Headline

SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

Toleransi, Sampah, Pohon Natal

Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group
26/12/2019 05:10
Toleransi, Sampah, Pohon Natal
Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

PARADOKS Jakarta. Semakin modern kotanya, bukannya semakin adab dan inklusif, Jakarta malah kian intoleran. Survei Setara Institute 2018 menempatkan Jakarta menjadi kota into­leran nomor tiga terbawah.

Temuan Setara Institute setali tiga uang dengan hasil survei Kementerian Agama terkait dengan skor indeks kerukunan umat beragama. Jakarta hanya 71,3, di bawah rata-rata nasional 73,83. Dengan angka itu, Jakarta berada di urutan ke-27.

Seakan menepis temuan sebagai kota intoleran, Pemprov Jakarta bersama sejumlah pihak gotong royong membuat pohon Natal raksasa di kawasan Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat. Ada makna persatuan dari kehadiran pohon Natal tersebut.

Di sekitar pohon Natal tersebut terdapat papan yang menjelaskan makna ‘Pohon Natal Persaudaraan’ itu. Pohon Natal itu terbuat dari sampah botol air mineral yang dihias menyerupai orang.

Gubernur Anies Baswedan menyebut pohon Natal raksasa tersebut membuktikan Pemprov DKI mendukung kesetaraan pada semua umat beragama di Jakarta. “Ini salah satu simbolisasi bahwa kami memberikan kesempatan kesetaraan kepada semua.”

Perbedaan agama merupakan sebuah keniscayaan yang tidak semestinya menimbulkan perpecahan, apalagi konflik. Pohon Natal Persaudaraan itu mestinya menjadi titik balik untuk merajut kembali persaudaraan di Jakarta.
Anggap saja intoleransi itu sebagai sampah, kemudian diolah menjadi pohon Natal simbol kerukunan dan toleransi.

Ada nilai filosofis teologis di balik pembuatan pohon Natal dari sampah plastik itu. Bukankah Natal itu untuk memperingati Dia yang lahir di sampah kandang hewan?

Muncul kesadaran kolektif memanfaatkan sampah plastik untuk membuat pohon Natal di segenap penjuru negeri. Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri) menobatkan Gerbang Natal Port Numbay, Jayapura, meraih rekor pohon Natal berbahan sampah terbanyak. Total hampir 5 ton sampah yang didaur ulang menjadi pohon Natal.

Sejumlah anak muda Katolik di Paroki Stela Maris Danga Mbay, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, juga membuat pohon Natal setinggi 8 meter dari sampah botol plastik. Pohon Natal itu menjadi pesan tentang ekologi, mengenai pentingnya kelestarian lingkungan dan pencemaran sampah plastik.

Kesadaran masyarakat menjaga lingkungan memang rendah. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengumumkan sekitar 72% masyarakat Indonesia kurang peduli dengan masalah sampah plastik.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Jenna R Jambeck dari University of Georgia pada 2010, ada 275 juta ton sampah plastik dihasilkan di seluruh dunia. Indonesia penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia.

Krisis lingkungan hidup, terutama dengan meningkatnya produksi sampah plastik, direspons dengan pembuatan pohon Natal dari barang-barang plastik yang telah menjadi sampah. Pohon Natal sampah plastik itu menyampaikan pesan untuk hidup bersahabat dengan lingkungan.

Pemimpin Gereja Katolik Paus Fransiskus menerbitkan sebuah ensiklik berjudul Laudato Si pada 2015. Ensiklik itu memuat pandangan dan seruan Paus Fransiskus terkait dengan lingkungan hidup.

Paus menyatakan kerusakan terus-menerus dilakukan manusia terhadap lingkungan sebagai satu tanda kecil dari krisis etika, budaya, dan spiritual modernitas. “Bumi, rumah kita, semakin menyerupai tumpukan sampah. Di berbagai wilayah bumi, daerah yang semula cantik telah tertutupi oleh sampah.”

Perilaku manusia yang menempatkan dirinya sebagai subjek dan alam sebagai objek untuk dikuras kekayaannya dan dicemari menjadi penyebab terbesar kerusakan lingkungan hidup saat ini.

Keprihatinan dan kepedulian gereja Katolik Indonesia terhadap masalah lingkungan hidup sudah ada sejak lama. Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) berpandangan bahwa masalah sampah bukan hanya masalah sosial. Sampah juga berkaitan dengan masalah iman sehingga membutuhkan perhatian gereja.

Persoalan kita saat ini bukan hanya intoleransi, melainkan juga masalah sampah. Pohon Natal dari sampah plastik hanya simbol untuk melakukan pertobatan ekologis, hidup tanpa menghasilkan sampah plastik sambil menjunjung toleransi.



Berita Lainnya
  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)