Headline

SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

Investasi dari UEA

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
17/1/2020 05:10
Investasi dari UEA
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(Dok.MI/Ebed)

PRESIDEN Joko Widodo pantas puas dengan kunjungan kenegaraan ke Uni Emirat Arab. Dia tidak hanya mendapatkan sambutan hangat dari Putra Mahkota Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan, tetapi juga membawa pulang rencana investasi pada 11 bidang kegiatan senilai US$22,8 miliar atau Rp315 triliun.

Dalam periode kedua pemerintahannya, Presiden Jokowi memang menekankan pada dua hal, yaitu peningkatan investasi dan ekspor. Belum lagi pemerintahan berusia 100 hari, nilai investasi jumbo sudah dikantongi.

Di satu sisi, ini tentunya merupakan sebuah prestasi menggembirakan. Akan tetapi, itu barulah setengah dari pekerjaan. Tugas selanjutnya yang tak kalah berat ialah bagaimana merealisasikan semua rencana tersebut agar menjadi investasi yang berbentuk dan membuka lapangan pekerjaan.

Kita tentu belum lupa, pada 24 Juli 2019 Sheikh Mohammed sempat singgah di Indonesia setelah kunjungan kenegaraan ke Tiongkok. Dalam kunjungan setengah hari di Istana Bogor itu ditandatangani tiga rencana kerja sama ekonomi senilai US$9,7 miliar atau sekitar Rp136 triliun.

Pertanyaan kita tentu, bagaimana nasib rencana investasi yang pertama itu? Apakah rencana yang ditandatangani di Istana Bogor ketika itu dimasukkan menjadi satu dengan rencana kerja sama yang ditandatangani di Abu Dhabi Senin lalu?

Kita sengaja mengingatkan hal itu agar berbagai rencana kerja sama itu tidak sekadar menjadi acara seremonial semata. Selanjutnya harus jelas siapa yang mengontrol tindak lanjut rencana investasi tersebut? Siapa pejabat yang ditugasi untuk memastikan bahwa semua rencana itu benar-benar dilaksanakan?

Sudah sejak zaman Presiden Abdurrahman Wahid kita berharap membangun kerja sama ekonomi dengan negara-negara Timur Tengah. Kita sering menggunakan pendekatan agama sebagai pilar untuk melakukan kerja sama tersebut. Namun, kenyataannya sangat jarang ada rencana kerja sama yang bisa terlaksana.

Kita tidak tahu apa yang menjadi penyebab sering gagalnya rencana investasi tersebut. Perusahaan minyak Arab Saudi, Aramco, misalnya, berulang kali bertemu pejabat PT Pertamina untuk rencana investasi di kilang minyak. Namun, sampai sekarang rencana itu tetap tinggal rencana.

Sebaliknya, negara-negara Timur Tengah begitu serius ketika bekerja sama dengan negara lain, seperti misalnya dengan Tiongkok. Sheikh Mohammed sampai meluangkan waktu tiga hari untuk kunjungan ke Tiongkok. Tidak hanya itu, perusahaan asal Dubai, Emaar Properties, langsung menanamkan modal US$11 miliar untuk ikut dalam pembangunan fasilitas dalam kompleks bandar udara baru di Beijing, Bandara Internasional Daxing.

Ada dua hal yang bisa kita petik dari kenyataan itu. Pertama, kerja sama ekonomi tidak bisa hanya didasarkan pada pendekatan kesamaan agama semata. Yang jauh lebih penting, manfaat apa yang bisa dihasilkan dari kerja sama itu. Pendekatan bisnis jauh lebih penting dijadikan pertimbangan.

Oleh karena masalah bisnis jauh lebih penting, hal yang kedua yang perlu menjadi perhatian ialah tindak lanjut dan sikap get things done. Kita sangat lemah dalam kedua hal itu. Seakan sudah bertemu dan menandatangani nota kerja sama dianggap sudah selesai pekerjaan itu.

Kalau hasil kunjungan ke UEA yang terakhir ini tidak ingin bernasib sama dengan kesepakatan kerja sama yang telah dihasilkan, Presiden harus menunjuk pejabat yang bertanggung jawab untuk menindaklanjutinya. Harus dipilih orang yang paham persoalan detail dan mau mengerjakan pekerjaan rumahnya.

Pengalaman rencana pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung seharusnya bisa dijadikan rujukan. Harus ada orang seperti Menteri Rini Mariani Soemarno yang memiliki sikap get things done sehingga secara tekun menuntaskan terobosan diplomatik yang dengan susah payah sudah dilakukan Presiden.

Tanpa ada itu maka kita akan terus seperti menggantang asap. Kita tidak bisa menyalahkan mereka yang hendak menanamkan modal di Indonesia. Tidak adanya realisasi dari rencana investasi itu disebabkan kita tidak sungguh-sungguh mengerjakan pekerjaan rumah kita.

Seharusnya kita mau belajar dari pengalaman bahwa tidak ada yang mudah untuk meraih kemajuan. Keinginan untuk mendapatkan investasi tidak bisa hanya mengandalkan kata-kata, tetapi juga harus disertai kerja keras untuk merealisasikannya.



Berita Lainnya
  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)