Headline

SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

Kompetisi

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
20/12/2019 05:10
Kompetisi
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

DISKUSI bersama Duta Besar Indonesia untuk Aljazair Safira Machrusah di Wisma Duta sangatlah menarik. Dubes Indonesia menjelaskan bagaimana agresifnya negara-negara di dunia menjadikan Afrika sebagai pasar produk mereka.

Salah satunya dilakukan negara tetangga, Malaysia. Perdana Menteri Mahathir Mohamad turun sendiri menggarap pasar Afrika. Salah satunya mengajak Aljazair membangun aliansi sehingga Malaysia bisa menjadikan negara itu sebagai pintu masuk memasarkan produk mereka ke Afrika. Sebaliknya, Aljazair bisa menjadikan Malaysia pintu masuk produk mereka ke ASEAN.

Bagaimana dengan kita, Indonesia? Setelah kunjungan Presiden Megawati Soekarnoputri nyaris tidak ada delegasi besar datang ke Aljazair. Baru tahun lalu Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menjajaki kemungkinan dibuatnya perjanjian perdagangan di antara kedua negara. Akan tetapi, karena terlalu mendadak, Aljazair belum siap membicarakan lebih detail rencana perjanjian perdagangan tersebut.

Afrika selama ini tidak kita lihat sebagai pasar potensial. Akibatnya, kita tidak serius menggarap kawasan itu. Kalaupun ada, inisiatif menggarap pasar Afrika dilakukan perusahaan sendiri. Sekarang yang mulai serius ingin menjadikan Aljazair sebagai pintu masuk ke pasar Afrika ialah PT Indofood Sukses Makmur yang berencana membangun pabrik mi instan di sana.

Kelemahan lain pada kita ialah keinginan agar segala sesuatu bisa cepat menghasilkan. Kita lupa membangun kepercayaan itu membutuhkan waktu. Bahkan, harus ada take and give agar kerja sama itu saling menguntungkan.

Kita pantas belajar bagaimana Tiongkok menggarap Afrika. Setidaknya 20 tahun mereka tekun membangun komunikasi. Negara-negara Eropa dan AS pun baru tersentak ketika Tiongkok sudah menancapkan kuku mereka di kawasan tersebut.

Lepas dari kekurangannya, kita pantas kagum dengan manuver yang dilakukan pendiri Sonangol, Sam Pa, misalnya, untuk membangun hubungan di Afrika. Dia bisa kenal semua pemimpin negara Afrika dan bisa langsung berkomunikasi melalui telepon.

Tak mengherankan apabila Sonangol bisa mendapatkan konsesi lapangan minyak yang begitu banyak di Afrika. Perusahaan Tiongkok itu bisa memproduksi 1,5 juta barel minyak setiap hari dari ladang-ladang minyaknya di 'Benua Hitam'.

Semua pengalaman itu memberikan pembelajaran bahwa tidak ada keberhasilan instan. Bahkan, diperlukan investasi terlebih dulu sebelum kita bisa memetik manfaatnya. Negara harus menyiapkan anggaran khusus apabila ingin menjadi penguasa pasar dunia.

Meskipun terlambat, kita sekarang mulai masuk ke pasar Afrika. Menteri BUMN periode lalu, Rini Mariani Soemarno, membawa perusahaan-perusahaan milik negara menggarap pasar di sana. PT Dirgantara Indonesia semakin gencar memasarkan produk pesawat CN 235 di Afrika. PT Industri Kereta Api Indonesia mulai mendapatkan proyek besar membangun jaringan kereta. Demikian pula dengan PT Wijaya Karya yang mendapatkan proyek pembangunan 4.000 apartemen di Aljazair.

Kita melihat PT Pertamina juga semakin agresif menggarap ladang-ladang minyak. Setelah Aljazair, mereka mulai juga masuk ke Gabon dan Angola. Menurut Direktur Hulu Pertamina Dharmawan Samsu, hingga 2026 pihaknya akan menginvestasikan modal sekitar US$44 miliar, baik untuk eksplorasi di dalam maupun luar negeri.

Awal yang baik ini tentu harus dipertahankan. Tidak bisa lagi kita menerapkan model hit and run. Kita harus bersungguh-sungguh apabila ingin masuk ke satu kawasan dan menjadi pemenang.

Apa boleh buat kita memang sedang hidup di era kompetisi. Bahkan, ada yang mengatakan, era sekarang ini ialah era hyper competition. Semua berlomba-lomba menjadi pemenang dan mau melakukan apa pun agar tidak menjadi pecundang.

Kita harus mengakui, kita belum terbiasa hidup dengan tingkat kompetisi yang begitu tinggi. Selama ini kita terlena dengan komoditas yang tidak dimiliki banyak negara. Akibatnya, kita selalu dimudahkan untuk menjadi pemenang.

Era itu boleh dikatakan sudah berakhir. Apalagi sumber daya yang tidak terbarukan yang selama ini menjadi kekuatan kita semakin lama juga semakin berkurang. Kita harus beralih ke produk-produk yang juga dihasilkan banyak negara. Di sinilah kita dituntut berpikir lebih strategis dan bertindak lebih cerdas.



Berita Lainnya
  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)