Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
'KAMU datang kemari untuk melucuti serdadu Jepang, bukan untuk menentang bangsa Indonesia yang cinta damai. Kamu datang dari berbagai pelosok India dari berbagai elemen agama, tetapi kamu tetap saudara dari Pandit Jawaharlal Nehru, dan putra dari Ibu Pertiwi India, di mana kita melihat Ram, Vishma, Sivaji, Ranapratap. Kamu tidak boleh melupakan masa silammu, kamu ialah turunan dari nabi-nabi yang besar. Saudara kami orang Sikh harus ingat Guru Govinda yang agung yang berjuang untuk kemerdekaan, perang suci, dan bangsa Indonesia membandingkan Indian National Congres, Hindu Mahasava, Moslim League, dan Akali Sikdal.'
Begitu bunyi penggalan selebaran yang beredar di Medan, Sumut, di masa pergolakan. Selebaran itu mengajak tentara sekutu asal India untuk bergabung membela Indonesia. Ketika pada 1946, Kota Medan diduduki tentara India-Inggris Divisi ke-26, banyak anggota pasukan yang beragama Islam menyatakan diri bergabung dengan pasukan bersenjata bangsa Indonesia. Kebanyakan mereka yang masih tinggal di Medan menjadi warga negara Indonesia berpencar mencari nafkah ke berbagai tempat di Sumatra dan Jawa.
Banyak orang Tionghoa berpihak kepada Republik. Salah satunya Chu Teng Ko. Di masa revolusi fisik, Chu dikenal sebagai tokoh Tionghoa yang membantu perjuangan kaum Republik di Medan. Dari Belawan, Chu membawa lateks (lembaran karet) ke Singapura untuk ditukar dengan senjata, amunisi, obat-obatan, pakaian, bahan makanan, suku cadang mobil dan motor, serta rokok yang dipesan kaum Republiken. Selain Chu, beberapa orang Tionghoa yang membantu Republik yang kemudian tertangkap di Belawan dan pelabuhan sekitarnya ialah Goh Sian Hui, Goh Teng Tjin, Sit Liong Seng, Sit Kim Seng, Lau Tai San, Shu Goan Tjeong, Teoh Bock Tjoan, dan perwira angkatan laut Republik yang legendaris Jhon Lie.
Tercatat empat orang Tionghoa menghadiri Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Syair lagu Indonesia Raya yang digubah WR Supratman pertama kali muncul pada 1928 di koran Sin Po milik orang Tionghoa tempat WR Supratman bekerja sebagai wartawan. Liem Koen Hian (pendiri Partai Tionghoa Indonesia, PTI), Oey Tiang Tjoei, dan Tan Eng Hoa menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), pada masa pendudukan Jepang, serta seorang pada Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), yakni Yap Tiam Bing.
Lagu Hari Merdeka yang setiap peringatan Hari Kemerdekaan kita kumandangkan diciptakan Sayyid Muhammad Husein bin Salim bin Ahmad bin Salim bin Ahmad al-Muthahar. Kita lebih mengenalnya sebagai Habib Husein Muthahar atau H Muthahar. Dari namanya terang benderang H Muthahar berdarah Arab. H Muthahar juga menciptakan lagu Syukur. Ia juga dikenal sebagai Bapak Pramuka dan Paskibraka Indonesia.
Selain H Muthahar, kita mengenal Abdurrahman Baswedan yang berkat diplomasinya, eksistensi Indonesia secara de jure dan de facto diakui Mesir dan negara-negara Arab lainnya. Serupa Baswedan, kita mengenal Hamid Algadri sebagai diplomat ulung dalam berbagai perundingan RI-Belanda. Kita juga mengenal Faradj bin Said yang kediamannya di Pegangsaan Timur No 56 Jakarta menjadi tempat Soekarno-Hatta mendeklarasikan Proklamasi. Tentu masih banyak tokoh berdarah Arab yang berkontribusi bagi Kemerdekaan Indonesia.
Negara-negara Asia dan Afrika mendukung Kemerdekaan RI antara lain karena 'perasaan' senasib-sepenanggungan sebagai negara jajahan. Itulah yang kemudian melahirkan Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika di Bandung pada 1955. Dalam konferensi itu mereka mencanangkan kerja sama ekonomi sembari menentang kolonialisme dan neokolonialisme.
Sejumlah organisasi asing mendukung Kemerdekaan Indonesia. Salah satunya Ikhwanul Muslimin di Mesir. Syahrir dan H Agus Salim menjumpai pimpinan Ikhwanul Muslimin Hassan Al-Banna untuk mengucapkan terima kasih atas dukungan organisasi tersebut. Organisasi lain yang membantu Kemerdekaan RI ialah National Maritime of USA, organisasi buruh pelayaran Amerika Serikat. Mereka memboikot 11 kapal Belanda yang akan mengirim perlengkapan perang dan logistik bagi serdadu Belanda di Indonesia. Tentu masih banyak kelompok dan individu asing yang menyokong Kemerdekaan Indonesia.
Arab, India, dan Tionghoa, seringkali dianggap sebagai 'suku-suku pendatang'. Mereka memeluk agama berbeda-beda. Arab sudah barang tentu beragama Islam. Tionghoa kebanyakan beragama Konghucu atau Buddha. Orang India yang bergabung membela Indonesia di masa pergolakan kebanyakan beragama Islam, tetapi, seperti kita baca di selebaran, mereka membantu Indonesia mempertahankan kemerdekaan Indonesia disemangati bukan saja oleh nilai-nilai Islam, melainkan juga Hindu dan Sikh.
Sejarah memperlihatkan orang-orang Arab, India, dan Tionghoa, bahkan ketika mereka mungkin belum menjadi orang Indonesia, berkontribusi pada Kemerdekaan Indonesia secara proporsional, sesuai kemampuan dan situasi pada saat itu. Jangan ada yang merasa paling berkontribusi bagi Kemerdekaan RI. Orang-orang Arab, India, Tionghoa dengan agama yang mereka peluk masing-masing sama-sama berteriak, "Merdeka!"
POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita
SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan
PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik.
"SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."
SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.
MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.
LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.
ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.
DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.
DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.
SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan
TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.
LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.
'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved