Headline

Gara-gara Yaqut, Noel ikut ajukan jadi tahanan rumah.

Selamatkan Pertanian

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
12/6/2020 05:00
Selamatkan Pertanian
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

PEMERINTAH telah memutuskan memberi kesempatan kepada sembilan sektor untuk memulai kembali kegiatan mereka. Kesembilan sektor tersebut dipilih karena risiko penyebaran covid-19 rendah, tetapi memberi dampak yang besar kepada pembukaan lapangan pekerjaan dan signifikan kepada perekonomian.

Sembilan sektor itu ialah pertanian dan peternakan, perkebunan, perikanan, industri manufaktur, konstruksi, logistik, transportasi barang, pertambangan, dan perminyakan.

Pilihan pemerintah secara bertahap membuka kegiatan masyarakat produktif dan aman covid-19 merupakan langkah yang tepat. Kita memang harus menemukan model yang tepat sebelum semua kegiatan diperbolehkan untuk bergerak lagi. Dengan langkah bertahap ada kesempatan untuk melakukan penyesuaian, perbaikan dengan menerapkan sistem monitoring dan evaluasi.

Dashboard yang dimiliki Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 memang bisa memantau penyebaran virus di seluruh Indonesia setiap hari. Dari pengolahan data yang dilakukan setiap minggu, maka bisa diketahui perubahan status di setiap kabupaten/kota. Pekan ini misalnya, sistem ‘Bersatu Lawan Covid-19’ mencatat perubahan 10 status kabupaten/kota dari zona hijau menjadi zona kuning.

Apabila perubahannya menuju oranye atau merah, kabupaten/kota akan kembali ditutup dan dilarang melakukan kegiatan masyarakatnya. Ini tentunya menjadi pemacu kepada Ketua Gugus Tugas di kabupaten/kota agar selalu mengingatkan warganya untuk disiplin menerapkan protokol keamanan. Kalau semua komponen yang ada di kabupaten/kota tidak mengindahkan protokol kesehatan, mereka semua akan kembali ke kehidupan yang penuh dengan pembatasan.

Pemberian kesempatan kepada sembilan sektor untuk memulai kembali kegiatan mereka sangat baik untuk membangun harapan masyarakat dan sekaligus menyelamatkan negara ini, terutama pembukaan sektor pertanian baik itu pertanian, peternakan, perikanan, dan perkebunan sangat berkaitan dengan ketersediaan pangan nasional.

Hasil kajian Institut Pertanian Bogor pantas membukakan kesadaran kita semua. Pandemi covid-19 sekarang ini sangat memukul sektor pertanian. Kalau sektor ini tidak diselamatkan, yang dipertaruhkan adalah eksistensi negara ini.

Mengapa? Hasil produk pertanian bisa turun sampai minus 10,4% karena pembatasan orang untuk melakukan kegiatan di sektor pertanian. Kalau sekarang kegiatan pertanian diperbolehkan untuk dilakukan kembali, dibutuhkan stimulus kepada para petani. Dengan stimulus itu pun, produksi pertanian tidak bisa terhindarkan akan tetap turun minus 2,86%.

Bagaimana dengan jumlah lapangan pekerjaan? Jumlah orang yang bisa diserap di sektor pertanian kalau tidak dilakukan pemberian stimulus akan berkurang sampai 17,78%. Kalau pemerintah memberikan stimulus, pengurangan daya serap tenaga kerja bisa sedikit diperbaiki, tetapi tetap terjadi penurunan sebesar 7,75%.

Yang paling dikhawatirkan ialah menurunnya daya beli petani sebab 60% penduduk Indonesia masih hidup dari sektor pertanian. Kalau daya beli mereka menurun tajam, kemampuan konsumsi akan ikut menurun dan ini akan berdampak kepada industri lain.

Untuk itulah pemerintah harus memberikan stimulus kepada keluarga petani. Hal itu harus dilakukan dua cara sekaligus, yaitu pertama, memberikan bantuan langsung tunai kepada keluarga petani agar mereka masih memiliki daya beli. Kedua, memberi stimulus berupaya modal untuk input produksi pertanian mereka.

Hasil analisis yang dilakukan peneliti IPB, apabila stimulus tidak diberikan, daya beli petani akan menurun sampai 10,55%. Kalau pemerintah bisa secara tepat memberi stimulus, bukan hanya penurunan daya beli bisa ditekan sampai 3,9%, tetapi bahkan pada akhir tahun ini daya beli petani masih bisa tumbuh sebesar 0,63%.

Kita tidak pernah bosan mengingatkan pemerintah untuk fokus kepada sektor pertanian karena ini merupakan kekuatan sekaligus kelemahan kita. Kita memiliki sumber daya alam yang melimpah, yang kalau bisa kita optimalkan  bisa memberikan kesejahteraan kepada seluruh rakyat. Sayang, sektor pertanian setelah swasembada pangan 1984 sedikit dilupakan dan akibatnya kita terlalu tergantung pada impor.

Sekarang jangan lupa, dunia dihadapkan kepada kemungkinan penurunan produksi pangan akibat pandemi covid-19. Semua negara fokus kepada pemenuhan kebutuhan negaranya sendiri. Kalau tidak mampu memenuhi kebutuhan sendiri, kita akan dihadapkan kekurang an pangan dan itu akan memberatkan rakyat untuk memenuhi kebutuhan pangannya.

Kelemahan yang kita miliki, krisis pangan bisa berimbas kepada krisis politik. Sejak zaman Orde Lama, pemerintahan bisa dipaksa diturunkan ketika tidak mampu memenuhi kebutuhan rakyat. Pemerintah Orde Baru bahkan berani membayar at all cost demi memenuhi kebutuhan pangan rakyat.

Sekarang ini seharusnya menjadi momentum bagi kita untuk membangun kembali sektor pertanian. Kalau kita konsentrasi penuh kepada pembenahan sektor pertanian, ini bisa menjadi pendorong kebangkitan ekonomi pascapandemi covid-19. Kita memiliki pasar yang besar untuk dijadikan pijakan membangun pertanian. Bahkan dengan itulah kita bisa ikut memberi ‘makan’ kepada dunia.

 

 

 

 

 

 

 

 



Berita Lainnya
  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita