Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
POLITIK gagasan bukan sekadar instalasi kemewahan dalam demokrasi. Berdirinya Republik Indonesia diawali melalui politik gagasan yang dibawa oleh para founding fathers, baik Soekarno, Tan Malaka, maupun Sutan Syahrir.
Pernyataan tersebut diungkapkan oleh politikus Partai NasDem Willy Aditya dalam seminar bertajuk Politik Gagasan di Era Post Ideologi yang berlangsung di Jakarta, kemarin.
Seminar tersebut merupakan rangkaian persiapan untuk memeriahkan Kongres Ke-2 Partai NasDem yang akan berlansung pada November mendatang.
"Politik gagasan itu tak sekadar instalasi kemewahan, bukan hanya gimik, melainkan merupakan keharusan dalam berdemokrasi," ujarnya.
Willy menilai esensi politik tidak hanya terus-menerus berbicara tentang kemenangan. Politik harus merealisasikan tujuan pembangunan dan kemajuan bangsa. Oleh karena itu, NasDem hadir untuk memberikan keadilan dan kebahagiaan pada masyarakat.
"Sampai ke gedung dewan di Senayan yang harusnya membicarakan kebijakan, orang hanya bicara kemenangan. Hanya berpikir how to defend my position," ujarnya.
Dosen Ilmu Politik Universitas Paramadina, Djayadi Hanan, menambahkan fokus ke politik gagasan bisa ditempuh NasDem. Namun, beberapa tantangan harus dilewati. Misalnya, bagaimana menghadirkan partai di tengah masyarakat.
"Bukan soal ada atau tidak ada gagasan, melainkan membangun jembatan kepercayaan antara partai dan masyarakat. Saya setuju itu harus dimulai dari partai," ucapnya.
Dia melihat politik gagasan harus ditanamkan lebih komprehensif. Misalnya, bagaimana NasDem memulai analisis praktikal tentang gagasan selama tiga tahun ke depan. Di tahun keempat dan kelima, partai bisa melihat gagasan apa yang diterima masyarakat.
Hal tersebut, katanya, memunculkan pertanyaan lebih awal tentang model gagasan yang bakal diterima masyarakat. Artinya, dari sekarang NasDem perlu menginventarisasi gagasan-gagasan apa saja yang dibutuhkan konstituen.
Juga, bagaimana mengemas gagasan itu dalam rumusan yang lebih konkret. Misalnya, melalui kebijakan publik. Djayadi mencontohkan dari segi pendidikan, persentase buta huruf yang kecil, tetapi tingkat pendidikan masih rendah.
"Artinya, reformasi model pendidikan apa yang mau digagas partai NasDem ke depan. Jadi, kebijakan publik macam apa yang mau diadvokasi sehingga tingkat pendidikan kita bisa lebih baik."
Pangkas biaya politik
Dalam kesempatan yang sama, pengamat politik Charta Politika Yunarto Wijaya mengungkapkan poltik gagasan NasDem layak mendapat apresiasi karena dapat memangkas biaya politik yang tidak murah. "Melalui politik gagasan yang tak diterjemahkan secara intelektual, tapi diterjemahkan melalui rencana aksi," katanya.
Yunarto melanjutkan, NasDem punya modal kuat mengimplementasikan hal itu. Pasalnya, dalam Pilkada 2017, partai itu punya banyak perwakilan yang menjadi kepala daerah.
Menurut dia, perwakilan NasDem di daerah akan menjadi ujung tombak politik gagasan. Sudah banyak contoh yang berhasil. "Pertanyaannya, apakah bisa NasDem secara top down memaksa politik gagasan yang diyakini NasDem itu ke para kepala daerah?" (P-3)
AWAL tahun 2026 menghadirkan sebuah kejutan penting bagi Indonesia.
Struktur insentif politik Indonesia yang masih tersentralisasi membuat kompetisi elit nasional tetap berlanjut di level daerah.
Tanpa perubahan mendasar, parlemen berpotensi semakin dikuasai kelompok bermodal besar.
Taufan menyoroti persoalan ambang batas parlemen yang menurutnya menjadi isu penting dan membutuhkan kajian panjang serta komprehensif agar dapat ditentukan metode yang paling tepat.
Dalam konfigurasi tersebut, Perludem menilai jika kepala daerah dipilih oleh DPRD, maka hasil Pilkada berpotensi terkunci sejak awal.
Yusril berpandangan pilkada tidak langsung melalui DPRD justru selaras dengan falsafah kedaulatan rakyat, sebagaimana dirumuskan dalam alinea keempat Pembukaan UUD 1945.
Seminar internasional ini membahas bagaimana negara perlu memperkuat kapasitas tata kelola publik di tengah lanskap global yang semakin kompleks.
Gubernur Agustiar Sabran menegaskan komitmen Pemprov Kalteng untuk melindungi eksistensi dan martabat Masyarakat Adat Dayak sebagai bagian tak terpisahkan dari pembangunan Kalimantan.
AI harus dilihat sebagai peluang besar untuk menciptakan solusi kreatif dalam berbagai bidang, terutama pendidikan.
Kompetensi digital harus dibarengi dengan pembentukan karakter dan nilai profesional.
Prof. Bo An menjelaskan tentang peran penting Autonomous Agents dalam memecahkan berbagai permasalahan kompleks di dunia nyata.
Melalui forum ini, Forhati menegaskan komitmen dalam mengonsolidasikan kekuatan perempuan dan membangun pengetahuan kolektif tentang isu-isu strategis perempuan di 2025.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved