Headline

SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

Bumi Jeda Minum Kopi

Usman Kansong, Dewan Redaksi Media Group
08/4/2020 05:30
Bumi Jeda Minum Kopi
(MI/EBET)

SYAHDAN, pada 1854, fisikawan Jerman Hermann von Helmholtz menyadari hukum termodinamika dapat diterapkan pada alam semesta. Hukum kedua dari tiga hukum termodinamika, membahas apa yang disebut entropi. Entropi bermakna ketidakteraturan, ketidakseimbangan.

Sudah menjadi hukum alam bahwa suatu perubahan atau proses yang dapat terjadi dengan sendirinya (spontan) cenderung berlangsung menuju keadaan lebih tidak teratur atau peningkatan derajat ketidakteraturan (entropi). Itu artinya, alam semesta dan seisinya pada waktunya hancur, musnah, binasa.

Akan tetapi, manusia menantang proses entropi, untuk setidaknya menunda kehancuran. Manusia menantang entropi spontan dengan upaya terdesain, entah itu berupa intervensi, rekayasa, atau adaptasi. Kloning, rekayasa genetika, perbaikan gizi dan pola hidup, sampai bertaburannya klinik, obat, atau kosmetik antipenuaan merupakan upaya menantang entropi. Hasilnya, antara lain meningkatnya usia harapan hidup manusia. Bahkan konon ada ilmuwan yang terus meneliti untuk mengusahakan agar kelak kehidupan kekal.

Namun, akibatnya, kata Thomas J Bollyky, konsultan kesehatan masyarakat, “Dunia terlalu sehat.” Celakanya, dunia yang terlalu sehat menyebabkan bumi sakit. Manusia sehat dengan ekonomi sehat mengonsumsi makanan dan energi dengan rakus yang menyebabkan bumi sakit karena polusi.

Bumi yang sedang sakit, dalam bahasa James Ephraim Lovelock, ialah bumi yang sedang tak bisa mencapai kesimbangan untuk menopang dirinya sendiri. Pada 1970-an, Lovelock, ilmuwan, enviromentalis, dan futuris, mengajukan teori yang disebut hipotesis Gaia. Gaia artinya bumi dalam bahasa Yunani. Hipotesis Gaia memformulasikan bumi punya sistem mengatur diri sendiri, swakelola.

Jika karena suatu keadaan bumi tak bisa mencapai keseimbangan untuk menopang kehidupannya, Gaia membuat umpan balik sibernetik yang mendorong mikroorganisma yang sebelumnya tersembunyi untuk menjaga keseimbangan sistem dengan cara tertentu.

Dalam sejarah, mikroorganisma bernama influensa, kolera, cacar, SARS, MERS, ebola, hadir menjaga keseimbangan bumi dengan cara mereka sendiri. Kini, hadir mikroorganisma bernama covid-19 menjenguk bumi yang sedang sakit untuk mendorong bumi menjaga keseimbangannya, memulihkannya, dengan cara tertentu.

Tanda-tanda kesimbangan bumi mulai terlihat. Langit cerah tanpa polusi. Halaman depan harian ini edisi Rabu, 8 April 2020, menampilkan foto langit bersih Jakarta. Begitu bersihnya langit Ibu Kota, Gunung Gede Pangrango yang biasanya tersembunyi di balik polusi terlihat jelas. Sejak kemarin pula, jagat maya diramaikan dengan unggahan foto langit bersih tanpa polusi.

Langit cerah tanpa polusi karena bumi sedang jeda dari pergerakan manusia yang bepergian atau bekerja menggunakan mesin-mesin rakus energi. Kita manusia belajar, bekerja, dan beribadah di rumah. Kita jeda, bumi pun jeda. Jedanya kita membuat covid-19 bisa segera kembali ke alamnya, tak perlu terlalu lama menjenguk kita, karena bumi lekas pulih kembali.

Itu artinya, meski punya kemampuan swakelola, bumi tetap memerlukan partisipasi kita sebagai penghuni bumi. Pemerintah terlibat membuat dan menerapkan berbagai kebijakan dan protokol untuk mencegah penyebaran covid-19 dan mengobati yang positif covid-19. Tenaga medis berpartisipasi merawat dan menyembuhkan mereka yang positif covid-19. Kita warga negara berpartisipasi mencegah penyebaran covid-19 dengan menjaga jarak fisik dan sosial, juga mencuci tangan pakai sabun dan mengenakan masker. Partisipasi kita akan membuat bumi lekas kembali mencapai keseimbangannya.

Saya optimistis sejak dalam pikiran, bahwa bila kita berpartisipasi membantu bumi memulihkan dirinya, kehidupan belum akan kiamat gara-gara covid-19. “Kehidupan akan menemukan jalannya,” kata Ian Malcolm dalam film Jurrasic Park. Sejak dalam pikiran, saya optimistis bahwa bumi serupa sedang jeda minum kopi karena covid-19, untuk menemukan jalan kehidupannya. Tapi, minum kopinya di rumah saja.



Berita Lainnya
  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)