Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBUAH hadiah akhir tahun paling berharga bagi dunia ialah berakhirnya perang dagang fase I antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok. Kedua negara sepakat untuk mengurangi tensi dengan sama-sama menurunkan tarif bea masuk dan meningkatkan impor di antara mereka.
Tiongkok sepakat untuk mengimpor bahan pangan seperti kedelai dan jagung senilai US$17 miliar dalam dua tahun ke depan dari AS. Sebaliknya AS menghapuskan tarif bea masuk untuk produk pakaian dari Tiongkok.
Kedua negara sebenarnya sama-sama terpukul oleh perang dagang di antara mereka. Masyarakat 'Negeri Paman Sam' terpaksa membeli barang-barang kebutuhan mereka dengan harga yang mahal.
Dampak lebih lanjut, perekonomian AS pun tertekan dalam 18 bulan terakhir ini. Presiden Donald Trump yang sedang menghadapi ancaman pemakzulan di Kongres tidak mau menghadapi terlalu banyak front menjelang pemilihan presiden tahun depan.
Perdamaian dagang fase I dimaksudkan Trump untuk mengurangi tekanan terhadap pencalonannya kembali sebagai Presiden AS.
Sebaliknya bagi Tiongkok, perang dagang dengan AS membuat mereka juga kesulitan untuk melempar produk. Selama ini Tiongkok cukup mengandalkan satu negara AS untuk bisa menjual produk ekspor senilai US$500 miliar.
Di dunia nyaris tidak ada pasar yang besarnya seperti AS. Kalau tidak bisa menjual ke AS, Tiongkok harus mencari puluhan negara untuk bisa menyerap produk ekspor mereka senilai US$500 miliar itu.
Tidak usah heran apabila Tiongkok sekarang ini dihadapkan pada ancaman kredit bermasalah. Banyak perusahaan ekspor yang menumpuk barang di gudang. Ini tentunya mengganggu arus kas dan mengancam sistem keuangan karena ada produk senilai US$500 miliar yang macet.
Perdamaian dagang menjelang akhir tahun memberikan dampak yang positif bagi pasar modal seluruh dunia. Beberapa hari terakhir ini kita melihat pasar yang bullish, dan perkembangan ini otomatis memperbaiki neraca keuangan banyak perusahaan dunia.
Kondisi yang baik ini tentunya harus juga bisa kita manfaatkan. Tidak bosan kita sampaikan pentingnya untuk berpikir cerdas. Kita harus memanfaatkan semua peluang yang ada untuk memberikan benefit bagi perekonomian nasional kita.
Kita harus merasa prihatin kalau laporan Badan Pusat Statistik menunjukkan neraca perdagangan kita pada November lalu mengalami defisit US$1,33 miliar. Secara keseluruhan 2019 defisit perdagangan kita tercatat US$3,11 miliar.
Memang, jika dibandingkan dengan neraca perdagangan tahun lalu, angka defisitnya mengecil. Akan tetapi, ini tetap tidak sejalan dengan apa yang diinginkan Presiden Joko Widodo untuk meningkatkan ekspor dan mengurangi defisit neraca transaksi berjalan.
Kalau memang serius ingin mendorong ekspor, kita harus melihat potensi yang kita miliki. Semua peluang yang kita miliki harus kita optimalkan. Jangan malah sebaliknya kita ingin mendorong ekspor, tetapi kebijakan yang ada justru seperti 'menembak kaki kita sendiri'.
Tanpa ada kesungguhan untuk memetakan kekuatan yang kita miliki, kita bukan hanya kehilangan kesempatan. Di bawah tekanan ekonomi yang lebih berat tahun depan, kita akan kesulitan untuk bisa bangkit. Sekarang ini kita mulai mendengar rencana beberapa pengusaha yang bergerak di industri kertas, pakaian, baja, dan plastik untuk mengurangi produksi.
Kita harus ingat, menghidupkan kembali industri yang mati itu tidak mudah. Bukan hanya kita kesulitan untuk kembali menemukan pasar, mencari pasokan bahan baku juga tidaklah mudah. Belum lagi pegawai yang harus kehilangan lapangan pekerjaan dan mereka harus mencari pekerjaan baru.
Di sisi lain, Presiden Jokowi begitu bersemangat untuk mengegolkan UU Omnibus berkaitan dengan pembukaan lapangan pekerjaan. Apa yang kita lihat hari-hari ini berbeda dengan semangat besar yang hendak kita bangun dan juga dengan ekonomi dunia yang sedang berjuang untuk menggeliat.
Janganlah kita menjadi negara yang aneh di antara negara-negara dunia. Apalagi kalau kita menjadi negara yang ikut terpuruk ketika perekonomian dunia terpuruk dan kita tetap terpuruk ketika perekonomian global sedang membaik. Ironis kalau itu terjadi!
POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita
SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan
PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik.
"SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."
SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.
MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.
LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.
ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.
DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.
DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.
SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan
TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.
LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.
'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved