Jumat 16 April 2021, 05:00 WIB

Relevansi Sosial Vaksin Terawan

Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group | Editorial
Relevansi Sosial Vaksin Terawan

Mi/Ebet
Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group.

MEMBACA berita kontroversi vaksin Nusantara yang dikembangkan mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto membuat saya harus membolak-balik ulang buku Sikap Ilmiah dan Kritik Kebudayaan yang ditulis sosiolog Ignas Kleden.

Di pengantarnya, Ignas menulis setiap pemikiran yang mencoba bergulat dengan persoalan sosial akan menghadapi suatu kesulitan tetap. Kesulitan tetap itu ialah pilihan untuk menjadi pemikiran yang secara intelektual cukup berdasar dan dapat dipertanggungjawabkan dengan risiko terlambat memenuhi kebutuhan sosial, atau pilihan untuk menjadi relevan secara sosial pada waktu yang tepat dengan risiko pemikiran tersebut compang-camping secara intelektual.

Sebelum vaksin, terapi brain wash Terawan untuk melancarkan peredaran darah di kepala dengan alat digital subtraction angiography (DSA) telah mengundang kontroversi. Dalam istilah Ignas Kleden terjadi pertarungan antara relevansi intelektual dan relevansi sosialnya.

Secara intelektual, Ikatan Dokter Indonesia menyatakan terapi cuci otak Terawan belum teruji. DSA, menurut IDI, hanyalah alat diagnosis. Majelis Kehormatan Etik Kedokteran pada April 2018 menetapkan Terawan melanggar kode etik dan mendapat sanksi pemecatan sementara.

Secara sosial, pasien merasakan manfaat dicuci otaknya oleh Terawan. Sejumlah nama besar, seperti Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Prabowo Subianto, Abu Rizal Bakrie, Sudi Silalahi, Dahlan Iskan, merasakan manfaat terapi cuci otak Terawan.

Kini, giliran vaksin Nusantara Terawan yang mengundang dan mengandung kontroversi. Dalam bahasa Ignas Kleden, vaksin Terawan menghadapi pertarungan antara relevansi intelektual dan relevansi sosial.

Secara intelektual, Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) menyatakan 20 dari 28 relawan yang menjalani uji klinis fase 1 vaksin Terawan mengalami kejadian tidak diinginkan. Relawan mengalami antara lain nyeri lokal, nyeri otot, nyeri sendi, nyeri kepala, penebalan, kemerahan, gatal, lemas, demam, batuk, dan pilek. Bahkan sejumlah relawan mengalami hipernatremi, peningkatan blood urea nitrogen, dan peningkatan kolesterol.

Secara sosial, mereka yang merasakan manfaat terapi cuci otak Terawan berpikiran vaksin Terawan punya relevansi sosial. Abu Rizal Bakrie, Dahlan Iskan, dan sejumlah banyak anggota DPR diambil sampel darah mereka untuk uji klinis fase kedua. Sampel darah itu diolah selama tujuh hari menjadi vaksin lalu disuntikkan ke tubuh tujuh hari kemudian. Terawan mengklaim vaksinnya relevan alias mujarab mencegah virus seumur hidup.

Di tengah ancaman embargo vaksin oleh negara-negara pembuat vaksin, keberadaan vaksin Nusantara, juga vaksin Merah Putih, kiranya menjadi lebih relevan secara sosial bila kedua vaksin bisa segera diadakan. Akan tetapi, Badan POM menyebutkan komponen utama, seperti antigen, hingga alat-alat untuk membuat vaksin Terawan harus diimpor dari Amerika. Ini menyebabkan pengembangannya membutuhkan waktu dua sampai lima tahun. Kita kiranya tidak punya waktu sebegitu lama karena kebutuhan vaksin untuk membentuk imunitas masyarakat kita sangat mendesak.

Pada titik ini, meminjam istilah Ignas Kleden, kita dihadapkan pada kesulitan tetap, yakni memilih relevansi intelektual atau relevansi sosial. Kita dihadapkan pada pilihan menunggu vaksin Terawan lolos uji klinis yang secara ilmiah berdasar dan dapat dipertanggungjawabkan dengan risiko terlambat memenuhi kebutuhan sosial atau segera menggunakannya untuk kebutuhan sosial mendesak, tetapi compang-camping secara ilmiah alias mengakibatkan kejadian tak diinginkan?

Kita idealnya mendamaikan relevansi intelektual dan relevansi sosial. Negara semestinya memfasilitasi pengujian vaksin Terawan secara intelektual supaya ia bisa segera digunakan untuk mendatangkan relevansi atau manfaat sosial. Ini kiranya tugas Badan POM.

Akan tetapi, Badan POM harus patuh pada prosedur ilmiah uji klinis vaksin. Badan POM, misalnya, tempo hari tidak bisa memenuhi permintaan presiden untuk mempercepat uji klinis vaksin Sinovac supaya bisa segera digunakan. RSPAD Gatot Soebroto kiranya yang memfasilitasi uji klinis vaksin Terawan.

Pada akhirnya gagasan intelektual yang diterima secara luas ialah yang paling siap memenuhi kebutuhan sosial. Mereka yang menerima gagasan vaksin Terawan yang akan menggunakannya untuk mendatangkan manfaat sosial bagi mereka dengan segala risiko medisnya. Sebagian besar masyarakat kiranya menerima gagasan vaksin yang telah melewati uji klinis dan menggunakannya untuk mendatangkan manfaat sosial bagi mereka meski mereka harus bersabar menunggu giliran.

Baca Juga

MI/Ebet

Bodoh-bodohi Kepala Daerah

👤Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group 🕔Senin 10 Mei 2021, 05:00 WIB
BUKAN membangun daerah, kepala daerah itu membangun...
MI/Ebet

Menyudahi Konspirasi

👤Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group 🕔Sabtu 08 Mei 2021, 05:00 WIB
MELIHAT kerumunan puluhan ribu orang di Pasar Tanah Abang, Jakarta, saat covid-19 masih merajalela membuat saya mengurut...
MI/EBET

Memasuki Rumah Ibadah Agama Lain

👤Usman Kansong, Dewan Redaksi Media Group 🕔Jumat 07 Mei 2021, 05:00 WIB
SAYA mengunjungi Madrasah Al-Kairaouine di Kota Tua Fez, Maroko, pada 2017. Dibangun pada 859 M, Al-Kairaouine menjadi madrasah tertua di...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Berharap tidak Ada Guncangan Baru

LAPORAN Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2021 tumbuh di angka -0,74% (year on year/yoy).

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya