Headline

SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

Populisme Covid-19

Usman Kansong, Dewan Redaksi Media Group
15/4/2020 05:30
Populisme Covid-19
(MI/EBET)

PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump memang doyan menolak ilmu pengetahuan, antisains.

Trump tidak percaya pemanasan global itu ada. Padahal, sains mengatakan suhu bumi terus meningkat yang menyebabkan es di kutub mencair dan permukaan air laut naik.

Trump juga tidak percaya covid-19 sangat ganas. Katanya, covid-19 itu serupa flu biasa. Padahal, sains mengatakan covid-19 lebih berbahaya jika dibandingkan jenis virus korona lainnya, bisa menular dari manusia ke manusia secepat angin.

Berbagai literatur tentang populisme menyebut Trump sebagai pemimpin populis. Literatur tentang populisme juga menyebut salah satu ciri pemimpin populis ialah antisains.

Populisme ialah politik yang menghadap-hadapkan elite dan rakyat. Sikap antisains Trump merupakan upaya membenturkan elite ilmuwan dengan rakyat kebanyakan.

Sikap antisains Trump berimplikasi pada kebijakan. Mungkin karena tidak percaya ada pemanasan global, Trump menarik diri dari Paris Agreement, kesepakatan untuk mengurangi emisi karbon. Karena menganggap covid-19 flu biasa, Trump kelewat optimistis badai covid-19 lekas berlalu sehingga ia terlambat menjalankan kebijakan antisipasi penyebarannya.

Kesimpulan ilmiah pemimpin populis antisains tentu suatu generalisasi, simplifikasi. Sains, apalagi ilmu sosial, senantiasa mengandung bias generalisasi dan simplifikasi.

Pemimpin populis antisains betul berlaku untuk Trump. Dia mungkin ‘dari sononya’ sudah antisains. Begitu lahir, Trump sudah jadi orang kaya. Bapaknya pengembang properti sukses. Ibaratnya, begitu lahir bayi lain menangis karena tidak tahu apakah bisa minum susu, bayi Trump menangis karena bingung menghabiskan harta bapaknya. Sebagai anak orang kaya, Trump mungkin merasa tidak perlu disiplin menimba sains di sekolah. Waktu duduk di kelas dua sekolah dasar, ia memukul gurunya.

Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte diindetifikasi sebagai pemimpin populis. Dia didukung Five Stars Movement, partai politik populis sayap kanan. Namun, Conte tidak antisains, setidaknya dalam kasus covid-19.

Italia termasuk sigap mengantisipasi penyebaran covid-19. Sebulan sebelum kasus pertama dilaporkan, Kementerian Kesehatan Italia telah membentuk satgas penanganan virus korona. Italia bahkan menjadi negara Uni Eropa pertama yang memberlakukan pelarangan penerbangan dari dan ke Tiongkok. Kalaupun korban terjangkit dan meninggal dunia akibat covid-19 sangat tinggi, itu karena metode pengetesan yang keliru serta penduduk Italia yang lebih dari 80% berusia lanjut.

Presiden Jokowi termasuk pemimpin populis. Menurut pakar politik Marcus Mietzner, populisme Jokowi bersifat pragmatis, moderat, dan inklusif. Jokowi bukan tipe pemimpin populis antisains, setidaknya dalam kasus covid-19.

Jokowi memang terkesan optimistis. Tapi optimisme itu dibangun dari sains juga. Sains mengatakan tingkat kesembuhan covid-19 tinggi. Sains mengatakan iklim tropis seperti di Indonesia menghambat perkembangan covid-19. Berdasarkan sains itu, Jokowi mengajak rakyat optimistis covid-19 bisa dikalahkan.

Sains mengatakan menjaga jarak fisik dan sosial bisa memutus penyebaran covid-19. Berdasarkan itu, pemerintah mengeluarkan kebijakan social distancing dan kemudian Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Bila Jokowi tidak menerapkan lockdown, itu bukan karena dia antisains, melainkan itu pilihan yang disesuaikan dengan kondisi Indonesia.

Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto  awalnya mengatakan yang sehat tak perlu bermasker karena menurut sains, covid-19 menular dari yang sakit terjangkit covid-19. Tetapi sains terus berkembang bahwa banyak yang terjangkit covid-19 tidak menunjukkan gejala. Yang sakit ataupun sehat dianjurkan memakai masker. Pemerintah mengeluarkan kebijakan meminta bahkan mewajibkan rakyat pada tingkat tertentu, misalnya ketika naik kendaraan umum, memakai masker. Pak Menkes pun kini rajin ‘maskeran.’

Pelajarannya tidak semua pemimpin populis antisains dan pemimpin mestinya tidak antisains. Pemimpin harus melandaskan kebijakannya pada sains. Namun, sains terus berkembang bahkan sangat cepat, termasuk sains tentang covid-19. Pemimpin harus membuka diri untuk mengubah dan mengembangkan kebijakannya berdasarkan sains yang terus berubah dan berkembang.



Berita Lainnya
  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)