Headline

Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.

Petarung dan Pemenang

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
16/5/2019 05:30
Petarung dan Pemenang
Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group(MI/ebet)

ADA fakta psikologis yang menarik hati. Fakta itu ialah semakin bertambah orang yang membahasakan dirinya sebagai petarung.

Terkadang sebutan petarung itu disertai dengan predikat 'sejati'. Sang diri pun bertambah kukuh menjadi petarung sejati.

Kata 'sejati' kiranya kata yang kerap digunakan justru di masa kita menjadi salah satu negara demokrasi terbesar di dunia. Di masa kita hidup dalam sistem otoriter, di masa Orde Baru, rasanya kata 'sejati' tidak 'eksis'. Apa yang bikin dia kini eksis?

Barangkali karena kita tidak lagi memercayai ada diri yang asli sehingga kita perlu menyebut 'diri sejati'. Untuk meyakinkan khalayak pembaca, misalnya, kita memulai kalimat dengan "Sejatinya..." yang menggantikan "Sesungguhnya...".

Dalam hal petarung rupanya ada petarung palsu, atau petarung kulit luar tok, sehingga orang perlu membahasakan diri sebagai 'petarung sejati'. Inilah petarung benaran, luar dan dalam. Bukan hanya kulitnya, melainkan juga isinya.

'Petarung', sejati ataupun palsu, akan kehilangan makna bila tidak dikaitkan dengan 'pemenang'. Petarung tidak hidup di alam angan-angan, atau di alam nyata berupa shadow boxing, tapi tidak pernah naik ring.

Jarak petarung dan pemenang pendek. Sekalipun jaraknya pendek, petarung belum tentu menjadi pemenang. Saya pikir itulah yang dialami Liverpool di Liga Primer. Sejauh ini, hingga musim ini yang punya kedua-duanya (petarung dan pemenang) ialah Manchester City.

Pemenang bisa ditumbangkan, bahkan dengan dramatis, bila kehilangan karakter petarung. Hal yang jarang terjadi karena itu sangat menggegerkan bila sampai terjadi. Hemat saya, itulah yang diderita Barcelona, sang pemenang, yang ditumbangkan Liverpool, sang petarung, di Liga Champions. Barca telah unggul 3-0 di kandang, tapi kemudian dihabisi 4-0 dalam laga tandang. Kenapa? Karena Barca kehilangan jiwa petarung. Maaf, di Anfield dia menjadi ayam sayur.

Contoh lain bagaimana Ajax, sang pemenang, ditumbangkan Tottenham Hotspur, sang petarung, juga di Liga Champions. Ajax pun telah lebih dulu unggul 1-0 di kandang lawan. Bahkan, pada mulanya membuat kejutan dengan mudah menyikat Tottenham 2-0 di Stadion Johan Cruyff. Dengan agregat 3-0 seperti mustahil Tottenham menjadi pemenang. Kenyataannya kemudian Ajax ditumbangkan dengan skor 3-2. Kendati agregat 3-3, berkat lebih banyak menggasak gol tandang, Tottenham yang maju ke final berhadapan dengan Liverpool.

Saya pikir kehebatan karakter petarung dan kehebatan karakter pemenang itulah yang sekarang kita saksikan di Liga Primer. Hasilnya, untuk pertama kali empat klub Inggris (Liverpool, Tottenham, Chelsea, dan Arsenal) yang tampil di final kejuaraan Eropa.

Kehebatan karakter petarung dan karakter pemenang itulah pula yang bikin Manchester City hanya unggul satu poin saja daripada Liverpool untuk menjadi juara Liga Primer. Itu pun harus menanti sampai detik terakhir musim ini.

Kata Juergen Klopp, pelatih Liverpool, tidak mudah mengalahkan City dengan kekuatannya yang sekarang dan keuangan yang dimilikinya. Sebaliknya, Pep Guardiola, pelatih City, berterima kasih kepada Liverpool yang membuat level mereka musim ini lebih tinggi daripada musim sebelumnya.

Demikianlah petarung dan pemenang saling menghormati. Hemat saya, itulah pula yang hendaknya bersama kita wujudkan dalam pilpres.



Berita Lainnya
  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.