Headline
“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.
“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.
Kumpulan Berita DPR RI
Kekuatan dan kearifan budaya sudah sepantasnya dijadikan faktor utama yang harus diperhatikan buat kandidat pemimpin Indonesia ke depan. Untuk mengukur keberpihakan calon pemimpin yang peduli pada kebudayaan seharusnya bukan lagi pada tataran gagasan tetapi sudah masuk pada implementasi yang bersifat kebijakan maupun praktik.
Baca juga : Tekan Angka Kemiskinan Ekstrem, Pemerintah Siapkan Lebih dari Satu Skema Bansos
"Saya melihat Muhadjir Effendy memiliki perhatian serius buat kemajuan kebudayaan Indonesia," kata Adisurya Abdy, inisiator Pendopo Gerakan Kebudayaan, dalam keterangannya kepada media di Jakarta, Senin (29/5).
Sebagai Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Indonesia, Adisurya mengatakan, sosok Muhadjir Effendy memiliki peran strategis bagi pengembangan kebudayaan. Dia menilai stimulasi kebijakan bagi pengembangan kebudayaan sudah dilakukan. "Indonesia lima tahun ke depan membutuhkan sosok pemimpin yang pro pada penguatan kebudayaan," ujar pria kelahiran Medan ini.
Baca juga : Adisurya Abdy Zaman Kolonial yang Kekinian
Adisurya sepakat jika sosok Muhadjir Effendy dijadikan menjadi paket bagi calon wakil presiden RI. Selain menaruh perhatian yang besar pada penguatan kebudayaan, kata dia, sosok Muhadjir Effendy bisa menjadi penyeimbang atas dinamika yang bakal terjadi. "Siapapun kandidat calon presidennya, kami menilai Pak Menko Muhadjir Effendy memiliki kompetensi untuk dijadikan pendamping presiden," katanya.
Latar belakang Muhadjir Efrendy sebagai akademisi dan kader ormas Islam terbesar di Indonesia, menurut Adisurya, jadi faktor pendukung yang tak boleh diabaikan. "Sosok Muhadjir Effendy menjadi paket komplit yang layak dijadikan sebagai bakal calon wakil presiden. Ditambah lagi beliau sudah memiliki pengalaman di ranah eksekutif. Artinya beliau sangat paham terhadap tantangan Indonesia lima tahun ke depan," ujar sutradara film Sara & Fei: Stadhuis Schandaal. (B-4)
Berlatar di sebuah apartemen mewah di New York City, film They Will Kill You mengikuti kisah Asia (Zazie Beetz), seorang mantan narapidana yang mencoba menata ulang hidupnya.
Setelah sebelumnya sukses mengarahkan serial Pertaruhan, Sidharta Tata menyebut film Ikatan Darah sebagai ambisi lama yang akhirnya mendapatkan momentum untuk diwujudkan.
Berbeda dari tema film keluarga lainnya, Rapi Film menghadirkan Tunggu Aku Sukses Nanti yang membawa tema besar pada kumpul keluarga saat Lebaran.
Joko Anwar memaparkan bahwa film Ghost in the Cell bukan sekadar sajian horor biasa, melainkan sebuah eksplorasi karakter yang sangat mendalam.
Suzzanna dalam film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa bukan sekadar tokoh hantu, melainkan representasi perlawanan terhadap ketidakadilan yang dialami wanita.
Joko Anwar menjelaskan bahwa pemilihan latar penjara di film Ghost in the Cell bukan sekadar untuk membangun suasana seram, melainkan sebagai metafora kondisi masyarakat.
Berlatar di sebuah apartemen mewah di New York City, film They Will Kill You mengikuti kisah Asia (Zazie Beetz), seorang mantan narapidana yang mencoba menata ulang hidupnya.
Maudy Ayunda membawakan dua lagu sekaligus untuk soundtrack Para Perasuk yaitu Aku yang Engkau Cari dan Di Tepi Lamunan di bawah arahan produser musik Lafa Pratomo.
Meski proses aplikasi riasan memakan waktu, Angga Yunanda menyebut tantangan terberat justru muncul saat proses pembersihan setelah syuting selesai.
Kisah nyata pembebasan 36 sandera di Selat Malaka yang penuh ketegangan diangkat ke layar lebar dengan judul The Hostage's Hero.
Tim produksi menemukan bahwa Uluwatu bukan sekadar destinasi wisata, melainkan ruang refleksi yang menawarkan keseimbangan antara kemewahan dan spiritualitas alam.
Kedutaan Besar Prancis di Indonesia melalui Institut français d’Indonésie (IFI) =menghadirkan Clermont-Ferrand Night.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved