Headline

Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.

Kursi Wamen Rasa Permen

Saur M Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
04/11/2019 05:10
Kursi Wamen Rasa Permen
Saur M Hutabarat Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

KENAPA kita kalah bersaing? Karena dunia pendidikan kita dapat membunuh kreativitas.

Maka, inovator seperti bos Gojek yang lulusan Harvard Business School diperlukan menjadi menteri pendidikan. Demikian jawaban saya yang mengandung dramatisasi atas pertanyaan kenapa bukan yang bergelar profesor doktor yang menjadi mendikbud.

Mengangkat menteri hak prerogatif presiden. Untuk itu, kiranya perlu dilihat, di manakah 'letak' sang presiden, dalam kategori otak kiri dan otak kanan.

Presiden Jokowi lebih ke otak kanan, sedangkan Presiden SBY lebih ke otak kiri. (SH? Saya suka otak-otak).

Otak kanan ialah otak yang mengedepankan kreativitas, inovasi. Otak kiri ialah otak 'matematik'. Tidak banyak orang yang keduanya sama-sama menonjol.

Karena Jokowi lebih ke otak kanan, tidak usah heran para menteri diperkenalkan seraya duduk di tangga di depan istana. Mereka berkemeja batik.

Lihatlah para wakil menteri. Mereka juga datang ke istana berkemeja putih. Ketika diperkenalkan, tetap berhem putih, tapi berdasi merah. Mereka pun duduk di tangga depan istana.

Kita tidak tahu persis apa yang terjadi di otak kanan Jokowi sehingga membedakan pakaian menteri dan wakil. Corak batik ada yang mengandung makna, bahkan filosofis. Itu dipakai menteri. Warna putih berdasi merah, yang dipakai wakil menteri, rasanya tidak ada filosofinya, kecuali dikarang-karang.

Sebagai perbandingan, lihatlah trainee di restoran atau di hotel yang berkemeja putih berdasi hitam. Bedanya dengan wakil menteri, warna dasinya dan tentu harganya.

Di mata saya, para wakil menteri itu dicandrakan lebih sebagai public managers. Mungkin melalui perbedaan pakaian ketika diperkenalkan itu, Presiden Jokowi memang bermaksud membuat semacam kontras agar para wamen tahu batas kewenangan. Jangan sampai terjadi wamen 'rasa' menteri, sebaliknya menteri 'rasa' wamen.

Terus terang, tanpa sarkasme, saya gagal paham kenapa Presiden Jokowi mengangkat begitu banyak wakil menteri. Sarkasme itu ialah wamen seperti bagi-bagi permen.

Jangan menggeneralisasi. Beberapa wamen ialah profesional yang berkarier di bidangnya. Mereka tahu betul apa yang bakal dikerjakannya di kementerian. Selebihnya kiranya 'permen' buat mereka yang telah berkeringat supaya tidak ngambek. Ada yang partainya tidak punya kursi di DPR kebagian kursi wamen. Ada yang menyebut dirinya organisasi relawan tidak jadi membubarkan diri karena pentolannya diangkat menjadi wamen.

Harga permen memang murah. Dalam perkara mengangkat wamen sampai 12 orang, maaf, terasa betapa 'murahan' hak prerogatif presiden.

Pernyataan itu tentu terasa keras. Lebih baik kritik keras dilayangkan di ruang publik sedini mungkin di awal kabinet baru daripada nanti Presiden kembali 'murahan' berkali-kali merombak kabinet dengan alasan sang wamen tidak cakap bekerja.

Kepada para wamen yang merasa mendapat 'permen', buktikan bahwa otak kanan Presiden Jokowi tidak salah pilih.



Berita Lainnya
  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.

  • Tuas Rem Trump-Khamenei

    03/2/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di bibir jurang.

  • Etika Mundur di Pasar Modal

    02/2/2026 05:00

    PATUT dicatat sebagai rekor nasional. Bila perlu dengan tinta tebal. Hanya dalam satu hari, lima pejabat otoritas keuangan mengundurkan diri.

  • Keadilan dalam Sepotong Es Gabus

    30/1/2026 05:00

    HUKUM dan keadilan mestinya berada dalam satu tarikan napas. Hukum dibuat untuk mewujudkan keadilan.

  • Kejar Jambret Dikejar Pasal

    29/1/2026 05:00

    DI negeri ini, keadilan tak jarang tersesat di tikungan logika dan persimpangan nalar.

  • Noel agak Laen

    28/1/2026 05:00

    IMANUEL 'Noel' Ebenezer memang bukan sembarang terdakwa korupsi.

  • Mudarat Paling Kecil

    27/1/2026 05:00

    RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.

  • Pengawas Mati, Korupsi Tumbuh

    26/1/2026 05:00

    KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.

  • Rupiah Vs IHSG

    23/1/2026 05:00

    ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.

  • OTT Tepat Waktu

    22/1/2026 05:00

    BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.

  • Pesta Elite, Nestapa Rakyat

    21/1/2026 05:00

    REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk. 

  • Vietnam Melaju Kencang

    20/1/2026 05:00

    KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.

  • Suara Profesor 15 Januari

    19/1/2026 05:00

    SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.

  • Setan pun Minder

    15/1/2026 05:00

    INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.

  • Regenerasi Koruptor

    14/1/2026 05:00

    Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.