Headline

SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

UN ini Membunuhku

Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group
14/12/2019 05:10
UN ini Membunuhku
Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

"UJIAN nasional membunuh esensi belajar sebagai proses berkelanjutan...."

Begitu penggalan editorial harian ini edisi Jumat, 13 Desember 2019. Disebut membunuh esensi belajar sebagai proses berkelanjutan karena ujian nasional atau UN seperti menjadi pengadilan terakhir untuk mengukur kapasitas siswa.

Karena dianggap pengadilan terakhir, kita berusaha lolos darinya. Caranya seringkali tak masuk akal, tidak rasional. Tengoklah, misalnya, murid satu madrasah ibtidaiyah di Magetan, Jawa Timur, melakukan ritual basuh kaki ibu dan cium kaki ibu sebelum mengikuti UN 2012. Padahal, yang ada di telapak kaki ibu itu surga, bukan soal-soal UN. UN membunuh akal sehat.

Lantas banyak juga yang ingin lolos UN dengan jalan instan, cara-cara curang, mulai menyontek sampai membeli bocoran soal. Kecurangan seringkali dilakukan secara kongkalikong antara sekolah, guru, orangtua, dan siswa. Cara-cara instan ini jelas tidak bermoral. UN 'mengajarkan' kita korup. Sewaktu jadi siswa menyontek, ketika dewasa jadi koruptor. UN membunuh moralitas dan integritas.

Tak sedikit siswa tertekan menghadapi UN. Beberapa siswa diberitakan meninggal karena depresi atau sakit gara-gara tertekan menghadapi UN.

Pada 2007, siswa satu SMP negeri di Semarang, Jawa Tengah, meninggal karena penyakit jantung dan sesak napasnya kambuh setelah mengikuti UN matematika. Pada 2008, siswa SMP negeri di Madiun, Jawa

Timur, mendadak pingsan seusai mengerjakan soal UN dan kemudian dinyatakan meninggal karena sakit jantung. Pada 2010, seorang siswa SMK di Cilacap, Jawa Tengah, pingsan dan kemudian meninggal setelah

mengerjakan UN matematika.

UN juga dianggap menjadi penentu derajat diri. Lulus UN naiklah derajat kita. Tak lulus UN, runtuhlah derajat kita. Tak sedikit siswa tertekan

karena takut gagal UN atau karena betul-betul tak lulus UN lalu bunuh diri. Pada 2013, misalnya, seorang siswa SMP di Depok, Jawa Barat,

ditemukan meninggal gantung diri diduga karena takut gagal UN. Pada 2008, seorang siswa SMK di Waingapu, Sumba Timur, NTT, bunuh diri karena dua kali gagal UN.

Polisi memang tak bisa menginterogasi para korban meninggal atau bunuh diri untuk memastikan apakah mereka mengambil nyawa sendiri karena UN.

Akan tetapi, dari keterangan orangtua atau orang-orang terdekat diduga kuat mereka meninggal atau menghabisi nyawa sendiri karena UN. UN telah membunuh kehidupan.

Sebagai satu proses berkelanjutan, siswa semestinya merdeka dalam melanjutkan proses belajar mereka. Namun, UN seperti koridor yang mengantarkan siswa ke satu arah yang sama, yakni kemampuan kognitif. UN memproduksi ilmu pengetahuan, bukan ilmu pengertian. Siswa tahu, tetapi tidak paham. UN seperti menumbuhkan pengetahuan, tetapi membunuh pengertian dan pemahaman.

Ketika pendidikan diarahkan ke satu tujuan yang sama melalui UN, itu artinya UN seperti memenjarakan, tidak membebaskan. Pendidikan semestinya membebaskan, seperti kata filosof pendidikan Paolo Freire.

Pendidikan yang tidak membebaskan sangat tidak demokratis. Menurut filosof pendidikan John Dewey, masyarakat demokratis dapat terwujud hanya melalui pendidikan yang demokratis pula.

Sejalan dengan Dewey, Franklin D Roosevelt mengatakan demokrasi akan gagal kecuali mereka yang mengekspresikan pilihan mereka disiapkan melalui pendidikan supaya memilih secara bijak. "Oleh karena itu, penjaga sesungguhnya demokrasi tiada lain pendidikan," kata Roosevelt.

Dengan perkataan lain, UN membunuh demokrasi kita. Kita khawatir sistem pendidikan kita tak cukup siap untuk mengantarkan Indonesia dari negara

yang sedang berada pada transisi demokrasi menjadi negara demokrasi sebenar-benarnya.

Kita menyambut positif kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim yang memodifikasi ujian menjadi asesmen kompetensi dan survei karakter. Asesmen dan survei itu dilaksanakan di tengah bukan di

ujung setiap jenjang pendidikan, yakni di kelas 4 untuk setingkat SD, kelas 8 untuk setingkat SMP, dan kelas 11 untuk setingkat SMA.

Dengan begitu, semua yang terlibat dalam proses pendidikan masih punya waktu untuk memperbaiki dan meningkatkan kompetensi serta karakter siswa. Ujian bukan pengadilan terakhir. Model seperti ini benar-benar menghidupkan pendidikan sebagai proses berkelanjutan.

Menteri Nadiem Makarim menjadikan asesmen kompotensi dan survei karakter sebagai bagian dari Pendidikan Merdeka Belajar. Kita berharap pendidikan kita kelak menjadi pendidikan yang membebaskan, memerdekakan, dan mendemokratisasikan.



Berita Lainnya
  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)