Headline

SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

Tiongkok dan Vietnam Menawar NKRI

Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group
01/1/2020 05:30
Tiongkok dan Vietnam Menawar NKRI
Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group(MI)

NKRI harga mati. Bahasa Inggrisnya, NKRI fixed price. NKRI itu harga pas, harga mati, tak bisa ditawar-tawar lagi.  Kita berang setengah mati bila ada yang coba-coba menawar harga mati NKRI. Kata orang Betawi, ente jual, ane beli.

Kita semestinya memakai semboyan ‘NKRI harga mati’ itu tak hanya ketika menghadapi kekuatan domestik pengusung khilafah yang ingin mengganti ideologi Pancasila, misalnya. Kita semestinya juga berpedoman pada semboyan itu ketika menghadapi kekuatan asing, asalkan bukan makhluk asing alias alien, yang mencoba merongrong kedaulatan wilayah NKRI.

Bukan apa-apa, kita khawatir para pengusung khilafah iri, mengapa negara cuma berani kepada mereka, tetapi ciut nyali kepada negara lain. Belakangan media ramai memberitakan menyusupnya kekuatan asing ke perairan Natuna.

Sebelumnya viral video-video pendek memperlihatkan kapal-kapal asing berkeliaran di perairan Natuna. Kapal-kapal asing berbendera Vietnam itu diduga menangkap ikan secara ilegal. Kapal penjaga pantai Republik Rakyat Tiongkok dilaporkan juga memasuki wilayah perairan Natuna.

Terkait kapal Tiongkok yang menyusup ke perairan Indonesia, ia bisa menjadi perkara besar bila tak segera ditangani. Maklum, segala sesuatu yang berbau Tiongkok sedikit-sedikit dimanipulasi dan dieksploitasi oleh kelompok tertentu, semisal isu tenaga kerja asing asal Tiongkok atau isu diskriminasi yang dialami muslim Uighur di Xinjiang. 

Akan tetapi, kelompok tertentu tersebut tak pernah mempersoalkan telepon pintar buatan Tiongkok, mungkin karena di antara mereka banyak yang memakainya. Vietnam dan Tiongkok serupa menawar-nawar harga mati NKRI. Bukan kali ini saja mereka melakukan itu.

Aparat kita berulang kali menangkap kapal berbendera Vietnam yang menangkap ikan secara illegal  di perairan kita dan menenggelamkannya. Beberapa waktu lalu aparat kita juga mengejar dan menghalau kapal-kapal ikan asal Tiongkok yang dikawal kapal penjaga pantai mereka.

Kita mesti melakukan langkah agar mereka kapok, tidak lagi berani mencoba-coba menawar harga mati NKRI. Lalu, romantisme kita terhadap Susi Pudjiastuti sontak bangkit. Di zaman Susi menjadi menteri kelautan dan perikanan, kapal-kapal tersebut bakal ditenggelamkan supaya jera.

“Sudah tiga tahun ini, kapal asing pencuri ikan semuanya sudah nggak berani mendekat. Karena apa? Semuanya ditenggelamkan sama Bu Susi. Sudah 317 kapal yang ditenggelamkan Bu Susi. Bu Susi itu perempuan, tapi serem.

Takut semua kepada Bu Susi,’ kata Presiden Jokowi dalam satu pidatonya di Nusa Tenggara, Timur, awal 2018. Presiden Jokowi jelas memuji Susi. Namun, mengapa Presiden Jokowi tak memilihnya Susi menjadi menteri kelautan dan perikanan lagi? Tiba-tiba publik kangen Susi.

Namun, Susi yang dikangeni, Edhy Prabowo yang menjadi menteri. Pantas saja kapal-kapal asing pencuri ikan itu mulai berani lagi memperlihatkan batang hidungnya. Publik tak bisa berharap Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo menengelamkan kapal-kapal asing pencuri ikan.

Edhy Prabowo telah mematok kebijakan kapal-kapal ikan asing yang tertangkap diserahkan kepada nelayan. Bosnya, Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, sangat setuju dengan Edhy Prabowo. Luhut memang tidak setuju bila Susi terus menenggelamkan kapal-kapal asing yang tertangkap mencuri ikan di perairan Indonesia meski undang-undang mengamanatkannya.

Edhy Prabowo dan Luhut Panjaitan boleh laki-laki dan mantan tentara. Akan tetapi, dalam perkara menenggelamkan kapal-kapal asing pencuri ikan, mereka tidak segarang Susi yang perempuan dan warga sipil biasa. Kapal-kapal ikan asing yang dulunya takut kepada Susi kini tak takut Edhy.

Badan Keamanan Laut telah mengusir kapal-kapal asing tersebut keluar perairan Natuna. Kementerian Kelautan dan Perikanan berencana meningkatkan patroli laut dan udara pada 2020. Kementerian Luar Negeri telah memanggil Dubes RRT di Tiongkok di Jakarta dan menyampaikan protes keras atas pelanggaran wilayah yang dilakukan kapal-kapal Tiongkok.

Terserah pemerintah telah dan mau melakukan apa pun untuk menangani masalah ini. Yang penting bagi rakyat ialah kedaulatan negara terjaga karena NKRI harga mati, tak boleh ada negara lain mencoba-coba menawarnya.



Berita Lainnya
  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)