Headline

SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

Kesehatan dan Ekonomi

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
24/4/2020 05:30
Kesehatan dan Ekonomi
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

HEALTH is not everything, but everything is nothing without health. Pemeo ini pas untuk menjelaskan pemikiran sebagian orang yang suka mempertentangkan antara kesehatan dan ekonomi. Apalagi pada saat wabah covid-19 seperti sekarang.

Ada yang suka menempatkan kedua persoalan ini dalam pilihan antara ini atau itu. Seakan-akan salah satu menjadi lebih penting. Apalagi ketika dalam wabah seperti sekarang ini banyak jatuh korban dan terjadi bersamaan di seluruh dunia.

Pandangannya, banyak orang sakit dan mereka itu harus diobati, sehingga kesehatan harus diutamakan. Padahal jauh lebih penting itu ialah bagaimana membuat orang tetap sehat dan tidak sampai jatuh sakit. Tepat jika target yang ditetapkan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 menjaga yang sehat tetap sehat, yang kurang sehat dibuat menjadi sehat, dan yang sakit diusahakan menjadi sembuh.

Untuk membuat orang tetap sehat, yang paling utama dilakukan ialah makanannya harus bergizi. Yang selalu diajarkan kepada kita ialah mengonsumsikan makanan “empat sehat, lima sempurna”. Ditambah lagi dengan asupan vitamin, rutin berolahraga, dan istirahat cukup.

Agar kita bisa mengonsumsi makanan yang bergizi, kita harus memiliki ekonomi yang baik. Kalau seorang petani ingin mendapatkan makanan mencukupi bagi keluarganya, dia harus bekerja. Tidak mungkin kita mempunyai kesehatan baik tanpa ditopang ekonomi yang baik.

Di sinilah kita tidak mungkin memisahkan antara kesehatan dan ekonomi. Untuk mendapatkan kesehatan yang baik, kita membutuhkan ekonomi kuat. Sebaliknya, untuk membangun ekonomi kuat dibutuhkan kesehatan yang baik.

Untuk itulah, di tengah upaya kita memerangi penyebaran wabah virus korona, yang harus diupayakan jangan sampai ekonomi mati. Terutama yang berkaitan dengan kebutuhan pokok harus terjamin ketersediaannya dan keterjangkauannya. Apalagi menjelang kita memasuki bulan puasa dan tidak lama lagi Lebaran.

Presiden Joko Widodo sudah mengingatkan agar harga-harga bahan pokok dapat dikendalikan. Kenyataannya, sekarang ini harga kebutuhan pokok sudah mulai naik. Gula pasir yang bulan lalu masih Rp11.000 per kg, sekarang sudah menjadi Rp19.000.

Kementerian Perdagangan tidak bisa lepas tangan dan membiarkan harga tidak terkendali seperti sekarang. Pejabat sekarang harus berani seperti Enggartiasto Lukita saat menjadi Menteri Perdagangan. Menjelang puasa, para produsen dan pedagang bahan pokok dikumpulkan di kementerian. Mereka diwajibkan mengendalikan harga-harga agar tidak melonjak tinggi.

Tidak tanggung-tanggung Enggar memasukkan para pengusaha itu di dalam satu ruangan untuk mencapai kesepakatan  mengendalikan harga. Sepanjang belum ada kesepakatan, mereka tidak diperbolehkan meninggalkan ruangan dan kalau perlu menginap di Kementerian Perdagangan.

Sekarang ini keadaan jauh lebih sulit. Dalam situasi seperti sekarang, banyak pihak mencoba mencari keuntungan yang tidak wajar. Harga masker saja bisa naik empat sampai lima kali lipat karena tidak dikendalikan harganya. Kalau kita tidak bisa menjaga tingkat inflasi, daya beli masyarakat akan semakin tertekan ke bawah.

Sikap business as usual yang dilakukan Kementerian Perdagangan membuat ekspor impor juga tidak bisa berjalan. Padahal banyak kebutuhan bahan baku yang tidak bisa menunggu. Industri-industri mulai berteriak kehabisan bahan baku.

Kondisi ini semakin menekan dunia usaha. Di satu sisi, mereka diminta tidak cepat-cepat melakukan pemutusan hubungan kerja, tetapi di sisi lain mereka tidak bisa melakukan produksi untuk menopang kelangsungan usaha mereka.

Kamar Dagang dan Industri sudah meminta pemerintah untuk minimal membantu membayari gaji karyawan swasta selama tiga bulan. Tanpa ada kegiatan usaha yang memberikan pemasukan, tidak ada satu pun perusahaan yang sanggup bertahan.

Bahkan Kadin sudah mengingatkan pemerintah untuk menambahkan stimulus fiskalnya. Tidak cukup lagi pemerintah menganggarkan Rp405 triliun untuk stimulus ekonomi, tetapi mininal Rp1.600 triliun. Sepanjang tidak ada jalan keluar, kita akan menghadapi jalan buntu. Ketika ekonomi tidak mampu menopang, kesehatan pun akan berada dalam bahaya.



Berita Lainnya
  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)