Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
SELAT Malaka yang berada di antara Semenanjung Malaysia dan Pulau Sumatra merupakan salah satu selat terpadat di dunia. Setiap hari setidaknya ada 220 kapal yang melewati selat tersebut untuk mengangkut setengah perdagangan minyak dunia dan seperempat perdagangan barang dunia. Semua kapal yang hendak berlayar dari Samudra Hindia ke Samudra Pasifik dan sebaliknya harus melewati Selat Malaka. Lebar selat yang hanya 1,5 mil laut atau sekitar 2,7 km membuat lalu lintas harus dilakukan dengan berhati-hati.
Karena itu, very large crude carriers atau ultralarge crude carriers membutuhkan jasa tunda. Perusahaan asuransi tidak akan mau membayar klaim apabila kapal yang mengalami kecelakaan tidak menggunakan jasa tunda. Dari 220 kapal yang melewati Selat Malaka, setidaknya 70 di antaranya merupakan kapal superbesar. Selama ini, Singapura dan Malaysia menikmati hasil pemberian pelayanan jasa penundaan itu. Minimal satu kapal harus membayar US$10 ribu untuk menggunakan jasa tersebut.
Karena itu, pada Senin (10/4) lalu Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi meresmikan layanan jasa penundaan Indonesia di Selat Malaka. Untuk pertama kali sejak 71 tahun Indonesia merdeka, negeri ini berperan dalam pengelolaan Selat Malaka. Pemberian layanan jasa penundaan itu bukan hanya penting dari sisi ekonomi. Keterlibatan Indonesia penting untuk mengukuhkan kedaulatan maritim negeri ini karena wilayah terbesar Selat Malaka berada di bagian Indonesia. Selama ini Indonesia boleh dikatakan hanya menjadi penonton.
Bahkan, dalam jasa transhipment, Singapura menangguk untung paling besar sehingga perdagangan mereka menjadi maju. Semua kapal superbesar yang melewati Selat Malaka berlabuh di negeri itu karena fasilitasnya memadai untuk melayani kebutuhan kapal-kapal itu. Baru sekarang ini Malaysia mencoba memanfaatkan lalu lintas pelayaran yang ada di Selat Malaka. Mereka membangun Pelabuhan Tanjung Pelepas yang terletak di Johor. Harapannya, sebagian kapal yang selama ini berlabuh di Singapura mau berpindah ke Johor.
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia pun sekarang makin menyadari pentingnya membangun poros maritim yang kuat. Untuk itulah, pelabuhan-pelabuhan besar akan dibangun dan standarnya tidak kalah dengan pelabuhan dunia. Setidaknya ada dua pelabuhan besar yang sedang dibangun di wilayah barat, yaitu Kuala Tanjung di Sumatra Utara dan Tanjung Priok di Jakarta.
Akhir pekan lalu, kita lihat kapal besar mulai masuk Tanjung Priok. Apabila sebelumnya hanya kapal berukuran 5.000 dead weight tonnage yang masuk, kemarin kapal berukuran 8.500 dwt sudah bisa masuk. Tidak lama lagi, diharapkan, kapal berukuran 10 ribu dwt bisa masuk ke Tanjung Priok. Kalau kita sudah bisa didatangi kapal superbesar berukuran 18 ribu dwt, kita bisa sejajar dengan Singapura. Namun, ini merupakan pekerjaan yang tidak mudah karena semua bongkar muat harus dilakukan dengan kecepatan tinggi agar tercipta efisiensi dan kualitas pelayanan yang prima.
Benar seperti dikatakan Menhub, layanan jasa penundaan merupakan salah satu ujian bagi Indonesia. Kalau kita mampu memberikan pelayanan yang berkualitas, orang baru percaya untuk menggunakan jasa kepelabuhan Indonesia dan lebih dari itu kemudian berlabuh di pelabuhan Indonesia. Pilihan untuk singgah di Kuala Tanjung dan Tanjung Priok ialah sesuatu yang masuk akal karena kita memiliki Selat Sunda yang bisa menjadi pilihan lain dari Selat Malaka. Kapal yang akan menuju Jepang dan Tiongkok bisa menggunakan Selat Sunda yang lebih lebar dan lebih lengang.
PT Pelabuhan Indonesia I yang dipercaya untuk memberikan jasa penundaan kini menjadi ujung tombak untuk membangun kebesaran maritim Indonesia. Singapura dan Malaysia tidak begitu saja mengizinkan Indonesia untuk menawarkan jasa pelayanan ini. Namun, kesempatan itu tidak bisa ditunggu, tetapi memang harus direbut. Kita lihat dengan perjalanan waktu bagaimana putra-putra Indonesia menunjukkan kualitas sebagai penyedia jasa penundaan yang andal.
DI negeri ini, keadilan tak jarang tersesat di tikungan logika dan persimpangan nalar.
RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.
KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.
ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.
BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.
REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk.
KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.
SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.
INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.
Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.
PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).
PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah
VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai
APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.
INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved