Leader’s Camp

Penulis: Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group Pada: Rabu, 13 Mar 2019, 05:30 WIB podium
Leader’s Camp

SEBANYAK 180 pejabat Kementerian Badan Usaha Milik Negara dan pimpinan tertinggi BUMN selama tiga hari berkumpul di sekolah staf dan pimpinan Kepolisian Republik Indonesia di Lembang, Jawa Barat. Termasuk Menteri Rini Mariani Soemarno diharuskan untuk mengikuti BUMN Leader’s Camp.

Baru pertama kali pucuk pimpinan BUMN berkumpul dan mengikuti berbagai program, mulai ceramah, diskusi, hingga team building. 

Menteri BUMN ingin agar seluruh pimpinan BUMN memahami, menginternalisasikan, dan mengaplikasi prinsip ‘one nation, one vision, and one family to excellence’ yang menjadi arah BUMN ke depan.

Rini melihat bagaimana ketika masih berada di luar Kementerian BUMN, sumber daya yang dimiliki BUMN tidak dioptimalkan untuk kepentingan bangsa dan negara. BUMN tidak bersinergi di antara mereka, tetapi justru dengan pihak lain yang manfaatnya tidak dinikmati BUMN dan juga masyarakat.

Selama lebih empat tahun memimpin Kementerian BUMN, Rini mencoba membangun sinergi di antara perusahaan pelat merah. Ternyata BUMN mampu melakukan sinergi dan hasilnya dirasakan negara dan masyarakat. Apa ukurannya? Hasil audit keuangan menunjukkan aset BUMN 2018 mencapai Rp8.200 triliun. Keuntungan yang didapatkan tahun ini juga tumbuh mencapai Rp200 triliun.

Dengan aset sebesar Rp8.200 triliun, BUMN benar-benar menjadi tulang punggung perekonomian nasional sebab dengan total aset itu berarti BUMN menopang sekitar 60% produk domestik bruto Indonesia. Keuntungan yang dibukukan BUMN menghasilkan return on assets sekitar 2,5%, sebuah ukuran yang tidak buruk.

Rini menyadari, capaian yang diraih tahun lalu bukan berarti BUMN sudah sempurna. Masih banyak perbaikan yang harus dilakukan. Salah satunya ia mendorong sinergi yang lebih kuat di antara BUMN-BUMN agar lebih signifikan memberikan kontribusi kepada pertumbuhan ekonomi nasional dan kesejahteraan rakyat.

Untuk membuat BUMN terus tumbuh mencapai aset Rp10 ribu triliun dan keuntungan Rp225 triliun tahun ini, pimpinan BUMN harus memiliki ‘brand engagement’. Mereka harus memahami siapa dirinya, apa tujuan organisasi yang dipimpinnya, siapa ‘saudara’ yang bisa bekerja sama untuk bertumbuh, dan bagaimana membangun sinergi yang semakin memperkukuh BUMN.

Sekarang ini masih ada inefisiensi karena pengembangan usaha yang dilakukan tanpa perencanaan yang matang. Salah satu contohnya ialah bisnis air kemasan. 

Setidaknya ada sembilan produk air kemasan yang diproduksi anak-anak perusahaan BUMN. Karena skalanya yang kecil-kecil, akhirnya bisnis air kemasan bukan hanya tidak dikenal dan kalah bersaing dengan produk perusahaan swasta, melainkan juga bisa-bisa menjadi beban bagi BUMN itu sendiri.

Dengan mengikuti ‘Leader’s Camp’ diharapkan muncul ide-ide yang inovatif dan bisa melahirkan bisnis yang benar-benar signifikan bagi pertumbuhan BUMN. Ke depan BUMN jangan lagi menjadi ‘raja-raja’ kecil, tetapi menjadi unit bisnis yang benar-benar ikut menggerakkan perekonomian nasional.

Kita tentu mengharapkan BUMN-BUMN yang semakin profesional dan tumbuh semakin besar. Akan tetapi, secara bersamaan tentu kita juga tetap mengharapkan kontribusi dari swasta. Pembangunan negeri ini harus dilakukan semua komponen bangsa yang memang mencintai negeri ini.

Kita tidak harus mendikotomikan antara BUMN dan swasta. Keduanya memiliki peran yang sama untuk memajukan Indonesia. Kita membutuhkan kehadiran keduanya agar tercipta kompetisi yang sehat.

Semua negara di dunia membangun dengan cara yang sama. Mereka memiliki sovereign wealth fund yang ditanamkan kepada berbagai kegiatan bisnis yang menguntungkan. Namun, pada saat yang bersamaan tumbuh perusahaan swasta yang ikut mempercepat mesin ekonomi negara.

Dengan fleksibilitasnya dalam mengembangkan usaha, swasta bisa menjadi tempat belajar bagi BUMN. Kita bisa melihat kelompok usaha, seperti Astra, Barito Pacific, Sinar Mas, Salim Group, Djarum, Bakrie, dan CT Corp, yang menggurita baik di dalam maupun luar negeri. Perusahaan swasta bisa bebas kapan saja masuk ke pasar modal untuk mengembangkan usaha, sedangkan BUMN harus mendapat persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat untuk bisa menarik dana dari masyarakat.

Sekarang dengan BUMN yang semakin profesional, kerja sama antara BUMN dan swasta bisa lebih produktif. Tidak perlu lagi ada prasangka ‘siapa memanfaatkan siapa’, tetapi bagaimana memberikan manfaat nyata bagi kemajuan Indonesia.

Kita memang sedang memasuki proses yang baru. Perubahan paradigma kadang membutuhkan waktu sebelum bisa dipahami secara benar oleh kita semua. 

Sepanjang kita berangkat dengan pikiran yang lebih terbuka, hati yang terbuka, dan kemauan yang terbuka, Indonesia mempunyai potensi untuk menjadi besar. Meminjam istilah Pemimpin Tiongkok, Deng Xiaoping, “tidak peduli kucing itu warnanya hitam atau putih, yang penting bisa menangkap tikus.”
 

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More