Jumat 19 Juni 2020, 06:40 WIB

Keterlibatan Perempuan dalam Terorisme Meningkat

Indriyani Astuti | Politik dan Hukum
Keterlibatan Perempuan dalam Terorisme Meningkat

ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay
Kepala BNPT, Komjen Polisi Boy Rafli Amar.

 

KETERLIBATAN perempuan dalam tindak terorisme dan radikalisme semakin meningkat. Data dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) pada 2018 tercatat 13 perempuan terlibat dalam aksi teror, sedangkan pada 2019 bertambah menjadi 15 orang, termasuk kasus peledakan diri oleh istri Abu Hamzah di Sibolga, Sumatra Utara, pada Maret 2019.

Demikian disampaikan Kepala BNPT Komisaris Jenderal Polisi Boy Rafl i Amar dalam webinar bertajuk Radikalisme di Kalangan Perempuan Indonesia yang diselenggarakan Kongres Perempuan Indonesia (Kowani) dan Kamar Dagang Indonesia (Kadin) di Jakarta, kemarin.

Keterlibatan perempuan itu karena sejumlah alasan. Pertama, perempuan dianggap bisa menjadi pengikut yang loyal dan patuh. Kedua, perempuan mudah percaya dan tunduk dengan nuansa yang berbalut ajaran agama. Ketiga, perempuan punya akses terhadap media sosial, tetapi literasi yang rendah. Terakhir, pelibatan perempuan dianggap sebagai siasat yang dapat mengelabui aparat penegak hukum.

“Mereka yang terlibat umumnya ibu rumah tangga dan perempuan biasa. Terpapar karena propaganda, dari media sosial atau suami,” ujar Boy.

Boy juga menjelaskan, peran perempuan dalam terorisme cukup signifikan karena adanya doktrin mereka harus tunduk pada suami. Selain itu, perempuan juga dipercaya merekrut dan melakukan mobilisasi terhadap perempuan lainnya. Terakhir, perempuan dijadikan fighter atau pejuang dan perakit sekaligus pelaku dari bom bunuh diri.

Oleh karena itu, BNPT juga melakukan upaya dalam membendung agar perempuan tidak terlibat dalam aksi terorisme dan radikalisme, antara lain melakukan kontraradikalisasi.

Upaya lain guna mencegah kaum perempuan terpicu dalam aksi teror dan ekstrem ialah melalui pemberdayaan ekonomi serta integrasi sosial.

Pada kesempatan yang sama, psikolog Arijani Lasmawati menjelaskan ada faktorfaktor eksternal dan internal yang membuat perempuan menjadi kelompok rentan sebagai sasaran dari jaringan terorisme dan radikalisme. Faktor eksternal, ujarnya, ialah relasi sosial personal di dalam keluarga, yakni antara istri dan suami.

Faktor internal, imbuh Arijani, ialah faktor psikologi. Perempuan, terang dia, rentan mengalami masalah emosional, seperti mudah cemas, stres, dan kekhawatiran. (Ind/P-5)

Baca Juga

ANTARA

Amanat Undang-Undang, TWK di KPK tidak Perlu Dibatalkan

👤mediaindonesia.com 🕔Minggu 16 Mei 2021, 23:05 WIB
Peran KPK adalah sebagai pelaksana perundang-undangan yang berupaya menjalankan regulasi tersebut...
MI/Duta

Politik Identitas Sebabkan Turunnya Indeks Demokrasi Indonesia

👤Mediaindonesia.com 🕔Minggu 16 Mei 2021, 23:00 WIB
The Economist Intelligence Unit (EIU) sebelumnya merilis Laporan Indeks Demokrasi 2020, dimana indeks demokrasi Indonesia berada pada...
Antara/Novirian Arbi

Anggota DPR Apresiasi Sikap RI atas Konflik Israel-Palestina

👤Mediaindonesia.com 🕔Minggu 16 Mei 2021, 20:30 WIB
"Kami mengapresiasi langkah pemerintah yang mengupayakan dorongan penyelesaian melalui berbagai lini," kata anggota Komisi I DPR...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Optimalkan Potensi Zakat, Ekonomi Bergerak

Berdasarkan data outlook zakat Indonesia pada 2021 yang dipublikasikan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), potensi zakat Indonesia mencapai Rp327,6 triliun.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya