Headline

SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

Hadiah Akhir Tahun

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
17/12/2019 05:00
Hadiah Akhir Tahun
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

SEBUAH hadiah akhir tahun paling berharga bagi dunia ialah berakhirnya perang dagang fase I antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok. Kedua negara sepakat untuk mengurangi tensi dengan sama-sama menurunkan tarif bea masuk dan meningkatkan impor di antara mereka.

Tiongkok sepakat untuk mengimpor bahan pangan seperti kedelai dan jagung senilai US$17 miliar dalam dua tahun ke depan dari AS. Sebaliknya AS menghapuskan tarif bea masuk untuk produk pakaian dari Tiongkok.

Kedua negara sebenarnya sama-sama terpukul oleh perang dagang di antara mereka. Masyarakat 'Negeri Paman Sam' terpaksa membeli barang-barang kebutuhan mereka dengan harga yang mahal.

Dampak lebih lanjut, perekonomian AS pun tertekan dalam 18 bulan terakhir ini. Presiden Donald Trump yang sedang menghadapi ancaman pemakzulan di Kongres tidak mau menghadapi terlalu banyak front menjelang pemilihan presiden tahun depan.

Perdamaian dagang fase I dimaksudkan Trump untuk mengurangi tekanan terhadap pencalonannya kembali sebagai Presiden AS.

Sebaliknya bagi Tiongkok, perang dagang dengan AS membuat mereka juga kesulitan untuk melempar produk. Selama ini Tiongkok cukup mengandalkan satu negara AS untuk bisa menjual produk ekspor senilai US$500 miliar.

Di dunia nyaris tidak ada pasar yang besarnya seperti AS. Kalau tidak bisa menjual ke AS, Tiongkok harus mencari puluhan negara untuk bisa menyerap produk ekspor mereka senilai US$500 miliar itu.

Tidak usah heran apabila Tiongkok sekarang ini dihadapkan pada ancaman kredit bermasalah. Banyak perusahaan ekspor yang menumpuk barang di gudang. Ini tentunya mengganggu arus kas dan mengancam sistem keuangan karena ada produk senilai US$500 miliar yang macet.

Perdamaian dagang menjelang akhir tahun memberikan dampak yang positif bagi pasar modal seluruh dunia. Beberapa hari terakhir ini kita melihat pasar yang bullish, dan perkembangan ini otomatis memperbaiki neraca keuangan banyak perusahaan dunia.

Kondisi yang baik ini tentunya harus juga bisa kita manfaatkan. Tidak bosan kita sampaikan pentingnya untuk berpikir cerdas. Kita harus memanfaatkan semua peluang yang ada untuk memberikan benefit bagi perekonomian nasional kita.

Kita harus merasa prihatin kalau laporan Badan Pusat Statistik menunjukkan neraca perdagangan kita pada November lalu mengalami defisit US$1,33 miliar. Secara keseluruhan 2019 defisit perdagangan kita tercatat US$3,11 miliar.

Memang, jika dibandingkan dengan neraca perdagangan tahun lalu, angka defisitnya mengecil. Akan tetapi, ini tetap tidak sejalan dengan apa yang diinginkan Presiden Joko Widodo untuk meningkatkan ekspor dan mengurangi defisit neraca transaksi berjalan.

Kalau memang serius ingin mendorong ekspor, kita harus melihat potensi yang kita miliki. Semua peluang yang kita miliki harus kita optimalkan. Jangan malah sebaliknya kita ingin mendorong ekspor, tetapi kebijakan yang ada justru seperti 'menembak kaki kita sendiri'.

Tanpa ada kesungguhan untuk memetakan kekuatan yang kita miliki, kita bukan hanya kehilangan kesempatan. Di bawah tekanan ekonomi yang lebih berat tahun depan, kita akan kesulitan untuk bisa bangkit. Sekarang ini kita mulai mendengar rencana beberapa pengusaha yang bergerak di industri kertas, pakaian, baja, dan plastik untuk mengurangi produksi.

Kita harus ingat, menghidupkan kembali industri yang mati itu tidak mudah. Bukan hanya kita kesulitan untuk kembali menemukan pasar, mencari pasokan bahan baku juga tidaklah mudah. Belum lagi pegawai yang harus kehilangan lapangan pekerjaan dan mereka harus mencari pekerjaan baru.

Di sisi lain, Presiden Jokowi begitu bersemangat untuk mengegolkan UU Omnibus berkaitan dengan pembukaan lapangan pekerjaan. Apa yang kita lihat hari-hari ini berbeda dengan semangat besar yang hendak kita bangun dan juga dengan ekonomi dunia yang sedang berjuang untuk menggeliat.

Janganlah kita menjadi negara yang aneh di antara negara-negara dunia. Apalagi kalau kita menjadi negara yang ikut terpuruk ketika perekonomian dunia terpuruk dan kita tetap terpuruk ketika perekonomian global sedang membaik. Ironis kalau itu terjadi!

 



Berita Lainnya
  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)