Headline

RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.

Mirat Demokrasi: Berebut Kursi

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
12/7/2019 05:30
Mirat Demokrasi: Berebut Kursi
Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

INI perihal demokrasi kita hari ini. Baik yang bersekutu dalam satu perahu maupun yang berseteru di seberang perahu, keduanya tak punya rasa malu. Keduanya punya persoalan serius dalam soal kepantasan bertakhta; dalam perihal beretika.

Yang bersekutu, berkoalisi dengan partai berkuasa, secara terbuka berebut kursi menteri. Tak malu menyebut jumlah yang seharusnya menurut mereka. Bahkan, sebuah partai minta jatah menteri dibedakan dengan ormas. Meskipun kita tahu, partai dan ormas itu berkelindan atawa berjalinan dalam soal relasi. Amat dekat. Seperti gula dan niranya.

Benar dalam politik tak ada makan siang gratis, there is no free lunch. Namun, mereka yang ugal-ugalan berebut kursi menteri, sama artinya mem-faith accompli sang empunya hak prerogratif itu. Presiden dibuat tak enak hati dengan sodoran-sodoran serupa itu.

Bukankah omongan mereka hendak memperkuat sistem presidensial supaya roda pemerintahan efektif? Efetivitas pemerintahan tak cuma banyaknya dukungan di parlemen, tapi juga karena para menterinya cakap dan punya dedikasi. Mestinya, biarlah presiden memilih yang terbaik.

Relawan juga punya tabiat yang tak jauh. Agaknya banyak di antara mereka sudah memantas-mantas diri di mana akan 'berkursi'. Komisaris BUMN atau yang lain? Jika tak diberi kursi, bisa jadi mereka ngamuk. Mereka mendatangi Istana, mencak-mencak, seraya pamer jasa. Seperti pernah terjadi pasca-Pemilu 2014. Relawan yang ikhlas berbuat tanpa pamrih, tapi berebut kursi tanpa risi.

Sementara itu, para seteru (yang kalah pemilu), melanjutkan perang dengan terus mendeligimitasi yang menang. Sebagian cerdik pandai yang terus memaki Mahkamah Konstitusi (MK), ialah para perapuh demokrasi juga. Mereka tak mafhum aturan main, bahwa putusan MK harus jadi akhir diskusi diganti jadi implementasi. Final dan mengikat. Begitulah amanat tersurat dalam konstitusi.

Termasuk perapuh ialah barisan sakit hati yang semula satu perahu. Mereka sebelumnya para anggota kabinet Jokowi. Setelah di-reshuffle, cepat berubah tempat jadi 'oposisi'. Mereka di seberang dan menantang. Mereka tak peduli jejak digital: apa yang mereka katakan dahulu dan kini.

Mereka sebelumnya fasih bicara hak prerogratif presiden. Namun, ketika kursi menteri diambill pemiliknya, mereka ngamuk sejadi-jadinya. Ujung-ujungnya kursi. Takhta. Bukan keikhlasan membangun negeri. Demi bangsa dan NKRI? Hanya slogan hampa makna!

Itulah paras demokrasi kita hari ini. Itulah tabiat elite dalam mirat, dalam cermin demokrasi kita. Kelasnya masih sebatas berebut takhta. Kegaduhan hingga keterbelahan kita yang menguras energi tak lepas soal perebutan kursi itu. Negeri ini memang senyatanya surplus politisi, tapi defisit negarawan.

Presiden terpilih Jokowi sudah memaklumatkan apa yang akan ia lakukan periode kedua atau lima tahun mendatang. 'Tanpa beban' akan ia melakukan hal terbaik bagi negara. Artinya, ia tak akan banyak kompromi (politik) jika yang ia yakini memang terbaik. Ini butuh bukti. Jangan terulang seperti pada 2014, ia berjanji bikin kabinet ramping, nyatanya gemuk serupa kerbau bunting.

Di periode kedua, Jokowi justru 'harus penuh beban' membuat demokrasi makin berkualitas. Ia bertanggung jawab lahirnya banyak negarawan. Ia tak boleh tersandera 'hutang budi' politik. Sebaliknya, mengikhlaskan Jokowi memilih sosok terbaik duduk di kabinet untuk memajukan Indonesia, ialah juga kontribusi terbaik partai politik bagi negara.

Tantangan serius demokrasi kita ialah mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia yang masih 'lampu merah'. Ini butir Pancasila yang terus 'dianaktirikan' dibandingkan sila-sila yang lain. Karena itu, Jokowi harus menjauhkan diri dari praktik demokrasi sebatas bagi-bagi kursi. Orientasinya haruslah demokrasi untuk kemakmuran dan keadilan bangsa.

Alangkah cangkat (dangkal) memaknai dukungan berarti bebas berebut takhta. Berebut kursi. Para pemilik takhta kian sejahtera, sedangkan rakyat (para pemilih itu) semakin dalam didera derita.

 

 



Berita Lainnya
  • Tuas Rem Trump-Khamenei

    03/2/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di bibir jurang.

  • Etika Mundur di Pasar Modal

    02/2/2026 05:00

    PATUT dicatat sebagai rekor nasional. Bila perlu dengan tinta tebal. Hanya dalam satu hari, lima pejabat otoritas keuangan mengundurkan diri.

  • Keadilan dalam Sepotong Es Gabus

    30/1/2026 05:00

    HUKUM dan keadilan mestinya berada dalam satu tarikan napas. Hukum dibuat untuk mewujudkan keadilan.

  • Kejar Jambret Dikejar Pasal

    29/1/2026 05:00

    DI negeri ini, keadilan tak jarang tersesat di tikungan logika dan persimpangan nalar.

  • Noel agak Laen

    28/1/2026 05:00

    IMANUEL 'Noel' Ebenezer memang bukan sembarang terdakwa korupsi.

  • Mudarat Paling Kecil

    27/1/2026 05:00

    RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.

  • Pengawas Mati, Korupsi Tumbuh

    26/1/2026 05:00

    KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.

  • Rupiah Vs IHSG

    23/1/2026 05:00

    ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.

  • OTT Tepat Waktu

    22/1/2026 05:00

    BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.

  • Pesta Elite, Nestapa Rakyat

    21/1/2026 05:00

    REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk. 

  • Vietnam Melaju Kencang

    20/1/2026 05:00

    KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.

  • Suara Profesor 15 Januari

    19/1/2026 05:00

    SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.

  • Setan pun Minder

    15/1/2026 05:00

    INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.

  • Regenerasi Koruptor

    14/1/2026 05:00

    Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.

  • Angka Tiga

    13/1/2026 05:00

    PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).

  • Burung Diadili, Bencana Dibiarkan

    12/1/2026 05:00

    PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah