Headline

SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

Jangan Nasionalisasi

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
24/12/2019 05:30
Jangan Nasionalisasi
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

PRESIDEN meminta PT Pertamina (persero) dalam waktu tiga tahun menyelesaikan pembangunan kilang di Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) di Tuban. Apabila kawasan industri petrokimia itu berjalan penuh, Indonesia bisa menghemat impor premium dan solar sampai Rp57 triliun setiap tahun.

Perintah Presiden itu sangat penting karena berulangkali menyampaikan tingginya defisit perdagangan akibat impor bahan bakar minyak. Saat meresmikan penambahan kapasitas PT Chandra Asri Petrochemical Tbk, Presiden menegaskan pentingnya mengurangi ketergantungan impor untuk menekan defisit neraca transaksi berjalan.

Kita tentu mengamini apa yang menjadi keinginan Presiden. Hanya kita ingin mengingatkan agar proses itu dijalankan dengan baik. Apabila akuisisi TPPI dilakukan serampangan, itu akan menggerus kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia.

Mengapa hal ini penting kita ingatkan? Karena TPPI merupakan perusahaan swasta. Industri ini dibangun oleh Honggo Wendratno. Bahwa dalam kegiatan usahanya, Honggo memiliki utang kepada Pertamina itu ialah fakta. Honggo tidak membayar pasokan kondesat yang diberikan Pertamina.

Namun, proses utang piutang itu merupakan kasus terpisah dengan kepemilikan. Seperti halnya utang pembangunan TPPI kepada PT Wijaya Karya Tbk, disepakati kedua belah pihak untuk dikonversi menjadi kepemilikan saham.

Sekarang Honggo tetap masih memiliki saham di TPPI. Kalau Pertamina mau menukar pinjaman dengan saham dan bahkan ingin membeli sisa saham yang dimiliki Honggo, itu harus diproses dengan cara bisnis murni. Tidak bisa Pertamina sepihak mengubah utangnya menjadi saham.

Di sinilah Presiden meminta Komisaris Utama Pertamina Basuki Tjahaja Purnama dan Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati untuk mencari jalan penyelesaian. “Saya tidak tahu bagaimana caranya, tetapi saya minta untuk segera diselesaikan,” ujar Presiden.

Pesan Presiden ini penting untuk diperhatikan karena kita sedang berupaya menarik investasi. Bagi pengusaha, kepastian usaha merupakan sesuatu yang utama. Tidak ada orang mau berinvestasi apabila pemerintah seenaknya mengambil alih kepemilikan perusahaan.

Langkah terbaik dalam penyelesaian TPPI ialah Pertamina duduk bersama dengan Honggo. Pertamina secara terbuka menyampaikan keinginannya untuk mengakuisisi TPPI. Apabila dua belah pihak bersepakat, bisa ditunjuk lembaga penilai profesional untuk menentukan harga TPPI.

Barulah dari harga itu dikurangi seluruh kewajiban yang harus dibayarkan Honggo. Sisa dari kewajiban itulah yang kemudian harus dibayarkan lagi oleh Pertamina kepada Honggo apabila ingin mengambil alih semua saham miliknya.

Cara pengambilalihan TPPI kini menjadi perhatian dunia usaha. Mereka bertanya-tanya cara seperti apa yang akan dilakukan pemerintah. Kita hanya ingin mengingatkan agar dipilih cara elegan secara bisnis, bukan jalan nasionalisasi.

Memang jalan nasionalisasi sangat mudah dan cepat. Namun, citra yang ditimbulkan buruk karena menciptakan ketidakpastian. Orang tidak akan pernah mau berinvestasi di Indonesia karena takut sewaktu-waktu perusahaannya diambil alih pemerintah.

Kita perlu belajar dari pengalaman Venezuela dan Bolivia. Memang terasa heroik ketika mereka menasionalisasi perusahaan asing. Namun, ketika semua orang takut dan tidak mau berinvestasi ke negara-negara itu, rakyat Venezuela dan Bolivia sekarang dihadapkan kepada situasi krisis.

Indonesia dinilai banyak pihak sebagai salah satu negara yang memiliki prospek baik. Orang mau masuk ke Indonesia untuk menanamkan modalnya—baik dalam bentuk investasi langsung maupun portofolio—karena mempunyai sistem yang masih bisa dipercaya.

Janganlah kepentingan jangka panjang dirusak aksi jangka pendek. Kita pantas gemas proyek TPPI yang sudah 20 tahun dibangun tidak kunjung selesai. Namun, semua itu harus diselesaikan dengan rasional dan tidak emosional.

 

 

 



Berita Lainnya
  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)