Headline

Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa. 

Aliansi Ulama-Negara

Usman Kansong, Dewan Redaksi Media Group
26/2/2021 05:00
Aliansi Ulama-Negara
Usman Kansong, Dewan Redaksi Media Group(MI/EBET)

APA penyebab kemunduran negara-negara berpenduduk muslim? Apakah Islam? Ataukah kolonialisme? Atau faktor lain?

Ahmet T Kuru menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dalam bukunya berjudul Islam, Authoritarianism, and Underdevelopment: A Global and Historical Comparison yang terbit pada 2019. Dua pekan lalu, saya mengikuti diskusi buku itu secara daring dengan pembicara utama penulisnya yang merupakan guru besar ilmu politik di San Diego State University, Amerika. Saya mendapatkan buku elektroniknya setelah diskusi dari satu teman. Saya mencetaknya dan membaca bagian-bagian pentingnya.

Kalangan esensialis berteori ajaran Islam penyebab kemunduran negara-negara muslim. Ahmet Kuru mengkritik teori ini. Kata Kuru, dunia Islam pernah mengalami masa kejayaan antara tahun 697 sampai 1252. Pada saat itu, Barat menghadapi abad kegelapan. Bukan agama penyebab kemunduran karena dunia Islam pernah mengalami masa keemasan.

Kuru menunjuk tiga indikator supremasi dunia Islam. Dalam ilmu pengetahuan, dunia Islam mencapai kemajuan mulai 800 sampai 1198, sejak era para sarjana Bagdad hingga wafatnya Ibnu Rush. Dalam ekonomi, dunia Islam mencetak masa keemasan mulai 697 sampai 1252, sejak masa koin emas di Dinasti Umayah hingga koin emas di Eropa Barat. Secara militer, dunia Islam mencatat prestasi mulai 711 sampai 1085/1099, sejak penaklukan kaum muslim atas Toledo hingga Jerusalem.

Ada pula pendekatan yang menyebut kemunduran dunia Islam terjadi karena kolonialisme. Sejak abad ke-13 nyaris tak ada negara berpenduduk muslim luput dari penjajahan. Menurut pendekatan ini, penjajahan menyebabkan kemunduran ekonomi, politik, sosial budaya, dunia Islam. Kuru juga mengkritik pendekatan ini. Dunia Islam, kata Kuru, sudah mengalami kemunduran sebelum abad ke-13, sebelum kolonialisme.

Kuru mencatat kemunduran dunia Islam berlangsung ketika terbangun aliansi ulama-negara di Dinasti Seljuk. Formasi aliansi ulama-negara itu didasarkan pada dua transformasi utama. Pertama, kalangan militer mendominasi ekonomi dan menggerogoti kaum pedagang. Kedua, banyak ulama menjadi pegawai negara. Di zaman keemasan Islam, Kuru mencatat dari 3.900 ulama hanya 9% yang menjadi pegawai negara. Model aliansi ulama-negara di Seljuk diadopsi dan diadaptasi dinasti muslim berikutnya seperti Ayyubiyah, Mamluk, Otoman, Safawiyah, dan Mogul.

Di sisi lain, Eropa Barat mengalami sejumlah transformasi. Pertama, berlangsung pemisahan gereja Katolik dan kerajaan. Kedua, relasi kelas mulai berubah, pedagang menjadi kelas berpengaruh. Ketiga, universitas-universitas dibangun, menjadi basis institusional tumbuhnya kalangan intelektual. Sejak itu, Barat mengalami kemajuan hingga kini.

Intinya, Kuru ingin mengatakan aliansi ulama-negara penyebab kemunduran dunia Islam. Aliansi ulama-negara kiranya penyebab kemunduran di dunia lain, dunia Barat-Kristen. Setelah terjadi pemisahan gereja dan negara, Barat-Kristen mengalami kemajuan. Aliansi Presiden Donald Trump dan agamawan evangelical seperti Franklin Graham dalam formasi populisme sayap kanan menyebabkan kemunduran demokrasi Amerika Serikat.

Absennya aliansi agamawan-negara menjadikan negara dan ruang publik otonom, independen, netral, dari pengaruh agama. Sebaliknya, aliansi agamawan-negara menjadikan negara dan ruang publik dipengaruhi bahkan tergantung agama dan agamawan. Negara yang tergantung pada institusi lain semisal agama, menunjukkan institusionalisasi atau pelembagaan politik belum mapan. Padahal, pelembagaan politik, menurut Acemoglu dan Robinson dalam buku Why Nations Fail, menentukan kemajuan suatu bangsa.

Sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia kiranya mengambil jalan tengah, tidak 100% memutus aliansi ulama-negara, tetapi tidak juga 100% mengikat ulama dan negara. Indonesia negara bukan-bukan, bukan negara agama, bukan negara sekuler. Jalan tengah itu Pancasila. Dengan perkataan lain kita membangun aliansi ideologi Pancasila-negara.

Dalam formasi aliansi ideologi-negara, negara bertindak independen dari agama, tetapi terikat ideologi Pancasila ketika mengambil kebijakan. Surat Keputusan Bersama Tiga Menteri tentang Seragam Sekolah yang membebaskan siswa mengenakan atau tidak mengenakan seragam dengan atribut agama menunjukkan independensi negara dari agama dalam mengambil kebijakan. Bila negara terpengaruh agama, SKB tersebut mewajibkan siswa muslimah memakai jilbab di sekolah umum. Tetapi, SKB itu terikat ideologi Pancasila yang menggariskan kebebasan umat beragama menjalankan ajaran agama mereka.

Kita berketetapan aliansi ideologi Pancasila-negara kiranya menghadirkan kemajuan bagi bangsa ini kelak.



Berita Lainnya
  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.

  • Tuas Rem Trump-Khamenei

    03/2/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di bibir jurang.

  • Etika Mundur di Pasar Modal

    02/2/2026 05:00

    PATUT dicatat sebagai rekor nasional. Bila perlu dengan tinta tebal. Hanya dalam satu hari, lima pejabat otoritas keuangan mengundurkan diri.

  • Keadilan dalam Sepotong Es Gabus

    30/1/2026 05:00

    HUKUM dan keadilan mestinya berada dalam satu tarikan napas. Hukum dibuat untuk mewujudkan keadilan.

  • Kejar Jambret Dikejar Pasal

    29/1/2026 05:00

    DI negeri ini, keadilan tak jarang tersesat di tikungan logika dan persimpangan nalar.

  • Noel agak Laen

    28/1/2026 05:00

    IMANUEL 'Noel' Ebenezer memang bukan sembarang terdakwa korupsi.

  • Mudarat Paling Kecil

    27/1/2026 05:00

    RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.

  • Pengawas Mati, Korupsi Tumbuh

    26/1/2026 05:00

    KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.

  • Rupiah Vs IHSG

    23/1/2026 05:00

    ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.

  • OTT Tepat Waktu

    22/1/2026 05:00

    BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.