Headline
Gara-gara Yaqut, Noel ikut ajukan jadi tahanan rumah.
Gara-gara Yaqut, Noel ikut ajukan jadi tahanan rumah.
Kumpulan Berita DPR RI
PRESIDEN Joko Widodo pantas puas dengan kunjungan kenegaraan ke Uni Emirat Arab. Dia tidak hanya mendapatkan sambutan hangat dari Putra Mahkota Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan, tetapi juga membawa pulang rencana investasi pada 11 bidang kegiatan senilai US$22,8 miliar atau Rp315 triliun.
Dalam periode kedua pemerintahannya, Presiden Jokowi memang menekankan pada dua hal, yaitu peningkatan investasi dan ekspor. Belum lagi pemerintahan berusia 100 hari, nilai investasi jumbo sudah dikantongi.
Di satu sisi, ini tentunya merupakan sebuah prestasi menggembirakan. Akan tetapi, itu barulah setengah dari pekerjaan. Tugas selanjutnya yang tak kalah berat ialah bagaimana merealisasikan semua rencana tersebut agar menjadi investasi yang berbentuk dan membuka lapangan pekerjaan.
Kita tentu belum lupa, pada 24 Juli 2019 Sheikh Mohammed sempat singgah di Indonesia setelah kunjungan kenegaraan ke Tiongkok. Dalam kunjungan setengah hari di Istana Bogor itu ditandatangani tiga rencana kerja sama ekonomi senilai US$9,7 miliar atau sekitar Rp136 triliun.
Pertanyaan kita tentu, bagaimana nasib rencana investasi yang pertama itu? Apakah rencana yang ditandatangani di Istana Bogor ketika itu dimasukkan menjadi satu dengan rencana kerja sama yang ditandatangani di Abu Dhabi Senin lalu?
Kita sengaja mengingatkan hal itu agar berbagai rencana kerja sama itu tidak sekadar menjadi acara seremonial semata. Selanjutnya harus jelas siapa yang mengontrol tindak lanjut rencana investasi tersebut? Siapa pejabat yang ditugasi untuk memastikan bahwa semua rencana itu benar-benar dilaksanakan?
Sudah sejak zaman Presiden Abdurrahman Wahid kita berharap membangun kerja sama ekonomi dengan negara-negara Timur Tengah. Kita sering menggunakan pendekatan agama sebagai pilar untuk melakukan kerja sama tersebut. Namun, kenyataannya sangat jarang ada rencana kerja sama yang bisa terlaksana.
Kita tidak tahu apa yang menjadi penyebab sering gagalnya rencana investasi tersebut. Perusahaan minyak Arab Saudi, Aramco, misalnya, berulang kali bertemu pejabat PT Pertamina untuk rencana investasi di kilang minyak. Namun, sampai sekarang rencana itu tetap tinggal rencana.
Sebaliknya, negara-negara Timur Tengah begitu serius ketika bekerja sama dengan negara lain, seperti misalnya dengan Tiongkok. Sheikh Mohammed sampai meluangkan waktu tiga hari untuk kunjungan ke Tiongkok. Tidak hanya itu, perusahaan asal Dubai, Emaar Properties, langsung menanamkan modal US$11 miliar untuk ikut dalam pembangunan fasilitas dalam kompleks bandar udara baru di Beijing, Bandara Internasional Daxing.
Ada dua hal yang bisa kita petik dari kenyataan itu. Pertama, kerja sama ekonomi tidak bisa hanya didasarkan pada pendekatan kesamaan agama semata. Yang jauh lebih penting, manfaat apa yang bisa dihasilkan dari kerja sama itu. Pendekatan bisnis jauh lebih penting dijadikan pertimbangan.
Oleh karena masalah bisnis jauh lebih penting, hal yang kedua yang perlu menjadi perhatian ialah tindak lanjut dan sikap get things done. Kita sangat lemah dalam kedua hal itu. Seakan sudah bertemu dan menandatangani nota kerja sama dianggap sudah selesai pekerjaan itu.
Kalau hasil kunjungan ke UEA yang terakhir ini tidak ingin bernasib sama dengan kesepakatan kerja sama yang telah dihasilkan, Presiden harus menunjuk pejabat yang bertanggung jawab untuk menindaklanjutinya. Harus dipilih orang yang paham persoalan detail dan mau mengerjakan pekerjaan rumahnya.
Pengalaman rencana pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung seharusnya bisa dijadikan rujukan. Harus ada orang seperti Menteri Rini Mariani Soemarno yang memiliki sikap get things done sehingga secara tekun menuntaskan terobosan diplomatik yang dengan susah payah sudah dilakukan Presiden.
Tanpa ada itu maka kita akan terus seperti menggantang asap. Kita tidak bisa menyalahkan mereka yang hendak menanamkan modal di Indonesia. Tidak adanya realisasi dari rencana investasi itu disebabkan kita tidak sungguh-sungguh mengerjakan pekerjaan rumah kita.
Seharusnya kita mau belajar dari pengalaman bahwa tidak ada yang mudah untuk meraih kemajuan. Keinginan untuk mendapatkan investasi tidak bisa hanya mengandalkan kata-kata, tetapi juga harus disertai kerja keras untuk merealisasikannya.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.
POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved