Headline

SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

Mengubah Sikap

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
18/8/2020 05:00
Mengubah Sikap
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

PESAN yang disampaikan Presiden Joko Widodo pada pidato kenegaraan dalam rangka peringatan HUT ke-75 kemerdekaan Republik Indonesia sangat menggugah. 

Dengan pidato yang penuh penekanan, Presiden mengajak kita agar wabah covid19 tidak membuat bangsa ini berjalan mundur, tetapi harus bisa melakukan lompatan besar. Di kolom ini berulang kali kita sampaikan, kita tidak boleh menjadi bangsa yang kalah dua kali. Kalah karena tidak bisa menangani covid-19 dan kalah karena tidak bisa memetik pengalaman, bahkan tidak mampu melakukan transformasi menjadi negara yang berjaya.

Pertanyaannya, bagaimana melakukan lompatan besar itu? Jawabannya ada pada cara berpikir dan cara bersikap. Kita tidak pernah bisa melakukan lompatan besar apabila mindset kita selalu negatif dan pesimistis. Bangsa yang besar itu adalah bangsa yang mempunyai mimpi besar dan kemauan besar untuk meraihnya.

Kedua ialah cara bersikap. Revolusi mental yang digaungkan Presiden Jokowi pada masa pemerintahannya pertama harus terus digulirkan dan konsisten dijalankan. Tidak mungkin kita akan bisa menjadi bangsa berjaya apabila tidak mempunyai kultur disiplin dan kerja keras.

Lagi-lagi kita harus mengingatkan apa yang ditulis ahli sosiologi Samuel L Huntington dalam bukunya berjudul Culture Matters. Bangsa Korea bisa melompat menjadi bangsa maju karena memiliki kultur yang kuat. Mereka menempa bangsanya dengan disiplin dan etos kerja keras. 
Dengan sikap mampu menghargai waktu, mereka bisa menghasilkan produksi dan reproduksi karya yang bernilai tambah tinggi.

Mari kita becermin kepada diri kita sebagai bangsa. Ketika kita belum bisa mematuhi aturan lalu lintas dengan benar, jangan harap kita akan bisa memiliki disiplin dalam kehidupan yang lebih luas. Tanpa ada disiplin yang kuat, jangan harap kita akan mampu melakukan lompatan besar.

Apalagi sekarang kita hidup di era lifestyle menjadi simbol. Di acara-acara televisi kita lihat bagaimana nikmatnya hidup sebagai orang kaya. Namun, tidak pernah digambarkan sulitnya perjuangan menjadi orang kaya itu.  Akibatnya yang muncul sikap jalan pintas. Kita tidak peduli dengan cara untuk meraih kekayaan. Kalau korupsi marak terjadi, karena kita gagal memaknai gaya hidup itu.

Sekarang di masa wabah covid-19 ini, kita sebenarnya dituntut untuk bekerja dengan cara yang luar biasa. Tidak mungkin kita bekerja dengan cara biasa-biasa karena keadaannya luar biasa. Harus ada terobosan yang dilakukan karena dibutuhkan kecepatan dalam mengambil keputusan. Istilah yang dipakai Presiden, jangan sampai orang sudah telanjur terkapar baru bantuan diberikan.

Mengapa perintah Presiden untuk bertindak cepat menangani krisis ini tidak kunjung berubah? Karena cara berpikir kita ialah serba tidak percaya. Karena khawatir langkah-langkah penanganan krisis menimbulkan moral hazard, aturannya diperketat untuk mencegah penyimpangan.

Oleh karena cara berpikirnya selalu takut dan curiga, tidak ada yang berani untuk mengambil tindakan. Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional sudah hampir satu bulan dibentuk, lalu langkah kegiatan apa yang sudah bisa dikerjakan? Semua menunggu persetujuan rencana anggaran. 

Stimulus kesehatan dan ekonomi sebesar Rp695 triliun pun baru sebagian kecil dipergunakan. Pertanyaannya, mengapa bangsa lain bisa begitu cepat menggelontorkan stimulus untuk mempercepat pemulihan ekonomi mereka? 

Karena mereka membangun kultur percaya. Mereka tidak pernah berangkat dari ketidakpercayaan, tetapi selalu menganggap setiap orang itu mempunyai niat yang baik. Lalu, bagaimana kalau ada orang yang melanggar  kepercayaan itu? 

Hukumlah yang kemudian menjadi panglimanya. Ketika orang yang diberi kepercayaan tidak menjalankan kepercayaan yang diberikan, ia akan diberikan hukuman yang keras. Bukan hanya hukuman pidana, melainkan juga hukuman sosial.

Cobalah sekali-sekali menyusuri Sungai Tokyo di Jepang. Di sepanjang bantaran kali ada tenda-tenda kumuh yang dihuni orang. Mereka ialah orang yang melanggar kepercayaan yang telah diberikan. Bahkan, keluarganya pun tidak mau peduli karena orang itu telah mencoreng nama baik keluar.

Lompatan besar yang diharapkan Presiden dalam masa pandemi covid-19 bukan sekadar kita bisa berdikari dan mengejar ketertinggalan dalam arti kebendaan. Yang jauh lebih penting ialah lompatan dalam sikap dan perilaku.

Covid-19 harus bisa membawa bangsa ini membangun peradaban yang lebih tinggi. Kuncinya terletak dari kemauan kita membangun kultur yang lebih terbuka, maju, modern, menghargai perbedaan, menghargai keberagaman, disiplin, dan kompetitif.

Ditambah dengan sikap untuk tidak mau kalah dari bangsa lain, kita akan bisa menjadi bangsa pemenang. Dirgahayu Republik Indonesia!



Berita Lainnya
  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.