Headline

Tradisi halal bi halal untuk menyempurnakan ibadah puasa Ramadan.

Visi Kenabian di Peta Jalan Pendidikan

Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group
09/3/2021 05:00
Visi Kenabian di Peta Jalan Pendidikan
Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

AGAMA tersusun atas akhlak, akidah, dan ibadah. Namun, kiranya banyak di antara kita yang mereduksi agama menjadi akidah dan ibadah. Sekurang-kurangnya, mereka lebih mementingkan akidah dan ibadah.

Mementingkan akidah bisa memicu pertentangan. Kita seringkali mempertentangkan akidah agama kita dengan akidah agama lain. Pertentangan akidah bisa juga terjadi dalam satu agama, misalnya antara Ahmadiyah dan Islam arus utama atau antara Protestan dan Saksi Yehovah. Mereka saling mengafirkan. Kafir-mengafirkan biasanya berurusan dengan akidah.

Berlebihan dalam memegang teguh akidahnya sendiri bahkan bisa memicu radikalisme dan terorisme. Islamic State, misalnya, mengidap paham taqfiri, yakni paham yang mengafirkan sesama muslim dan penganut agama lain. Mereka menebar teror mematikan terhadap siapa pun yang mereka anggap kafir atau murtad.

Pun mengedepankan ibadah bisa memantik pertengkaran. Dalam Islam terjadi pertengkaran antara mereka yang salat subuh memakai qunut dan yang tidak.

Agama tersusun setidaknya atas akhlak dan fikih. Akan tetapi, kiranya tak sedikit yang mengidentikkan agama dengan fikih semata. Paling tidak mereka lebih mengedepankan fikih ketimbang akhlak.

Fikih juga seringkali menyebabkan perbedaan bahkan permusuhan. Fikih Muhammadiyah berbeda dengan fikih Nahdlatul Ulama. Syiah bermusuhan dengan Sunni gara-gara perkara fikih.

Para nabi sesungguhnya diturunkan ke muka bumi pertama-tama untuk mengubah akhlak. "Aku tidak diutus kecuali untuk memperbaiki akhlak," kata Nabi Muhammad. Ajaran atau perintah terkait akidah dan ibadah datang kemudian.

Kita-kiranya bersepakat perihal akhlak. Semua agama, peradaban, kebudayaan, bersepakat bertengkar itu buruk. Celaka bila pertengkaran itu disebabkan perbedaan akidah dan tata cara ibadah. Dibutuhkan akhlak mendamaikan pertengkaran itu.

Pula, semua agama, peradaban, kebudayaan, bersepakat korupsi itu buruk. Ketua KPK Firli Bahuri merumuskan korupsi sebagai kekuasaan plus kesempatan minus integritas. Integritas terkait erat dengan akhlak. Supaya korupsi berkurang, perlu pendidikan akhlak.

Celakanya, sejumlah koruptor kita kenal sebagai ahli ibadah. Ada koruptor bertitel haji bahkan berkali-kali berhaji sehingga bila boleh, gelar ‘H’ dipasang berderet di depan namanya. Sejumlah koruptor berasal dari partai politik berideologikan agama yang semestinya urusan akidah mereka sudah beres. Mereka kiranya tidak berakhlak meski rajin beribadah dan berakidah.

Itulah sebabnya banyak ulama dan cendekiawan mengutamakan akhlak. Saya beberapa tahun lalu membaca artikel Haidar Bagir di Majalah Tempo yang mengajak kita lebih mengedepankan akhlak ketimbang akidah dan ibadah. Saya sedang membaca buku yang ditulis Jalaluddin Rachmat berjudul Dahulukan Akhlak di Atas Fikih.

Mendahulukan akhlak bukan berarti mengabaikan atau meninggalkan akidah, ibadah, dan fikih. Tidaklah berakhlak mereka yang mendahulukan akhlak, tetapi melupakan akidah dan ibadah. Tidak sempurna beragama mereka yang mengutamakan akhlak, tapi meninggalkan ibadah dan akidah.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan diberitakan tengah merancang Peta Jalan Pendidikan 2020-2035. Kemendikbud merumuskan Peta Jalan Pendidikan itu sebagai ‘Membangun rakyat Indonesia untuk menjadi pembelajar seumur hidup yang unggul, terus berkembang, sejahtera, dan berakhlak mulia dengan menumbuhkan nilai-nilai budaya Indonesia dan Pancasila’.

Peta Jalan Pendidikan 2020-2035 itu menjadikan akhlak mulia, akhlakul karimah, sebagai salah satu tujuan pendidikan. Itu artinya peta jalan pendidikan kita mengandung visi kenabian.

Akan tetapi, organisasi keagamaan dan partai politik berbasis agama mempersoalkan Peta Jalan Pendidikan 2020-2035. Mereka mempersoalkannya karena tidak ada kata agama dalam rumusan atau konsep besar peta jalan pendidikan itu.

Mereka kiranya ingin ada kata agama secara formal. Padahal, secara substansial, ada agama di dalam peta jalan itu, yakni akhlak mulia. Sekali lagi, substansi diutusnya para nabi pembawa agama-agama ialah memperbaiki akhlak.



Berita Lainnya
  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.