Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Kasus Rizieq-Firza

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
07/2/2017 05:31
Kasus Rizieq-Firza
(youtube)

KETIKA pertama kali Whatsapp chat seks yang diduga dilakukan Rizieq Shihab dan Firza Husein mengemuka, banyak pihak tak percaya. Biasalah gosip murahan. Rizieq memang tengah dibidik. Banyak suara serupa itu. Namun, kata polisi, kian hari kian menemukan bukti. Dengan menghadirkan lebih dari delapan saksi dan ahli, polisi berpendapat ada kesamaan antara yang beredar di media sosial dan fakta di lapangan.

Kata polisi, kasus Rizieq-Firza tak sulit diusut, serupa kasus Ariel-Luna pada 2010. Menurut Kapolda Metro Jaya Irjen Mochamad Iriawan, televisi, list kamar mandi, dan benda lain yang muncul dalam foto Firza, semuanya identik. Ia menegaskan, tak mengapa Rizieq dan Firza membantah. Keduanya memang membantah. Pihak Rizieq mengatakan, sejak aksi 4 November 2016, ia tak menggunakan telepon seluler.

Padahal, Whatsapp chat terjadi Agustus, dua bulan sebelumnya. Apa pun bantahannya, investigasi ilmiahlah yang akan membuktikannya. Hasil kerja tim ahli ini tak perlu pengakuan verbal pelakunya. Ahli forensik digital itulah yang akan memastikan foto itu asli atau rekayasa. Ahli antropometri menilai keaslian dari ukuran dan proporsi tubuh. Ahli suara mencocokkan rekaman telepon antara Firza dan wanita yang disebut ‘Kak Emma’.

Kepada Emma, Firza mencurahkan isi hatinya tentang Rizieq yang ingkar janji menikahi Firza. Firza pun berang bukan kepalang. Ini ia ceritakan kepada Emma. Akankah Rizieq yang kini tengah dikepung aneka persoalan hukum bisa berkelit? Para pendukung Rizieq tentu tak percaya atau menunggu dengan kecemasan tak tepermanai. Bagi lawan-lawannya, tentu ini sesuatu yang memang tinggal menunggu waktu. Mereka yang netral justru akan kehilangan kepercayaan kepada ulama.

Karena Rizieq, ulama jadi rusak citranya. Tuduhan bahwa selama ini Rizieq memanfaatkan agama untuk ‘kepentingan lain’ jadi kian terbukti. Rizieq memang bukan kali ini saja menghadapi kasus hukum. Imam Besar FPI ini bahkan telah dua kali dibui. Yang pertama, divonis tujuh bulan penjara pada 11 Agustus 2003 karena terbukti menghasut dan melawan aparat keamanan, memerintahkan merusak sejumlah tempat hiburan. Kedua, pada 2008 ia diganjar 1,5 tahun dalam kasus kekerasan di Monas.

Ia kini dikepung aneka persangkaan seperti pencemaran nama baik, penyebar kebencian, penodaaan Pancasila, dan fitnah terhadap pemerintah dalam soal logo palu arit pada lembaran uang rupiah baru. Ditambah kasus dugaan asusila ini, hari-hari selanjutnya bagi pria kelahiran Jakarta, 24 Agustus 1965 ini, pastilah akan pulang-balik ke kantor polisi lebih kerap lagi. Bisa jadi lebih kerap dari seteru utamanya, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, yang kini menjadi terdakwa kasus penodaan agama.

Firza, wanita beranak satu ini memang aktif dalam aktivitas FPI. Ia juga tersangka dugaan makar bersama beberapa orang lainnya. Mereka dijemput paksa polisi pada 2 Desember dini hari. Firza diduga menjadi salah satu penggalang dana untuk aksi bela agama. Ia juga Ketua Solidaritas Sahabat Cendana. Namun, putra mantan Presiden Soeharto, Tommy Soeharto, menyomasi Firza karena dirinya dilibatkan tapi tak pernah dimintai izin.

Jika terbukti melanggar Pasal 4 UU No 44 Tahun 2008 tentang Pornografi , yakni membuat dan memproduksi serta menyiarkan dan menyebarluaskan, Rizieq-Firza terancam masuk bui. Alangkah tragis jika semua ini terbukti. Seseorang yang dengan nyaring dan keras berupaya menjadi pembela Islam justru menjadi perusak Islam, seperti dituduhkan beberapa pihak. Aksi Bela Islam yang dimotori Rizieq pun menjadi kian kental aroma tak sedapnya.

Lagi-lagi, jika kasus itu benar, alangkah tragis nasib Rizieq dan FPI. Benarlah apa yang dikatakan sastrawan ternama kelahiran Irlandia, George Bernard Shaw, “Kita belajar dari sejarah bahwa kita tidak belajar apa-apa dari sejarah.” Rizieq tidak belajar apa-apa dari beberapa kasus, seperti dikatakan Firza, banyak pemimpin ambruk karena wanita.

Sebaliknya, jika kasus ini bohong belaka, Rizieq dan FPI tentu akan kian mendapat simpati karena Rizieq dan FPI menjadi korban musuh-musuh politiknya. Namun, apa pun faktanya, mestinya kasus ini menjadi pelajaran berharga bagi Rizieq dan FPI untuk mengevaluasi diri. Aktivitas mereka mestinya lebih banyak mempertimbangkan harmoni. Bukan jalan konfrontasi dan menebar rasa benci yang menghabiskan energi.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.