Headline
Pemudik diminta manfaatkan kebijakan WFA.
Kumpulan Berita DPR RI
SEMASA sekolah, saya menyambut Natal dengan perasaan sukacita serupa ketika menyongsong Lebaran. Terbayang lezatnya kue Natal. Terbayang juga lezatnya ketupat dan opor ayam di rumah seorang teman kristiani. Keluarga teman saya itu selalu menyertakan ketupat dan opor ayam sebagai santapan Natal serupa hidangan Lebaran.
Di malam Natal, saya dan sejumlah teman muslim mengunjungi rumah beberapa teman kristiani untuk menikmati hidangan Natal dengan rakusnya. Akan tetapi, saya tidak mengucapkan selamat Natal. Itu karena guru mengaji saya mengatakan haram mengucapkan selamat Natal. Walhasil, saya doyan mengunyah kue Natal mereka, tetapi emoh mengucapkan selamat Natal kepada mereka. Tidak fair, bukan?
Paling-paling saya ketika itu mengucapkan selamat Tahun Baru. Kata guru sekolah saya, mengucapkan selamat Tahun Baru tidak mengapa karena semua orang, tak peduli agamanya, merayakan Tahun Baru.
Namun, bukankah Tahun Baru Masehi perhitungannya berawal dari kelahiran Isa Al Masih? Lalu, apa bedanya mengucapkan selamat Tahun Baru dan selamat Natal? Barangkali karena perhitungan tahun Masehi berawal dari Natal, dari kelahiran Yesus--selain juga karena waktunya berdekatan--ucapan selamat Natal senantiasa lazim disandingkan dengan ucapan selamat Tahun Baru.
Seorang teman di laman Facebook-nya mengunggah foto spanduk ucapan selamat Tahun Baru tanpa selamat Natal dari seorang politikus di Siantar, Sumatra Utara. Karena Natal dan Tahun Baru Masehi berada dalam satu tarikan napas, terasa aneh ucapan selamat setengah hati itu. Tak mengherankan jika spanduk tersebut menjadi bahan perbincangan.
Kita menghormati sang politikus, yang, mohon maaf, toleransinya hanya sebatas itu, mungkin karena keterbatasan pengetahuan dan pemahamannya bahwa Natal dan Tahun Baru itu sesungguhnya satu tarikan napas.
Begitulah, setiap menjelang Natal dan Tahun Baru, boleh tidaknya mengucapkan selamat Natal senantiasa menjadi perbincangan. Kebanyakan yang mengharamkanya beralasan mengucapkan selamat Natal merusak akidah.
Bila sungguh demikian, bahwa mengucapkan selamat Natal merusak iman, betapa lebih kuatnya iman orang Kristen jika dibandingkan dengan orang Islam.
Orang Kristen rajin mengucapkan selamat Idul Fitri, tetapi mereka tetap menjadi orang Kristen. Orang Kristen di Indonesia lima kali sehari mendengar azan atau panggilan salat lewat pengeras suara, tetapi mereka tidak terpanggil menjadi orang Islam. Orang Kristen di Indonesia sering kali berdoa yang disesuaikan dengan tata cara Islam, tetapi iman mereka tak lantas sempoyongan.
Orang Islam, ketika bulan puasa ada kedai makan buka saja, takut puasanya batal hingga kedai makan itu dirazia dan dipaksa tutup. Akidah orang Islam dikhawatirkan luntur bila mengucapkan selamat Natal sehingga otoritas ulama melarang hal itu. Bahkan, satu toko roti yang namanya sulit dilafalkan dan tak ada islaminya sedikit pun menolak menerima pesanan kue dengan ucapan selamat Natal.
Ketika mengikuti fellowship yang disponsori East-West Center, saya menghadiri ibadah umat Yahudi di satu sinagog di Washington, Amerika Serikat. Saya membolak-balik Torah atau Taurat berbahasa Inggris. Saya juga mencoba mengenakan kipah, topi khas Yahudi.
Saya tidak tergoda pindah agama hanya gara-gara memakai kipah. Toh, bentuknya mirip dengan topi haji, juga topi paus. Memakai kipah di sinagog saja tak mengubah iman seorang muslim, apalagi bila cuma memakai topi sinterklas di mal. Toh mengenakan topi sinterklas yang banyak dilakukan pramuniaga atau resepsionis, urusannya lebih ke bisnis, tidak ada urusan dengan agama.
Anak-anak satu sekolah dasar negeri di Madiun, Jawa Timur, menghadiahkan tumpeng kepada anak-anak sekolah dasar Kristen di kota tersebut seraya mengucapkan selamat Natal. Anak-anak yang sebagian besar muslim ini tidak takut akidah mereka rusak. Ini tentu kabar baik bahwa toleransi di masyarakat Indonesia sesungguhnya besar.
Yang ini juga kabar baik, atau justru kabar buruk, bahwa toko roti yang menolak pesanan kue dengan ucapan selamat Natal tadi kabarnya sepi pembeli.
Anak SD saja tak takut imannya luntur gara-gara bilang selamat Natal, masakah kita kalah dengan anak kecil? Selamat Natal 2019 dan Tahun Baru 2020.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.
POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved