting: keberhasilan pendidikan di era digital tidak ditentukan oleh kecanggihan teknologi semata, melainkan oleh kualitas hubungan manusia di dalamnya. KA hadir bukan untuk menggantikan peran guru, melainkan untuk memperkuatnya. Seperti disampaikan dalam laporan UNESCO (2020), potensi terbesar KA justru terletak pada kemampuannya untuk mendukung guru menciptakan lingkungan belajar yang lebih ideal.
Dengan menggabungkan kecerdasan artifisial dan kecerdasan hati, kami percaya pendidikan dapat menjadi lebih adaptif, personal, dan bermakna. Guru tetap menjadi pemandu yang memberikan arah dan nilai, sementara teknologi menjadi alat yang memperluas kemungkinan. Dalam kolaborasi ini, siswa tidak hanya belajar menjadi pengguna teknologi yang terampil, tetapi juga manusia yang berpikir kritis, kreatif, dan bertanggung jawab atas setiap kemajuan yang mereka ciptakan.
PENDIDIKAN abad ke-21 menghadapi tantangan bagaimana mengintegrasikan teknologi tanpa mengabaikan nilai kemanusiaan
Abidin juga meminta Kemenag segera membenahi validitas data guru madrasah, baik melalui mekanisme PPPK, ASN, maupun inpassing.
Presiden Prabowo Subianto menggelar pertemuan khusus dengan sejumlah menteri Kabinet Merah Putih di kediamannya di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Selasa (27/1).
Provinsi-provinsi di kawasan timur Indonesia masih mendominasi angka pernikahan dini tertinggi secara nasional, meski secara umum prevalensi pernikahan anak di Indonesia terus menurun.
Mereka kehilangan rasa aman, rutinitas harian, akses belajar, serta dukungan emosional yang esensial bagi perkembangan mereka.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved