Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Selat Malaka

Suryopratomo/Dewan Redaksi Media Group
12/4/2017 05:31
Selat Malaka
(ANTARA FOTO/M N Kanwa)

SELAT Malaka yang berada di antara Semenanjung Malaysia dan Pulau Sumatra merupakan salah satu selat terpadat di dunia. Setiap hari setidaknya ada 220 kapal yang melewati selat tersebut untuk mengangkut setengah perdagangan minyak dunia dan seperempat perdagangan barang dunia. Semua kapal yang hendak berlayar dari Samudra Hindia ke Samudra Pasifik dan sebaliknya harus melewati Selat Malaka. Lebar selat yang hanya 1,5 mil laut atau sekitar 2,7 km membuat lalu lintas harus dilakukan dengan berhati-hati.

Karena itu, very large crude carriers atau ultralarge crude carriers membutuhkan jasa tunda. Perusahaan asuransi tidak akan mau membayar klaim apabila kapal yang mengalami kecelakaan tidak menggunakan jasa tunda. Dari 220 kapal yang melewati Selat Malaka, setidaknya 70 di antaranya merupakan kapal superbesar. Selama ini, Singapura dan Malaysia menikmati hasil pemberian pelayanan jasa penundaan itu. Minimal satu kapal harus membayar US$10 ribu untuk menggunakan jasa tersebut.

Karena itu, pada Senin (10/4) lalu Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi meresmikan layanan jasa penundaan Indonesia di Selat Malaka. Untuk pertama kali sejak 71 tahun Indonesia merdeka, negeri ini berperan dalam pengelolaan Selat Malaka. Pemberian layanan jasa penundaan itu bukan hanya penting dari sisi ekonomi. Keterlibatan Indonesia penting untuk mengukuhkan kedaulatan maritim negeri ini karena wilayah terbesar Selat Malaka berada di bagian Indonesia. Selama ini Indonesia boleh dikatakan hanya menjadi penonton.

Bahkan, dalam jasa transhipment, Singapura menangguk untung paling besar sehingga perdagangan mereka menjadi maju. Semua kapal superbesar yang melewati Selat Malaka berlabuh di negeri itu karena fasilitasnya memadai untuk melayani kebutuhan kapal-kapal itu. Baru sekarang ini Malaysia mencoba memanfaatkan lalu lintas pelayaran yang ada di Selat Malaka. Mereka membangun Pelabuhan Tanjung Pelepas yang terletak di Johor. Harapannya, sebagian kapal yang selama ini berlabuh di Singapura mau berpindah ke Johor.

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia pun sekarang makin menyadari pentingnya membangun poros maritim yang kuat. Untuk itulah, pelabuhan-pelabuhan besar akan dibangun dan standarnya tidak kalah dengan pelabuhan dunia. Setidaknya ada dua pelabuhan besar yang sedang dibangun di wilayah barat, yaitu Kuala Tanjung di Sumatra Utara dan Tanjung Priok di Jakarta.

Akhir pekan lalu, kita lihat kapal besar mulai masuk Tanjung Priok. Apabila sebelumnya hanya kapal berukuran 5.000 dead weight tonnage yang masuk, kemarin kapal berukuran 8.500 dwt sudah bisa masuk. Tidak lama lagi, diharapkan, kapal berukuran 10 ribu dwt bisa masuk ke Tanjung Priok. Kalau kita sudah bisa didatangi kapal superbesar berukuran 18 ribu dwt, kita bisa sejajar dengan Singapura. Namun, ini merupakan pekerjaan yang tidak mudah karena semua bongkar muat harus dilakukan dengan kecepatan tinggi agar tercipta efisiensi dan kualitas pelayanan yang prima.

Benar seperti dikatakan Menhub, layanan jasa penundaan merupakan salah satu ujian bagi Indonesia. Kalau kita mampu memberikan pelayanan yang berkualitas, orang baru percaya untuk menggunakan jasa kepelabuhan Indonesia dan lebih dari itu kemudian berlabuh di pelabuhan Indonesia. Pilihan untuk singgah di Kuala Tanjung dan Tanjung Priok ialah sesuatu yang masuk akal karena kita memiliki Selat Sunda yang bisa menjadi pilihan lain dari Selat Malaka. Kapal yang akan menuju Jepang dan Tiongkok bisa menggunakan Selat Sunda yang lebih lebar dan lebih lengang.

PT Pelabuhan Indonesia I yang dipercaya untuk memberikan jasa penundaan kini menjadi ujung tombak untuk membangun kebesaran maritim Indonesia. Singapura dan Malaysia tidak begitu saja mengizinkan Indonesia untuk menawarkan jasa pelayanan ini. Namun, kesempatan itu tidak bisa ditunggu, tetapi memang harus direbut. Kita lihat dengan perjalanan waktu bagaimana putra-putra Indonesia menunjukkan kualitas sebagai penyedia jasa penundaan yang andal.



Berita Lainnya
  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

Opini
Kolom Pakar
BenihBaik