Headline

SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

Modarkrasi Pilkada

Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group
19/12/2019 05:30
Modarkrasi Pilkada
Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

MAHAR politik bukanlah ilusi. Sama nyatanya dengan bandar, penyandang dana pilkada. Keberadaan keduanya terekam dalam survei Komisi Pemberantasan Korupsi yang dimuat dalam Laporan Tahunan KPK 2018.

KPK melakukan survei potensi benturan kepentingan dalam pendanaan pilkada. Survei dilakukan kepada 198 calon kepala/wakil kepala daerah yang kalah. Calon kepala daerah membutuhkan uang banyak untuk membeli tiket pilkada.

Hasil survei mencengangkan. Mahar yang harus dibayar calon kepala daerah bervariasi dari Rp50 juta sampai Rp500 juta per kursi di DPRD. Besarnya mahar tergantung partai. Semakin besar partainya, harga tiket makin mahal.

Partai politik menjual tiket. Ada yang dijual terang-terangan. Ada pula transaksi di pasar gelap. Tiket pilkada ialah dukungan partai atau gabungan partai minimal 20% dari jumlah kursi di DPRD. Sejauh ini hanya Partai NasDem yang mengusung politik tanpa mahar.

Mereka yang bertarung di pilkada tidak cukup bermodalkan tampang, juga membutuhkan nyali. Setidaknya punya nyali berjudi dengan nasib. Modal balik kalau menang, kalah bertarung tinggal kolor.

Bukan rahasia lagi, kalau tidak punya duit Rp20 miliar sampai Rp30 miliar, orang tidak berani maju sebagai calon bupati atau wali kota. Modal calon gubernur minimal Rp100 miliar.

Tidak semua calon kepala daerah punya modal besar. Berdasarkan laporan harta kekayaan penyelenggara negara, rata-rata total harta calon kepala daerah cuma mencapai Rp6,7 miliar. Bahkan, terdapat calon yang memiliki harta Rp0, bahkan negatif.

Dari mana calon mendapatkan modal? Di sinilah peran bandar atau bohir dalam istilah Luthfi Assyaukanie, peneliti Saiful Mujani Research and Consulting. Bohir merujuk pada rentenir politik yang meminjamkan uang ke calon-calon.

Bohir pada umumnya pengusaha yang mengharapkan jatah proyek yang dibiayai APBD. Survei KPK menemukan jejak bohir yang disebut sebagai donatur. Sebanyak 38,1% donatur berprofesi sebagai pengusaha dari kalangan keluarga dan 40,9% donatur berprofesi sebagai pengusaha dari kalangan nonkeluarga.

Donatur itu eufemisme politik dari pemburu rente. Bantuan yang diberikan kepada calon bukan tanpa pamrih. Para bandar itu mengharapkan berupa kemudahan perizinan 94,4%, mengharap kemudahan untuk ikut tender proyek pemerintah 90,7%, dan mengharap keamanan dalam menjalankan bisnis 84,8%.

Bandar besar tidak pernah menaruh telur dalam satu keranjang. Mereka membiayai semua calon yang berpeluang memenangi pilkada. Tidaklah berlebihan jika pilkada itu disebut sebagai modar, singkatan dari demokrasi bandar alias modarkrasi. Luthfi Assyaukanie menyebutnya sebagai 'bohirkrasi'.

Modar, menurut kamus, artinya mampus, mati. Kalah pilkada jadi debu, menang jadi arang. Begitu kalah, terpaksa melego semua harta. Setali tiga uang nasib pemenang.

Setelah menjabat, kepala daerah mulai menerobos aturan untuk membalas jasa bandar. Sumber uang tentu bukanlah dari pendapatan resmi. Paling tinggi pendapatan kepala daerah Rp6 miliar setahun, tetap tak cukup kembali modal. Kepala daerah pun mengutak-atik APBD alias korupsi.

Sudah banyak kepala daerah meringkuk di bui. Sejak berdirinya sampai saat ini, KPK telah menjerat 119 kepala daerah. Sebanyak 47 (39,4%) dijaring melalui operasi tangkap tangan.

Elon nian bila KPK mulai mengendus politik uang jelang Pilkada 2020. Pilkada di 270 daerah itu digelar pada 23 September tahun depan. Saat ini, para bakal calon mulai mendaftaran diri ke partai politik, terbuka pula peluang mahar politik.

Transaksi uang lazim dilakukan jelang penetapan calon oleh partai politik. Penetapan itu dilakukan sebelum pendaftaran calon ke KPUD. Pendaftaran pasangan calon gubernur dan wakil gubernur dilaksanakan pada Februari 2020. Adapun pendaftaran calon bupati dan wakil bupati serta wali kota dan wakil wali kota akan dilaksanakan pada minggu pertama Maret.

Sejauh ini memang KPK belum melakukan operasi tangkap tangan para calon kepala daerah. Berbeda saat menjelang Pilkada 2018, KPK menangkap tangan lima calon kepala daerah.

Pilkada bukan lagi sebagai panggilan hidup untuk mengabdi kepada kepentingan rakyat. Pilkada dijadikan pansos (panjat sosial), meninggikan status sosial. Ketika pilkada bukan dianggap sebagai jalan pengabdian, calon melakukan segala cara untuk menang, termasuk menggadai nasib ke tangan bandar.

 



Berita Lainnya
  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)