Headline

Gara-gara Yaqut, Noel ikut ajukan jadi tahanan rumah.

Agar Zonasi tak Mati Suri

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
02/7/2019 05:30
Agar Zonasi tak Mati Suri
Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group(MI)

'BIARLAH anjing menggongong kafilah berlalu'. Adagium ini tepat untuk menggambarkan pelaksanaan sistem penerimaan peserta didik baru (PPDB) berbasis zonasi. Kritik memang silih berganti, bertubi-tubi, tapi kebijakan yang bertujuan baik ini tak akan diurungkan. Ia jalan terus.

Salah satu kritik keras itu datang dari seorang pengajar UGM. Ia  mengirimkan surat terbuka kepada Presiden Republik Indonesia agar sistem zonasi dihentikan. Menurut sang dosen, sistem zonasi akan menurunkan kualitas pendidikan dan merampas kebebasan siswa memilih sekolah.

Zonasi, katanya, metode salah urus yang menjungkirbalikkan proses persaingan terbuka. 'Metoda zonasi ini superkonyol. Mohon Bapak Presiden memerintahkan Mendikbud untuk tidak ngotot menerapkan sistem zonasi dan segera menghentikannya', tulisnya.

Ombudsman Republik Indonesia (ORI) juga menilai metode zonasi ini miskin sosialisasi. Wajar jika muncul kegaduhan dalam implementasi. Mendikbud juga dinilai kurang berkomunikasi dengan Mendagri dan dinas-dinas di provinsi serta kabupaten/kota. Akibatnya, daerah kurang paham dengan kebijakan ini.  

Mendikbud Muhadjir Effendy bergeming. Ia akui kebijakan yang sudah berjalan sejak tiga tahun lalu itu tak berjalan mulus. Namun, menurut Muhadjir, sistem zonasi ialah cara paling tepat untuk pemerataan mutu pendidikan yang berkeadilan sosial. Selama ini sekolah-sekolah favorit dalam praktiknya eksklusif dan diskriminatif. Masyarakat di sekitar sekolah dengan prestasi biasa saja tak bisa. Ia dekat dalam jarak, tapi jauh dalam relasi.   

Sistem zonasi diatur dalam Permendikbud Nomor 51 Tahun 2018. Pasal 16 menyebutkan, PPDB jalur zonasi paling sedikit 90%, jalur prestasi siswa paling besar 5%, jalur perpindahan orangtua/wali paling besar 5%. Peserta didik (SD, SMP, SMA, SMK) hanya bisa memilih salah satu jalur. Pemda dilarang membuka jalur PPDB selain yang diatur dalam Permendikbud ini.

Mendikbud pun merevisinya; jalur zonasi menjadi 80%, jalur prestasi 5%-15%, dan jalur perpindahan orangtua/wali 5%. Revisi ini pun hanya untuk sekolah yang masih menimbulkan kontroversi dengan PPDB. Bagi sekolah aman-aman saja, revisi itu tak diperlukan. Untuk menjamin keberlanjutan sistem zonasi yang meliputi 2.850 zona di seluruh Indonesia, pemerintah akan mengeluarkan peraturan presiden.

Indonesia yang luas dengan disparitas pendidikan yang tinggi antara kota vs desa, sekolah tempat kaum berada vs kaum miskin, sekolah unggulan vs sekolah pinggiran, tak mudah menerapkan sitem zonasi. Guru yang sudah merasa nyaman di sekolah tertentu akan gagap di sekolah yang baru. Guru dari sekolah pinggiran dipindah ke sekolah unggulan bisa menimbulkan cultural shock. Para orangtua yang punya anak berprestasi juga merasa gengsi dan khawatir menuntut ilmu di sekolah biasa.

Pendidikan yang berhasil mestinya bisa mengembangkan seluruh potensi siswa. Banyak kasus siswa yang potensinya di bidang tertentu mati karena tak ada yang menggali dan membantu mengembangkannya. Guru ditantang profesionalitas sekaligus dedikasinya. Guru yang tak punya girah untuk meningkatkan ilmu dan pengetahuannya niscaya akan ketinggalan kereta. Zonasi pun hanya menjadi barang basi.

Guru yang berhasil mestinya tak hanya menerima beres siswa yang memang sudah pilihan. Guru yang berhasil justru bisa membuat pintar anak-anak biasa. Karena itu, dalam sistem zonasi, juga ada redistribusi guru. Sudah seharusnya dalam meningkatkan mutu pendidikan, guru bagus dari sekolah bagus dirotasi ke sekolah biasa, agar sekolah itu meningkat kualitasnya.  

Menurut Muhadjir, zonasi bagi guru dilakukan berdasarkan tour of duty dan tour of area sesuai UU Aparat Sipil Negara (ASN). Semua guru wajib memiliki pengalaman di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar). Guru yang sudah dua sampai lima tahun harus dirotasi. Wawasan keindonesiaan akan memperkaya pengalaman guru.

Jika dilaksanakan secara serius, sistem zonasi akan menjadi jawaban masa depan. Dengan bersekolah sesuai sistem zonasi, siswa akan lebih mengenal lingkungan terdekatnya. Jarak di sekolah yang dekat pasti juga lebih ekonomis secara biaya dan tenaga. Ini sehat bagi siswa dan para orangtua.

Namun, penyakit bangsa ini mesti disembuhkan dahulu, yakni buruknya komunikasi antarinstitusi. Kita juga butuh pengawasan dan evaluasi yang serius. Di era otonomi daerah yang melahirkan raja-raja kecil dibutuhkan intensitas dan kualitas komunikasi yang tak biasa. Ini agar sistem zonasi berjalan dan berkembang; tidak mati suri karena buruknya komunikasi. Pastilah ketika pemerataan pendikan sudah terjadi, sistem zonasi niscaya tak diperlukan lagi.

 



Berita Lainnya
  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita