Headline
Faktor penyebab anak mengakhiri hidup bukan tunggal.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) bekerja sama dengan Universitas Sebelas Maret (UNS) dan Perkumpulan Program Studi Pendidikan Sejarah Indonesia (P3SI) menyelenggarakan Seminar Nasional Sejarah Pancasila yang dirangkaikan dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara BPIP dan P3SI.
Seminar nasional ini bertujuan memperkuat pemahaman sejarah Pancasila sebagai fondasi ideologis bangsa dalam menghadapi tantangan globalisasi, disrupsi digital, serta dinamika sosial politik yang terus berkembang.
Kepala BPIP Yudian Wahyudi menegaskan bahwa sejarah Pancasila memiliki peran strategis dalam membentuk kesadaran ideologis generasi bangsa. Menurutnya, Pancasila tidak cukup dipahami sebagai produk historis semata, tetapi harus dihidupkan sebagai nilai yang terus berdialog dengan perkembangan zaman.
“Pancasila lahir dari proses sejarah yang panjang dan penuh pergulatan pemikiran para pendiri bangsa. Oleh karena itu, memahami sejarah Pancasila berarti memahami jati diri bangsa Indonesia itu sendiri,” tegas Yudian dalam kegiatan yang berlangsung di Gedung Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNS, Surakarta, Kamis (5/2).
Ia juga menekankan bahwa pendidikan sejarah Pancasila di perguruan tinggi harus mampu membangun daya kritis mahasiswa agar nilai-nilai Pancasila tidak tereduksi oleh arus globalisasi dan ideologi transnasional.
“Melalui penguatan pendidikan sejarah Pancasila yang ilmiah dan kontekstual, kita ingin memastikan bahwa Pancasila tetap menjadi sumber nilai, orientasi moral, dan arah pembangunan bangsa di masa depan,” ujar Kepala BPIP.
Wakil Wali Kota Solo, Astrid Widayani turut memberikan sambutan dan menyampaikan apresiasi atas kepercayaan BPIP yang memilih Kota Surakarta sebagai tuan rumah Seminar Nasional Sejarah Pancasila. Ia menilai kegiatan ini sejalan dengan karakter Kota Solo sebagai kota budaya dan kota sejarah yang memiliki peran penting dalam perjalanan bangsa Indonesia. Ia menegaskan penguatan pemahaman sejarah Pancasila melalui dunia pendidikan merupakan investasi strategis dalam membangun karakter generasi muda, sekaligus memperkokoh nilai kebangsaan di tengah derasnya pengaruh global.
Deputi Bidang Hubungan Antarlembaga BPIP Prakoso, menjelaskan bahwa pemilihan Surakarta sebagai lokasi kegiatan didasarkan pada rekam jejak historis kota tersebut dalam perkembangan pendidikan dan pergerakan pemuda nasional, termasuk peran Jong Java dalam peristiwa Sumpah Pemuda.
Menurutnya, sejarah Pancasila tidak boleh berhenti sebagai romantisme masa lalu, tetapi harus dijadikan pijakan dalam merespons tantangan ideologi, ekonomi, hingga pertahanan dan keamanan di era digital.
“Jika sejarah Pancasila tidak dipahami secara utuh dan kritis, nilai-nilai luhur di dalamnya berisiko tereduksi bahkan terlupakan. Seminar ini merupakan upaya strategis BPIP untuk meneguhkan jati diri bangsa di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks,” ungkapnya.
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Penelitian UNS, Prof. Dr. Fitria Rahmawati, menyambut baik inisiatif BPIP dalam membumikan nilai-nilai Pancasila di lingkungan pendidikan tinggi. Salah satu agenda penting yang dibahas dalam seminar ini adalah rencana penyusunan buku teks (textbook) terstandar nasional untuk mata kuliah wajib Pancasila.
Ia menjelaskan bahwa selama ini pembelajaran Pancasila di perguruan tinggi masih berpatokan pada kisi-kisi umum tanpa buku ajar baku. Oleh karena itu, BPIP mendorong UNS untuk mengirimkan dosen dari berbagai disiplin ilmu—seperti teknik, kedokteran, dan MIPA—agar buku ajar yang disusun relevan dengan konteks keilmuan yang beragam.
“Dengan adanya textbook Pancasila yang terstandar, proses pembelajaran akan lebih terarah dan memiliki kesamaan kualitas di seluruh perguruan tinggi di Indonesia,” jelasnya. (M-3)
AWAL tahun 2026 menghadirkan sebuah kejutan penting bagi Indonesia.
Adanya pelanggaran dalam tata kelola pemerintahan negara yang baik serta praktik politik yang tidak demokratis karena mengabaikan suara rakyat.
Sebagai agenda pembangunan global, SDGs diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia secara menyeluruh dan berkelanjutan melalui aksi-aksi terukur di lapangan.
SERANGAN Amerika Serikat (AS) terhadap Venezuela menandai kembalinya praktik unilateralisme secara terang-terangan dalam politik internasional. T
Tanpa Pancasila sebagai bingkai, demokrasi lokal hanya akan sibuk merayakan prosedur, tetapi gagal menghadirkan keadilan.
DEWAN Pimpinan Pusat Gerakan Nasionalis (DPP GAN) menggelar audiensi dengan Wakil Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Rima Agristina, beserta jajaran.
BPIP meraih predikat Informatif dengan nilai 93,35 pada Monitoring dan Evaluasi Keterbukaan Informasi Publik Tahun 2025 oleh Komisi Informasi Pusat (KIP).
DEWAN Pakar BPIP Bidang Strategi Kebijakan Luar Negeri, Darmansjah Djumala, mengatakan bencana banjir Sumatra membangkitkan naluri kemanusiaan bangsa Indonesia.
Kepala BPIP Yudian Wahyudi menegaskan Pancasila harus menjadi roh kehidupan bangsa dan panduan dalam bertindak, berpikir, serta bersikap.
BPIP bukan sekadar simbol pembinaan ideologi, tetapi menjadi garda terdepan dalam menjaga nilai-nilai Pancasila.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved