Headline

Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.

Tengoklah India

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group
24/4/2021 05:00
Tengoklah India
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

BANYAK orang India, kini, boleh jadi tak lagi menghiraukan nasihat bijak tokoh mereka, Mahatma Gandhi. Bapak kemerdekaan India itu pernah mengatakan: "Jika kesabaran lebih bernilai daripada apa pun, itu harus dipertahankan sampai akhir zaman. Dan, keyakinan yang hidup akan bertahan di tengah terpaan badai terbesar sekalipun."

Fakta bahwa nasihat itu tak lagi mengaliri 'darah' orang India ialah ledakan penyebaran covid-19 dalam beberapa hari terakhir. Kesabaran warga India untuk benar-benar memenangi pertempuran melawan pandemi korona hilang oleh keyakinan konyol bahwa 'Negeri Bollywood' itu tinggal selangkah menuju kekebalan kelompok, herd immunity.

Pemerintah setempat pun terbuai dan sempat percaya kasus covid-19 di India sudah mulai surut pada September 2020. Mereka mengira bisa mengatasi pandemi covid-19 secara perlahan-lahan. Apalagi, saat itu kasus korona di India benar-benar menurun selama 30 minggu berturut turut hingga mulai kembali naik pada pertengahan Februari 2021. "Kami sudah sangat dekat dengan kesuksesan," kata Bhramar Mukherjee, ahli biostatistik India di Universitas Michigan.

Pemerintah India lantas mencabut larangan pembatasan sosial, sebagai salah satu simbol 'kemenangan' melawan covid-19. Bahkan, Perdana Menteri India Narendra Modi begitu pede menggelar rapat umum politik untuk pemilihan lokal yang dihadiri langsung ribuan orang.

Pemerintahan Modi juga mengizinkan festival keagamaan Kumbh Mela bagi umat Hindu. Jutaan orang pun berkumpul, berendam di Sungai Gangga selama festival kendi, salah satu ziarah paling suci dalam agama Hindu, di Haridwar, negara bagian utara Uttarakhand, India, Senin awal pekan lalu.

Mereka juga mengizinkan resepsi pernikahan secara mewah dan besar-besaran. Pula, membolehkan pertandingan kriket yang dihadiri langsung ratusan ribu penonton. Pokoknya, 'panji-panji kemenangan' sudah mereka kibarkan.

Sejatinya, yang terjadi ialah kemenangan semu. Dalam waktu singkat, India dihantam badai dahsyat virus korona gelombang kedua, yang lebih hebat ketimbang ketika virus tersebut pertama kali datang.

Negara berpenduduk 1,3 miliar itu pun melaporkan 314.835 kasus covid 19 dengan kematian lebih dari 2.000 orang dalam sehari pada Kamis (22/4). Laporan tersebut menandai jumlah kasus harian covid-19 tertinggi di dunia sejak pandemi dimulai pada tahun lalu. Catatan tersebut juga membuat layanan kesehatan di India sangat khawatir dalam menangani dan menampung pasien.

Sejumlah rumah sakit di wilayah India utara dan barat, termasuk New Delhi, telah mengeluarkan pemberitahuan bahwa stok oksigen sangat menipis. Rumah-rumah sakit tersebut melaporkan hanya memiliki beberapa jam oksigen medis yang diperlukan untuk menjaga pasien covid-19 tetap hidup.

Sementara itu, lebih dari dua pertiga rumah sakit tidak memiliki tempat tidur kosong. Para dokter menyarankan para pasien untuk tinggal di rumah.

"Situasinya sangat kritis," kata Kirit Gadhvi, Presiden Asosiasi Medis di Kota Ahmedabad. Asisten profesor di Divisi Penyakit Menular Medical University of South Carolina di Amerika Serikat, Krutika Kuppalli, menulis di Twitter bahwa pandemi di India menyebabkan runtuhnya sistem perawatan kesehatan.

Kini, total kasus virus korona di India mencapai 15,93 juta. Angka kematian akibat covid-19 menjadi 184.657 jiwa. Executive Chairman Biocon & Biocon Biologics Kiran Mazumdar Shaw menulis di Economic Times bahwa gelombang kedua covid-19 menghantam India begitu keras, sangat keras.

Saya sangat sedih melihat kenyataan ini. Kita patut prihatin atas tragedi yang menimpa India. Rasa puas diri menyebabkan India kekurangan pasokan obat-obatan, persediaan medis, dan tempat tidur rumah sakit yang tak terduga. Kehilangan kesabaran, kata Gandhi, membuat kita kalah dalam pertempuran. Sayangnya, kalimat pengingat itu telah ditanggalkan. Walhasil, di awal pertempuran gelombang kedua covid-19, India kalah.

Indonesia tentu tidak mau seperti itu. Karena itu, mudik dilarang di tengah kurva kasus korona di Tanah Air mulai melandai mesti dimaknai sebagai pekik peringatan. Saat kerumunan dan beragam festival belum diizinkan, itu merupakan lonceng kewaspadaan. Puas diri, hilang kesabaran, lengah di tengah hingga ujung jalan ialah musuh besar kemenangan. Kita menolak kalah.



Berita Lainnya
  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.