Headline

SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

Pemberitaan Korupsi

Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group
20/1/2020 05:10
Pemberitaan Korupsi
Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

PERS itu ibarat anak kecil dalam dongeng yang dikisahkan David C Korten. Alkisah, hiduplah seorang maharaja yang selalu membayangkan dirinya sebagai seorang bangsawan yang berpakai an paling indah. Ia mengadakan sayembara.

Siapa pun yang bisa membuat baju yang terbuat dari kain yang paling sempurna akan mendapatkan hadiah. Seorang penjahit menawarkan pembuatan pakaian yang terbuat dari kain yang sangat halus. Saking halusnya, kain itu tidak dapat dilihat dan tidak dapat dirasakan kulit. Sang maharaja menunggang kuda untuk memamerkan baju barunya itu. Ketika para pembantu baginda kagum dan bertepuk tangan, seorang anak kecil nyeletuk, “Kenapa Maharaja tidak memakai baju?”

Banyak orang mengambil peran seperti pembantu raja yang melihat kebenaran, tapi tidak mau bersuara, termasuk dalam kasus korupsi. Tidak mau bersuara karena punya kepentingan.

Akan tetapi, tatkala pers mengambil peran si anak kecil, ia malah disalahkan. Ada pihak yang menyesalkan pemberitaan korupsi yang disebut sepihak karena objek pemberitaannya seharusnya merupakan konten pro justitia yang belum terbukti akan kebenarannya dan masih berada pada tahap penyelidikan.

Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang 40 Tahun 1999 tentang Pers menyebutkan pers nasional berkewajiban memberitakan peristiwa dan opini dengan menghormati norma-norma agama dan rasa kesusilaan masyarakat serta asas praduga tak bersalah. Peristiwa itu terkait dengan fakta. Proses pengumpulan fakta, seperti diungkapkan Jakob Oetama dalam buku Pers Indonesia: Berkomunikasi dalam Masyarakat tidak Tulus, mengalami perubahan. Pada mulanya dikenal reportase faktual kemudian reportase interpretatif.

Reportase interpretatif itulah yang sering digunakan dalam pemberitaan terkait dengan korupsi. Maksudnya, pengungkapan suatu peristiwa disertai usaha memberikan arti pada peristiwa tersebut, menyajikan interpretasi.

Interpretasi atas fakta itulah yang sering dituding sebagai framing untuk menyudutkan partai politik dalam kasus korupsi yang diduga melibatkan kaderkader
utama.

Seperti anak kecil itu, pers hanya menyodorkan fakta dan interpretasi atas fakta itu. Kesimpulan tetap ada di tangan pembaca. Perjalanan waktulah yang akan membuktikan apakah reportase interpretatif itu benar atau tidak. Kebenaran itu hanya terbukti pada saat palu hakim diketukkan.

Publik tentu masih ingat pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono selaku Ketua Dewan Pembina Demokrat di Cikeas pada 11 Juli 2011. Pidato SBY saat itu khusus mengkritik media massa.

“Saya tidak pernah paham dan tidak masuk logika saya. Berita yang hanya bersumber dari SMS dan BBM dijadikan judul besar dan headline pemberitaan,” ujarnya.

Salah satu bukti penting untuk mengungkap kasus Angelina Sondakh (kader Partai Demokrat) dan orang-orang yang terlibat dalam kasus suap wisma atlet justru ditelusuri dari rekap Blackberry Messenger (BBM) antara Angie dan Mindo Rosalina Manullang. Angie kemudian terbukti bersalah dan dipenjara.

Konferensi pers yang terburu-buru untuk menyanggah pemberitaan pers terkait dengan dugaan korupsi juga menjadi bumerang. Masih ingat konferensi pers di ruang Fraksi Partai Demokrat, lantai 9, Gedung DPR, pada 10 Mei 2011?

Saat itu pers memberitakan keterlibatan dua kader Partai demokrat, Bendahara Umum M Nazaruddin dan Wakil Sekretaris Jenderal Angelina Sondakh, dalam kasus dugaan suap pembangunan Wisma Atlet SEA Games XXVI, di Kompleks Jakabaring, Palembang, Sumatra Selatan.

“Sampai saat ini kader kami yang disebut-sebut dalam pemberitaan media tidak dan belum ada indikasi keterlibatan mereka,” kata Ketua Departemen Bidang Hukum Partai Demokrat Benny Kabur Harman dalam konferensi pers itu.

Partai Demokrat menyebut tuduhan kader mereka terlibat korupsi hanyalah imajinasi. Akan tetapi, fakta persidangan membuktikan sebaliknya, benar adanya pemberitaan pers itu. Fakta itu suci dan tidak bisa ditutup-tutupi. Tak ada gunanya menutupi bau busuk korupsi dengan konferensi pers yang membatasi
kehadiran wartawan. Lebih baik siapkan pembelaan di pengadilan. Pengalaman memperlihatkan, kian kencang berteriak tidak korupsi, pada akhirnya terbukti korupsi.



Berita Lainnya
  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)