Headline

Pemudik diminta manfaatkan kebijakan WFA.

Melawan Kebiadaban

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
19/3/2019 05:30
Melawan Kebiadaban
()

SERUPA luka pembunuhan biadab di dua masjid Selandia Baru, mungkin tak gampang disembuhkan. Ibarat noda, selekeh itu juga tak mudah dibasuh. Ia luka yang dalam; aib yang mencoreng negeri teraman di dunia. Begitu predikat negeri ini yang kita tahu. Kini negeri ini merasakan sejarah kekerasan teroris paling kelam.

Banyak negeri mewanti-wanti agar rakyatnya berhati-hati melancong ke ‘Negeri Kiwi’. Negeri berpenduduk lima juta jiwa itu (2019) semula tak hanya aman, tapi juga paling bahagia warganya. Pascapenembakan brutal Jumat lalu, yang mematikan 50 jemaah di Masjid Al Noor, Christchurch, dan Masjid Linwood Ace, semua negeri punya potensi tak aman. Terorisme menjadi hantu negeri mana pun. AS, Prancis, Inggris, dan Belgia sudah merasakan kebrutalan teroris.

Serangan di Selandia Baru dilakukan ekstremis sayap kanan, Brenton Tarrant. Pemuda berusia 28 tahun asal Australia ini membunuh dengan kebencian yang menggumpal. Ia antiimigran, tepatnya antikemanusiaan. Biadabnya lagi, ia menyiarkan langsung aksi sadis itu di akun Facebook-nya.

Merujuk manifesto ‘The Great Replacement’ yang dibuatnya, terungkap Tarrant merencanakan aksi kejinya sejak dua tahun lalu.
"Kemudian menetapkan lokasi di Christchurch dalam tiga bulan terakhir," katanya seperti dikutip Independent.ie. Aksinya terinspirasi Anders Breivik, ekstremis yang menyerang kantor pemerintah di Oslo, Norwegia, pada 2011. Ia meledakkan bom mobil.

Jelas dan pelaku teror yang selama ini dilekatkan pada hanya agama tertentu, Islam, misalnya, jadi kehilangan relevansinya. Pelaku teror sesungguhnya mereka yang tak memahami esensi agama bagi kehidupan, yakni mengasihi, dari mana pun latar belakang agamanya.

Para pemimpin dunia mengutuk pembantaian sadis Tarrant. "Serangan yang dilakukan ketika orang-orang tengah berkumpul dalam damai, dalam ibadah, sungguh tindakan kejam," kata Presiden Rusia Vladimir Putin.

Perdana Menteri Inggris Theresia May mengungkapkan, hati dan pikirannya bersama mereka yang menjadi korban tindakan laknat itu. "Serangan yang mengerikan ini indikasi serius meningkatnya retorika kebencian, xenofobia, serta merebaknya islamofobia di negara yang dikenal dengan kebersamaannya," kata Imam Besar Al Azhar Sheikh Ahmed al Tayeb.

Indonesia juga negeri yang berkali-kali diserang teroris. Berbagai bom bunuh diri beberapa kali terjadi. Yang terbaru di Sibolga, Sumatra Utara. Di negeri kita aksi kejam itu bahkan melibatkan perempuan dan anak-anak. Aksi teror yang melibatkan ibu rumah tangga di Sibolga, Soimah, kata Kapolri Jenderal Tito Karnavian, pelakunya memercayai jalan mudah menuju surga.

Para ulama dan pendakwah tentu harus meyakinkan umatnya, bahwa tak ada pintu surga terbuka bagi pembunuh sesama saudara, sesama manusia. Terlebih membunuh orang-orang tak berdosa.

Negara juga harus terus hadir meyakinkan warganya bahwa Indonesia ialah negara kesepakatan (Darul Ahdi). Negara Pancasila, sebagai konsensus nasional sebagai (Darul Ahdi) dan (Darus Syahadah), yaitu pembuktian dan kesaksian untuk menjadi negara yang aman dan damai. Harus kita jaga dan kita rawat.

Negara pastilah harus dikritisi, dikontrol, agar pemberantasan terorisme tak melanggar aturan. Namun, jika ada yang terkesan, bahkan terbukti berpihak pada aksi antikemanusiaan ini, sungguh perlu disesalkan. 

Kita pun menyesalkan Senator Fraser Anning dari Australia yang justru membela sang teroris asal negerinya dan menyudutkan umat muslim. Aih-alih bersimpati kepada korban, ia justru menyalahkannya. Sikap Anning  justru menyuburkan kebencian, intoleransi, dan pembunuhan keji.

Kita tahu pelaku teror tak surut dengan kutukan. Kita mafhum teroris justru mengharapkan ketakutan global. Semakin dunia mengutuk, semakin brutal mereka beraksi. Semakin ngeri dunia, kian bernyali mereka. Itu sebabnya, seluruh dunia mesti seia sekata bahwa terorisme bukan untuk ditakuti, melainkan dihadapi. Diantisipasi awalnya. Dilawan dan ditumpas akhirnya.



Berita Lainnya
  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.