Headline
Gara-gara Yaqut, Noel ikut ajukan jadi tahanan rumah.
Gara-gara Yaqut, Noel ikut ajukan jadi tahanan rumah.
Kumpulan Berita DPR RI
"SAYA mohon maaf kepada Ketua, anggota, Sekjen KPU RI atas peristiwa yang saya alami." Begitu tertulis di surat terbuka Wahyu Setiawan. Wahyu tersangka penerima suap perkara pergantian antarwaktu anggota legislatif PDIP.
Kita membaca permohonan maaf itu serupa ‘mohon maaf atas ketidaknyamanan Anda’. Tidak ada rasa bersalah dalam diri. Yang salah orang lain. Yang salah bukan saya, tetapi tukang yang sedang membetulkan lantai sehingga kenyamanan Anda terganggu dan untuk itu saya mohon maaf.
Yang salah bukan saya korupsi, tetapi KPK yang menangkap saya sehingga kenyamanan pengurus KPU terganggu dan untuk itu saya mohon maaf. Mohon maaf, saya sedang sial dan KPK memang sialan.
Tersangka korupsi jamaknya tidak mau mengakui kesalahannya. Ungkapan klise 'mana ada maling mengaku' benar belaka. Tidak mengherankan bila tidak ada efek jera dalam pemberantasan korupsi di negeri ini. Kapok berbuat salah mesti diawali rasa bersalah mendalam di diri.
Kita memang bukan bangsa yang punya kultur bersalah (guilt culture). Bangsa yang menganut kultur bersalah malu berbuat salah meski orang lain tidak mengetahuinya. Orang serupa dikejar rasa bersalah dan berdosa ketika berbuat buruk meski orang lain tak mengetahuinya. Rasa atau kultur bersalah ini bisa mencegah orang berbuat buruk.
Kita bangsa penganut budaya malu. Orang berkultur malu baru merasa malu bila perbuatan buruknya diketahui orang. Sejauh tidak diketahui orang, enteng-enteng saja dia.
Jangan-jangan, khusus kasus korupsi, budaya malu pun belum kita capai. Buktinya, para tersangkanya masih suka melambaikan tangan, senyum kiri dan kanan, bukannya tertunduk lesu dan malu.
Karena orang baru malu kalau perbuatan jeleknya diketahui orang, pelaku korupsi biasanya berupaya berkelit, menghindar, bersembunyi dari kejaran KPK.
Petinggi PDIP yang katanya tersangkut suap kasus pergantian antarwaktu anggora legislatifnya, misalnya, diberitakan ngumpet di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) menghindari kejaran KPK. Namun, yang bersangkutan beralibi, berada di tempat lain, bukan di PTIK.
KPK pantang menyerah apalagi pasrah. Bongkar keterlibatan seluruh aktor suap dalam kasus tersebut. KPK baru saja menjawab keraguan publik setelah mereka menangkap Bupati Sidoarjo Saiful Ilah dan Wahyu Setiawan. Publik kembali ragu bila pengungkapan kasus suap pergantian antarwaktu anggota legislatif PDIP ini berhenti pada Wahyu. Bila kegarangan KPK menciut, keraguan publik mencuat.
Kasus suap ini melibatkan peserta pemilu, yakni parpol dan caleg, serta penyelenggara pemilu, yakni komisioner KPU. Bila kita lihat secara saksama, pangkal korupsi di kasus ini ialah parpol yang menginginkan caleg dengan perolehan suara tertinggi ketiga menggantikan caleg dengan perolehan suara tertinggi pertama yang wafat.
Padahal, sesuai dengan undang-undang, calon tertinggi kedua yang mestinya menggantikan. KPU bergeming meski PDIP menggunakan fatwa MA yang memutuskan pergantian antarwaktu menjadi kewenangan parpol. Untuk memuluskan keinginannya, parpol dan atau caleg menyuap komisioner KPU.
Oleh karena itu, untuk mencegah korupsi, tidak dengan mengubah pemilu langsung menjadi pemilu tidak langsung, tetapi memaksa parpol mematuhi undang-undang. Bila parpol melanggar undang-undang, apalagi dengan menyuap, KPK tanpa harus didorong-dorong, langsung turun tangan menegakkan undang-undang.
Jangan sampai parpol jadi embahnya korupsi karena parpol semestinya jadi embahnya demokrasi.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.
POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved